The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Dejavu


__ADS_3

Audrey


"Kakak pergi dulu, nanti sore kakak kesini lagi." Ia mengangguk cepat merespon ucapan sang dewa penolongnya sejak lebih dari semingguan ini.


"Oh iya, kapan mulai kuliah?" Toleh kak Galih padanya, berhenti tepat di pintu keluar.


"Tiga hari lagi kak."


"Terus magang di Rumah Sakit?"


"Gak dilanjutkan, biar ngulang di semester depan, tanggung dah banyak ketinggalan jadwal."


Kak Galih mengangguk pelan, kemudian berjalan keluar, baru beberapa langkah laki-laki itu berhenti dan menoleh lagi.


"Hati-hati memilih teman."


"Hah?" Ia mengeryitkan dahi demi mencerna ucapan kak Galih


"Maksud kakak, kamu malam itu pergi ke hotel pasti karena ada teman yang merekomendasikan. Jadi jauhi teman-teman seperti itu, carilah teman yang bisa saling membimbing menuju kebaikan."


"Mulai hari ini lahirlah sebagai Audrey yang baru, yang siap menantang masa depan, letakkan mimpimu tepat didepan pangkal hidungmu, semua bisa diraih dengan kerja keras."


Lagi, ia terharu dengan ucapan laki-laki ini, mengangguk kuat, ia tekadkan bahwa ia akan sukses dikemudian hari.


"Terimakasih kak."


.


.


.


Dimas


Ia baru saja memasuki apartemen, pulang dari penyidikan kasus penemuan mayat anak kecil tanpa kepala yang dimasukan pelaku ke dalam sebuah koper, benar- benar menguras raga dan pikirannya hari ini.


Dari jarak dua meter, ia lempar sembarang kunci mobil tepat diatas sofa, berikut dengan dompet, sementara senpi (senjata api) jenis revolver kepunyaannya ia letakkan diatas meja. Kepalanya berdenyut sebab telat makan sejak tadi siang, sampai di apartemen juga tidak ada yang bisa dimakan selain mie instan, derita hidup sendiri.


Baru saja ingin memejamkan mata, ponselnya berdering. Diliriknya kontak Audrey memanggil.


"Hallo, iya Drey?"


"Kakak tertua, Audrey sudah pindah ke Rooftop kakak kedua, main kesini ya, Audrey bikin sup ceker ayam."


Ia tersenyum tipis membayangkan sup ceker ayam buatan adik kecil itu.

__ADS_1


"Oke segera meluncur." Ia berdiri dari duduknya dan mengambil kunci mobil yang ia lempar tadi.


Masih mengenakan kaos polo berwarna navy dengan tulisan punggung POLISI Turn Back Crime, ia melajukan mobilnya ke arah klinik Galih. Tak butuh waktu lama ia sudah berada disana.


Audrey yang sedang sibuk mengangkat mangkuk sayur ke gazebo menoleh kearahnya.


"Kakak, ayo bantuin angkat piring."


Ia masuk mengekor Audrey ke dapur, mengangkat piring dan teko air bersamaan.


"Pindahan tadi siapa yang bantuin?" Ucapnya.


"Kak Galih jemput ke kosan."


"Ohh, maaf kakak lagi sibuk hari ini."


"Barang aku cuma dikit kok, cuma kasur, buku dan pakaian, yang lain emang sudah ada di sini."


Ia mengangguk, Galih sudah menyiapkan semuanya, tuh anak emang sudah pas untuk berumah tangga, terbukti barang-barang semacam panci yang ia pegang saja terpikir oleh laki-laki itu untuk membelinya.


"Siaapp, tinggal menunggu kakak kedua." Audrey berceloteh sendiri, gadis itu cukup periang sejak terakhir mereka bersama.


"Galihnya mana?"


"Masih ada operasi tadi, bentar lagi kesini." Audrey ikut duduk disampingnya.


"Enak Drey." Ia menghirup kuah sup langsung dari mangkuk, menggigit ceker dengan rakus.


" Enak apa lapar? kakak makan kayak orang gak makan setahun tau."


"Emang iya, tadi siang gak sempat makan."


"Ya ampun, sekarang dah jam 4 lewat baru makan, nanti kena magh loh."


Ia terkekeh kemudian mengambil minum, meneguknya dengan sekali tegukan. Baru meletakkan gelas ke lantai gazebo, ponsel nya berdering.


Elan calling...


"Bang dimana?"


"Ada apa?"


"Merapat ke lokasi bang, ada yang melihat tersangka."


"Kirim lokasinya, abang otw kesana."

__ADS_1


Sambungan telpon terputus, Audrey yang mengamatinya sejak tadi tersentak karena ia tiba-tiba melihat kearah gadis itu.


"Kakak pergi ya, ada kerjaan."


"Tunggu, Audrey bungkusin sayur, untuk makan di apartemen."


"Gak usah, nanti kakak makan diluar kok."


Namun gadis itu sudah lebih dulu masuk kedalam menyiapkan sayur untuknya, lima menit kemudian keluar lagi membawa Tupperware berisi sup ceker.


"Takutnya nanti basi Drey, soalnya kakak tidak tau pulang jam berapa, atau mungkin bisa tidak pulang."


Audrey tetap menyerahkan benda itu padanya.


"Yah, siapa tau bisa pulang kan, malam-malam lapar tinggal angetin aja di microwave."


Ia mengangguk pelan sambil mengulum senyum, kemudian melangkah menuruni tangga, baru undakan pertama Audrey memanggilnya.


"Hati-hati kak, jangan sampai telat makan lagi." Sambil melambaikan tangan.


Nyesssss..


Seperti dejavu ia terpaku disana, mendengar kembali kata-kata yang sering diucapkan sang istri dulu


"Hati-hati sayang, jangan sampai telat makan lagi "


Dan penglihatannya sang istri yang tengah berdiri dan melambai padanya, seketika ia berbalik dan berjalan kembali ke arah Audrey.


Ia terdiam cukup lama melihat wajah sang istri tersenyum padanya, rasa rindu yang membuncah tak tertahankan lagi, seperti nyata, wanita itu terus tersenyum, tangannya mulai bergerak, menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga.


Tidak sampai disitu, ia mengelus pipi halus itu dengan punggung telunjuknya, menikmati setiap inci dari wajah yang selalu dirindukan. Namun tiba-tiba,


"Kak, kakak kenapa?"


Degg...


Ia terkesiap, lalu mundur selangkah, ouhh shiit, ada apa dengannya, ia melihat tangannya yang masih melayang di udara lalu beralih memandang gadis didepannya, jelas itu Audrey bukan almarhumah sang istri.


"Maaf, ma-maf Drey." Ia menggeleng pelan, tak habis pikir dengan tingkah absurd nya barusan.


"Kakak pergi dulu." Cepat ia berbalik dan berjalan tanpa menoleh lagi.


To be Continue...


happy reading yaaa...

__ADS_1


makasih like n komen nya


__ADS_2