
Aurora
Sepeninggal Fatih, ia benar- benar tak bisa memejamkan mata barang sedetikpun. Bayangan Fatih bermesraan bersama Kikan membuatnya menggeram seperti induk kucing yang kesepian.
Kamar ini tiba- tiba memanas, ia jadi gerah sendiri. Alih- alih berbaring, ia memilih mondar- mandir didalam kamar tak jelas, hingga perhatiannya beralih ke deretan koleksi buku Fatih yang berjejer di rak.
Di bagian atas terdapat buku- buku non fiksi yang kebanyakan tentang penerbangan, bagian tengah ada buku tentang hukum, kesehatan, agama, psikologi dan di bagian terbawah berderet novel- novel Sherlock holmes, Harry Potter, petualangan bilbo, dan komik detective conan.
Ia tersenyum sendiri melihat sisi kekanakan Fatih. Dilihat dari komik- komik Conan yang lecek dan tidak berdebu, bisa dipastikan bahwa Fatih masih sering membaca komik itu diusia sekarang.
Ia dan Fatih memang memiliki selera membaca yang sama sedari sekolah. Ia ingat betul dulu bagaimana mereka berdebat sengit tentang organisasi hitam yang memberikan obat pengecil tubuh pada Shinichi Kudo, bertanya- tanya kapan Shinichi bisa kembali ke tubuh asalnya.
Jika Fatih lebih fokus membahas tentang setiap kasus yang ditanganai Conan. Ia lebih suka membahas sisi romantisme antara Shinici dan Ran. Bahkan ia sering membayangkan bahwa ia adalah Ran Mouri dan Fatih, Shinici Kudo nya. Hahaaa memalukan sekali.
Tatapannya kemudian beralih ke deretan novel tebal Harry Potter milik Fatih. Dan ia tersenyum lagi membayangkan bagaimana dulu mereka berdiskusi seru hanya untuk membahas kematian professor Dumbledore, yang tewas di tangan Snape.
Ia ngotot bahwa Snape, si pelahap maut benar- benar jahat. Sementara analisa Fatih, bahwa tidak mungkin Dumbledore tewas semudah itu, pasti ada rencana dibaliknya. Dan ternyata benar ketika novel Harry Potter ke tujuh terbit, baru diketahui bahwa Dumbledore sendirilah yang merencanakan kematiannya.
Kembali seperti biasa, jika Fatih lebih suka membahas alur cerita. Ia malah memikirkan hubungan Harry yang putus dari Cho cang dan memilih Ginny Weasley sebagai kekasih.
Tepat saat ia berjongkok ingin meraih novel petualangan Bilbo, awal mula dari cerita trilogi The Lord of the Rings. Pintu kamar terbuka, wajah Fatih muncul disana.
Sebelah hatinya bersorak girang dengan kedatangan pria itu, sementara yang sebelahnya lagi sibuk mencibir,"Tuh lihat, dia habis mesra-mesraan sama si Ikan!"( Ikan? hahaha...Kikan bukan ikan... Serah gue dong mau manggil apa)
Dan ia benar- benar terpengaruh pada sebelah hatinya yang masih mencibir. Alih- alih menyambut kedatangan Fatih, ia malah cuek meneruskan mengambil buku dan duduk selonjoran di karpet.
"Hei, kirain tadi dah tidur. Ini martabaknya." Cengiran Fatih sambil mengangkat bungkusan martabak ke udara.
"Ya." Ucapnya, fokus ke buku tanpa menoleh.
"Bentar, aku ambil piring." Tak lama, sosok Fatih hilang di balik pintu dan kembali lagi dengan membawa piring dan seteko air dingin.
Sebenarnya mulutnya sangat gatal ingin menanyakan Fatih dari mana, ketemu siapa (walau ia sudah tahu, ketemu si Ikan pastinya), mereka ngapain aja. Tapi kesadaran membawanya kembali menapak tanah, bahwa ia bukan siapa-siapa yang berhak tahu urusan Fatih.
Ia hanya wanita malang yang terjebak pernikahan semu demi menyelamatkan harga dirinya yang sudah hancur berkeping-keping.
__ADS_1
"Ini martabak yang sering kita beli dulu, yang mangkalnya diperempatan."
"Oh ya?" Akhirnya ia menoleh juga, sambil mengambil sepotong martabak dengan tangan kanan, sementara tangan kiri masih memegang novel petualangan Bilbo.
"Baca buku?" Lirik Fatih sebentar pada buku yang ia pegang.
Ia tidak menjawab, melainkan terus mengunyah. Setengah hatinya masih sedikit kesal pada pria itu, sambil terus menyantap martabak dengan cara yang paling tidak elegant sedunia.
Walau terus diperhatikan Fatih, ia tidak peduli. Anggap saja ini perubahan hormon wanita hamil bukan.
Sementara Fatih membereskan sisa makan dan mengembalikan piring serta teko air keluar, ia langsung mengambil posisi berbaring di tempat tidur dan menutup mata, walau sama sekali belum datang kantuk.
Tubuhnya kaku seketika saat sebuah tangan besar melilit perutnya. Entah kapan Fatih kembali dan memeluknya dari belakang. Bibir pria itu bahkan menempel sempurna di ceruk lehernya. Menimbulkan percikan arus listrik dasyat saat itu juga.
"Fa...tiih?!"
"Hmmm..."
Ia menegang, selama bertahun berteman dengan Fatih. Belum pernah mereka berada pada posisi yang seintens ini. Fatih memeluknya erat, hembusan nafas hangat pria itu menyapu bagian leher belakangnya, membuatnya lupa bagaimana cara bernafas.
"Kami udah putus, gak ada hubungan apa- apa lagi."
Sebenarnya ia ingin menjawab ucapan Fatih, mengatakan bahwa itu sama sekali bukan urusannya, tapi ucapan itu berbenti ditenggorokan, ia hanya diam.
"Aku tidak ingin ada kesalahpahaman diantara kita kedepannya." Fatih mulai menciumi lehernya pelan dan dalam, membuatnya harus menahan nafas berkali- kali merasakan sensasi yang dibuat pria itu.
"A- ku gerah." Dengan gerakan cepat ia akhirnya melepaskan diri dari Fatih dan terduduk, mengipas-ngipaskan tangan ke udara.
"Whoaahh...Kenapa panas sekali!"
"AC nya dah dingin kok." Fatih berjengit.
Ia masih terus mengibaskan tangan, berusaha mengulur waktu agar tak kembali berbaring. Ia tidak bisa membayangkan jika Fatih menciuminya seperti tadi.
Okelah, jika dengan Abi, ia dalam kondisi mabuk. Nah ini... Dan sialnya, ia malah terus memperhatikan Fatih, pria normal mana yang setelah menikah tidak ingin melakukan apa- apa.
__ADS_1
"Aku tidak bisa tidur..." Rengeknya frustasi.
.
.
.
Fatih
Ia tadinya hanya ingin tidur sambil memeluk Rora. Tapi gelagat Rora yang langsung defensif ketika disentuh, membuatnya berinisiatif meletakkan boneka beruang milik gadis itu ditengah kasur, hingga membatasi posisi mereka.
"Ayo tidur, sudah malam."
Tapi Rora belum juga mau berbaring, masih terus merengek tidak bisa tidur. Gadis itu tampak gelisah.
"Aku buatkan susu?"
Rora menggeleng kemudian cepat- cepat mengangguk, membuatnya secara refleks mencubit pelan hidung mancung gadis itu sambil mengulum senyum.
"Tunggu disini." Ia berjalan kearah pintu dan menghilang.
Pelan ia masuk lagi kekamar sambil membawa segelas susu hangat dan menyerahkannya ke Rora. Tidak perlu menunggu lama, segelas susu itupun langsung kosong. Tapi Rora masih gelisah...
"Tih, bisa bacain aku cerita gak?"
Gadis itu kini sudah berbaring lagi, walau belum sepenuhnya rileks.
"Cerita apa?" Ia ikut merebahkan diri dikasur, namun kali ini menjaga jarak aman dari Rora. Ia meraih ponselnya dan mencari cerita yang bisa di bacakan untuk gadis itu.
"Hansel dan Gretell mau?"
Rora mengangguk tersenyum dari balik boneka beruang yang memisahkan mereka.
Tobe Continue
__ADS_1
Happy reading yaaaaa