
Aurora
Enam hari cuti Fatih hanya dihabiskan mereka dengan bermalas-malasan di apartemen. Fatih sempat mengajaknya ke puncak, atau melancong ke Bandung, yang dekat-dekat, tapi ia tolak.
Alasannya dedek bayi cuma ingin tidur, makan lalu tidur lagi. Jadilah enam hari itu mereka hanya tidur-tiduran, main game, nonton Netflix, mencoba menu baru masakan Fatih yang gagal, baca novel di platform bacaan online yang langsung dikomentari pedas oleh Fatih.
"Aku tebak ini author nya masih SMP, sok-sok an nulis adegan dewasa."
Ia langsung mengernyitkan dahi, " Abang kalo disuruh nulis juga belum tentu bisa." cibirnya.
"Ya bukan gitu, adegannya gak berasa, gak ada feel-nya. Pasti yang nulis belum pernah ngerasain sungguhan."
"Memangnya Aoyama Gosho mesti melihat adegan orang dibunuh dulu sebelum nulis komik Conan?" Ia mendelik. "Bisa mati orang se-Jepang kalau harus ngerasain dulu baru nulis.
Dan Fatih hanya tertawa, "Serius, lucu aja bacanya."
"Jadi kita ngapain lagi nih?" Fatih mengalihkan bahan obrolan ketika matanya mulai melotot.
"Nonton.."
"Bosan..Pasti Korea lagi." Fatih menguap sambil merebahkan kepala tepat di pahanya. Dan ia hanya terkikik, yah enam hari ini ia sudah memaksa seorang Fatih yang cowok banget mesti ikut nonton drakor yang pingky sambil menahan debaran jantung yang menggila.
Walaupun hubungan mereka sudah selayaknya seperti suami istri kebanyakan, tapi tetap saja tubuh dan jantungnya belum bisa imun dari kontak fisik mendadak yang sering dilakukan Fatih.
Dan sekarang pria itu berguling di pahanya yang tengah duduk di sofa, dengan posisi miring dan memeluknya sambil membenamkan kepala ke perutnya yang membuncit.
Jemarinya perlahan terulur untuk menyusuri rambut Fatih. Pria itu mendongak dan tersenyum, manis. Kadang ia merasa he's too good to be true. Tidak ada orang sebaik dan semanis ini. Seakan-akan semua sikap positif yang diinginkan perempuan diambil semuanya dan menjadi satu dalam sosok laki-laki ini.
Ia sedikit kaget saat Fatih tiba- tiba bangkit duduk, lalu menyentuh kedua pipinya dan menangkupkan nya. Mata mereka berada pada satu garis lurus, sehingga ia bisa menatap Fatih dengan sepuasnya.
Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat bulu mata Fatih yang lentik, juga bintik cokelat di bola matanya. Juga, tahi lalat yang samar terlihat di pangkal hidung pria itu. Too much information. Namun, tak urung ia merekam detail itu ke dalam ingatannya.
"Bisa gak kita seperti ini setiap hari?" Fatih mengecup bibirnya sekilas.
"Bisa, abang gak usah kerja lagi." Kekehnya pelan, diikuti oleh cubitan Fatih pada hidungnya.
Besok Fatih mulai bekerja, dan tentu saja mereka takkan bisa seperti ini lagi untuk sementara waktu. Dan enam hari yang diberikan Fatih merupakan hari-hari terindah yang pernah ia miliki.
Ia telah merekam setiap detiknya, setiap momen yang mereka lewati, setiap obrolan yang diucapkan, setiap sentuhan yang Fatih berikan, setiap percintaan mereka yang seolah takkan pernah ada akhirnya.
Semua sudah direkam baik-baik olehnya untuk bisa diputar ulang saat ia merindukan laki-laki ini kelak.
__ADS_1
.
.
.
Kikan
Ia masih betah mondar-mandir di dalam kamar, entah sudah berapa jam. Berita yang di bawa Byan sungguh mengejutkannya walau ia telah menduga, tidak mungkin Fatih menikahi Aurora semendadak ini. Pria itu hanya ingin menyelamatkan Aurora, si sepupu.
Tunggu, apa orang tua mereka tahu kalau yang dikandung Aurora bukan milik Fatih. Akan sangat menyenangkan jika mereka belum tahu bukan. Ia rasa Fatih dan Rora pasti berbohong, dan tentu saja pernikahan mereka juga settingan.
Kepalanya tiba-tiba saja penuh, memikirkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Byan menginginkan Aurora dan ia tentu saja masih sangat mengharapkan Fatih. Good.
Mengapa tidak, ia mencoba membantu meluruskan semua keselahpahaman ini. Aurora bisa minta pertanggungjawaban dari keluarga Abi, toh keluarga Abi sangat menginginkan bayi dalam kandungan perempuan itu dan Fatih tentu saja bisa kembali bersamanya.
"Okay, think...think.... Kikan."
Kamu perlu main cantik, mengumpulkan semua fakta dan bukti yang ada, memanipulasi sedikit data lalu menyerang lawan hingga tak bisa berkutik lagi, ini sama mudahnya seperti saat bertanding di ruang sidang.
Buat lawanmu mati kutu hingga megap-megap bak ikan yang baru saja dikeluarkan dari kolam. Yah, so easy for you Kikan.
Byan belum tahu kalau Aurora telah menikah, dan dia tidak perlu memberitahu pria itu. Di lihat dari pembawaan dan bahasa tubuh, jelas Byan termasuk tipe yang tidak akan mau menyakiti seekor semut pun. Byan akan mundur jika melihat Aurora bersama Fatih, dia yakin itu.
"Why...?"
"Temui langsung orang tuanya."
"Orang tua Aurora?"
"Yes, sebab bagaimanapun Abi telah menghamili anak mereka, dan bentuk pertanggungjawaban dari keluarga Abi, dengan kamu yang datang ke mereka, meminta Aurora baik-baik."
"Orang tua Aurora sudah tau gadis itu hamil?" Byan menatapnya lekat-lekat.
"Jelas tahu kurasa, ini sudah jalan empat bulan, tidak mungkin mereka tidak menyadari anak mereka hamil. Dan lagi, semua pasti baik-baik saja, buktinya Aurora masih di dekat keluarga nya, berarti orang tuanya menerima kondisi gadis itu."
Byan mengangguk pelan, " Kamu benar, aku mesti meminta Aurora secara baik-baik ke orang tuanya."
Dan ia tersenyum, meneguk minumannya sampai habis tak bersisa. Biarkan Byan melakukan bagian itu, dan ia melakukan bagiannya. Ia bahkan tak sabar menunggu esok, melihat bagaimana reaksi gadis itu.
.
__ADS_1
.
.
Fatih
"Aku antar sampai bandara ya?"
"Gak usah, repot, capek juga nanti. Lagian udah di jemput taxy dari maskapai." Ia merapikan dasinya di depan cermin, diliriknya sebentar Rora memberengut di tepi ranjang.
"Ya udah, ikut. Tapi nanti pulang nya gimana?"
"Bisa naik taxy lain nanti."
Ia mengangguk pelan, melihat Rora bertingkah seperti itu sungguh menggemaskan, kalau saja tidak ada jadwal flight hari ini, tentu ia sudah menarik gadis itu untuk berbagi kehangatan dibawah selimut yang sama.
Tapi bunyi klakson taxy yang menjemputnya seolah mengembalikan ia ke dalam realita yang sesungguhnya bahwa ia harus bekerja, ada 278 orang dengan tujuan hidup yang berbeda yang mesti ia antar dengan selamat ke tempat yang sama hari ini.
"Ayo, itu taxinya udah jemput." Ia memeluk Rora sekilas kemudian mengecup wajah gadis itu di setiap inchi nya.
"Rora ikut?" Mama yang sudah berdiri di teras menoleh ke mereka.
"Mau antar sampai bandara ma."
"Loh nanti pulangnya gimana?"
"Gampang, bisa pesan taxy lagi ma." Gadis itu tersipu dan mama hanya tersenyum melihat mereka.
"Ya udah, hati-hati ya."
Bandara, tempat orang mengucapkan selamat datang, juga sekaligus selamat tinggal. Tempat orang bertemu, juga tempat berpisah, dan tempat mereka saling melambaikan tangan sambil tersenyum penuh arti.
"Tunggu aku pulang."
"Aku akan menunggumu."
Dan tentu saja tempat mereka saling berjanji.
To be Continue
happy reading yaaaa
__ADS_1
Selamat tahun baru Hijriah