The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Abi???


__ADS_3

Byan


Tidak begitu sulit ternyata menemukan praktek dokter Siroshime di Sapporo. Dokter Siroshime merupakan dokter yang cukup terkenal disana, berusia diatas 50-an dan berwajah ramah.


Ia harus menunggu sampai praktek dokter tersebut tutup baru bisa bicara empat mata dengan sang dokter.


Dokter tersebut tersenyum mempersilahkan nya masuk sambil melepas kacamata.


"What can I do for you?" Dokter Siroshime berdiri menyalaminya dan mempersilahkannya duduk.


Ia langsung menyodorkan sebuah foto USG dari dalam saku dan menyerahkannya pada dokter Siroshime.


"Are you remember about your patient who came here, four months ago?"


Dokter Siroshime tampak mengeryit sebentar, menatapnya dan foto USG bergantian.


"Aurora?"


"Yes, Aurora. Do you know about her?"


"She's a doctor at Hokkaido's hospital."


Ia mengangguk pelan, jadi gadis ini seorang dokter di Rumah Sakit Hokkaido, ini lebih mudah dari yang ia pikirkan.


"Wait... Are you who came with Aurora, four months ago?" Dokter Siroshime mencoba mengingat wajahnya yang mirip dengan Abi.


"No.. not me. He's my twin."


Dokter Siroshime mengangguk paham. Setelah berbasa-basi sebentar, ia berpamitan pergi. Tujuannya selanjutnya adalah Rumah Sakit Hokkaido. Namun keberuntungan tampaknya sedang tak berpihak padanya.


Dari informasi yang ia dapat dari Rumah Sakit itu, bahwa Aurora berkebangsaan Indonesia. Setelah menyelesaikan kontrak disana, gadis itu kembali ke negara asalnya. Ia sedikit mengorek informasi tambahan dari dokter disana, bahwa dokter Aurora berasal dari Jakarta.


Ia tersenyum simpul, sekuat hati ia menahan untuk tidak ke Jakarta memenuhi permohonan om Lubis. Namun sepertinya takdir kali ini memang mengharuskannya untuk pergi ke Jakarta.

__ADS_1


.


.


.


Kikan


Ia lupa kalau sore ini ada jadwal town hall , sebab sepanjang hari pikirannya hanya tertuju pada Fatih, bagaimana cara untuk bertemu Fatih dan membeberkan kebusukan istri baru sang mantan kekasihnya itu. Ditambah lagi harus memikirkan kasus kliennya, si Hendrawan.


Berbeda dengannya yang tidak bersemangat menuju town hall, Ina sang rekan kerja malah sebaliknya. Gadis itu tersenyum sumringah, dengan wajah yang berseri-seri.


"Kenapa?" Tanyanya.


"Town hall kali ini pasti ngumumin soal kedatangan pak Byan. Gosipnya udah santer dari Minggu kemarin. Tadi gue ketemu Via, dia confirm kalau pak Byan yang bakalan gantiin pak Lubis jadi pemimpin kita di firma ini."


"Byan, who?"


"Pak Byan, keponakan langsung dari pak Lubis. Berhubung pak Lubis gak punya anak, jadi pak Byan yang gantiin beliau."


"Lo pernah baca novel online gak, yang kalau mendeskripsikan cowok perfect pake banget. Gini nih gambaran pak Byan kalo di novel CEO yang sering gue baca."


"Sosoknya terlihat sangat pas dalam kemeja itu, menampakkan pundak lebar dan dada bidang yang kokoh. Kemeja itu tidak sanggup menyembunyikan otot-otot lengannya, membuatnya terlihat sangat bisa diandalkan. Dia memancarkan aura percaya diri yang mampu menarik siapapun untuk selalu menatapnya. Dia diberkahi senyum memikat yang juga berbahaya, karena bisa membuat perempuan manapun lupa diri. Dia terlihat hangat, sekaligus mengancam. Ada sesuatu dimatanya yang membuatnya tampak berbahaya karena bisa menjebak siapapun hanya dalam satu tatapan."


Dan ia hampir terbahak ketika Ina mengakhiri statement konyol itu.


"Once you see him, you want to take off your pants." Ina sedikit menggeram dan ia masih menahan tawa yang sebentar lagi akan tersembur.


"Itu pak Byan dah datang, masih di parkiran!" Via setengah berteriak heboh.


"Lo liat tadi tunggangannya, Lamborghini Gallardo!"


"Gila... ngalah-ngalahin bang Hotman Paris nih. Liat aja mobil pak Byan sangat out of place di parkiran kantor."

__ADS_1


Sementara yang lain masih sibuk dengan si Byan Byan itu, ia mengambil posisi duduk dekat dinding, deretan nomor dua dari depan.


"Terimakasih sudah menyempatkan waktu kalian. Saya tidak akan lama-lama." Bang Tanjung memulai openingnya. Dan seperti biasa, beliau mulai menyerocos soal pencapaian tahun ini dan info pemberian hadiah diluar bonus tahunan.


"Dan terakhir, mungkin kalian sudah mendengar kalau kantor kita kedatangan calon pemimpin baru yang bakalan gantiin posisi pak Lubis di Lubis& Partners."


Suara gemuruh tepuk tangan menyambut ucapan bang Tanjung. Mau tidak mau ia pun ikut tepuk tangan ala kadarnya, tidak seperti Ina dan Via yang sangat bersemangat.


"So, Byan, please come and join me."


"Oh my God, he's here." Bisik Ina, sambil meremas tangannya.


Seseorang bangkit berdiri dan menghampiri bang Tanjung, seiring dengan remasan tangan Ina yang makin kuat.


"Lo lihat deh, dari belakang aja ganteng gitu."


Ia menatap Ina dengan ekspresi geli, sama sekali tidak menyangka kalau Ina bisa bersikap seperti remaja tanggung begini.


Sosok itupun berbalik menghadap mereka. Dari tempat duduknya, yang berada ditengah, ia bisa melihat dengan jelas.


Nafasnya otomatis berhenti. It can't be.


"Abi...???"


"Bagaimana bisa? dia Abi?"


To be Continue


happy reading


sedikit dulu ya double up


lagi gak enak badan,, besok belum bisa janji bisa up apa nggak, kepala terasa berat, mual juga hadeuhhh...

__ADS_1


mohon doakan cepat sembuh readers tersayang ya😘😘😘😘😘


__ADS_2