The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Hi girl, open your heart, please


__ADS_3

Galih


Entah mendapat ide gila dari mana, seketika muncul diotaknya untuk mengajak Audrey, yah make a relationship. Tapi bukan ide buruk juga, mengingat mereka sama-sama terluka sebab hubungan masa lalu, apa salahnya saling membuka hati dan menerbitkan cinta yang baru bukan.


"Jadi..." Sengaja ia menggantung ucapannya menunggu Audrey mengambil keputusan.


"Aku-, ini-, ini terlalu cepat." Gagap gadis itu.


"Tidak masalah, kita bisa memulainya secara perlahan, step by step, cinta datang karena terbiasa."


"Sebegitu mudahnya?" Audrey mengeryitkan dahi.


"Mungkin." Ia pun tak yakin dengan apa yang diucapkan.


Lama, mereka hanya menatap lurus ke depan membiarkan Audrey yang tampak berfikir kemudian mengangguk pelan.


"Baiklah, tidak ada salahnya dicoba." Ucap gadis itu akhirnya.


"Good." Hela nafas lega kentara sekali keluar dari kedua lubang hidungnya.


"Jadi apa kita harus membuat semacam planning of the first proker (program kerja)."


"For our relationship?"


"Hahaaaaa harus begitu?" Audrey tertawa.


"Yap, hubungan ini harus memiliki tujuan kan, harus ada proker relationship goals nya dan itu adalah..."


Jelas Audrey penasaran, dapat dilihat dari ekspresi jidadnya yang berkerut dua belas.


"Ngajarin kamu naik motor sampai mahir." Decaknya penuh kemenangan.


"Apaan..."Audrey bertambah bingung.


"Udah, ikutin aja, orang bilang Tresno jalaran Soko kulino, mari kita mencobanya." Ia mengerlingkan mata jahil.


"Kalau tidak berhasil? maksudku bagaimana jika tiba-tiba ditengah jalan nanti, kakak menemukan tambatan hati yang sesungguhnya, atau aku..."

__ADS_1


"Pasti berhasil kalau kita berdua mau membuka hati satu sama lain, percayalah hmmm." Ia berusaha meyakinkan Audrey dan hatinya sendiri, tentu.


"I promise, I'll love you, so open your heart for me."


"Agar aku bisa masuk kedalamnya."


Audrey


Ia tidak bisa memejamkan mata barang sedetikpun sejak kak Galih turun dari Rooftop setelah bersikeras ingin mengantarnya sampai ke depan pintu. Padahal sudah membersihkan diri, sudah ganti pakaian, sudah minum susu, tapi tetap mata masih on siaga satu.


Ya Tuhan, hubungan macam apa ini, hatinya bahkan masih bercabang- cabang, terkadang baper dengan perlakuan manis kak Galih padanya namun juga belum bisa move on sepenuhnya dari sosok Bayu.


Oke Audrey, tidak ada salahnya mencoba membuka hati untuk orang baru. Jelas kak Galih pria sempurna untuk dijatuhi cinta dari setiap wanita, tampan maksimal, titisan dewa Yunani loh, mapan dengan profesi keren dan karier yang menjanjikan serta yang paling utama adalah hati yang menyaingi malaikat di langit, yakinlah Drey, bidadari disyurga akan cemburu melihat mu, amboyy...


Ia tersenyum sendiri, dokter Galih, ya Tuhan benarkah ini? ia resmi pacaran dengan seorang dokter SpOG terkeren yang pernah ada, tidak tidak, ini pasti mimpi, ayo bangun Audrey, ia mencubit pipinya sendiri.


"Awww."


Ini tidak mimpi, ini nyata. Aku harus bagaimana, aku tidak pantas, tidak pantas, whoaaaaaaa... Ia uring-uringan sendiri di kamar, kadang duduk, kadang berbaring, kadar becermin sampai akhirnya lelah sendiri dan tertidur di atas karpet.


Dimas


Pukul 02.00 dini hari


Ia menguap entah untuk keberapa kali, duduk disamping Elan, bawahan nya yang tengah fokus pada kemudi.


"Target terakhir terlihat disebuah losmen jam 01.00 tadi, kemungkinan sekarang masih dilokasi yang sama, semua anggota ambil posisi masing-masing, steril kan area." Ia berbicara melalui HT pada tim.


Sedang ia sendiri sudah bersiap dengan senpi andalannya, senjata api genggam jenis revolver yang selalu setia nangkring di balik ikat pinggangnya itu.


"TO ada di lantai tiga bang, kamar nomor 22." Elan berjalan cepat disisinya.


Yah, malam ini mereka akan meringkus tersangka pembunuhan mayat tanpa kepala yang diletakkan di dalam koper minggu lalu, tersangka tak lain dan tak bukan adalah paman korban sendiri, dan ternyata tersangka juga merupakan buronan curanmor yang tengah mereka incar.


Dengan bekerja sama dengan pihak losmen, pintu bernomor 22 itu terbuka sendiri tanpa perlu didobrak, sebab bertepatan dengan petugas losmen yang ingin mengantar pesanan minuman ke kamar itu.


"BRENGSEK!! APAAN!!" pelaku berteriak saat ia dan Elan masuk tanpa permisi dengan menodongkan senpi mereka, sementara wanita setengah telanjang yang ada disisi ranjang meringkuk ketakutan.

__ADS_1


Pelaku mencoba melawan dengan ikut menodongkan pisau kearahnya, tapi bukan Dimas namanya jika tidak bisa melumpuhkan pelaku. Dengan sekali terjang dan sedikit pukulan, ia mengunci pergerakan lawan, memborgolnya dengan satu gerakan.


"Bughh bugh..." Berkali-kali ia menghantam pelaku hingga tak berdaya dan diam tak berkutik.


"Bawa dia." Perintahnya pada Elan dan beberapa anggota yang lain."


***


Pukul 10.00 pagi


Ia tertidur di sofa apartemennya, masih memakai pakaian yang ia kenakan tadi malam lengkap dengan sepatu yang terpasang dikaki. Satu kata "Lelah" dan ia sangat sangat ingin tidur.


Entah sudah berapa jam ia tertidur, ia mengerjap saat terdengar musik klasik yang berasal dari dalam perutnya, diliriknya jam dinding, ouuchh damned!! sudah tengah hari.


Cepat-cepat ia berdiri dan mencuci muka di wastafel, berjalan ke kamar mandi dan membersihkan diri. Namun sebelumnya masih sempat mengirim pesan ke seseorang.


[Drey, dimana?]


[Dikampus kak, ada apa?]- adik kecil.


[Jam berapa pulang?]


[Ini udah mau pulang]- adik kecil.


[Kakak jemput ya, tapi bikinin sup ceker kayak kemarin itu]


[hahaha, ada mau nya, oke lah cuss kesini, aku dah di depan gerbang]- adik kecil.


Secepat kilat ia menyambar kaos polo putih dari dalam lemari dan memakai nya. Tak butuh waktu lama, ia sudah berada tepat didepan kampus keperawatan itu, netranya sudah menangkap keberadaan Audrey yang tengah berbincang seru dengan gadis berjilbab putih.


Ia hanya menunggu, sambil memandangi gadis itu dikejauhan hingga Audrey melambai kearahnya.


To be Continue...


Happy reading yaaa


cusss like, komen, hadiah seikhlasnya heheeee

__ADS_1


__ADS_2