
Hai...
Sebelum nya ada yang tau Byan?
Dia saudara kembarnya Abi, seorang pengacara muda berbakat yang lebih memilih bergabung di LBH (Lembaga Bantuan Hukum) yang menangani kasus-kasus pro bono, ketimbang ikut bergabung di firma hukum yang didirikan oleh om nya sendiri.
Sudah berapa kali sang om menawarkan jabatan sebagai pengganti dirinya menjadi pemimpin di firma hukum besar yang ada di Jakarta namun Byan masih enggan, alasannya banyak orang yang diperlakukan tidak adil diluar sana, dan ketika mereka mencari keadilan. Seringkali malah dipersulit, apalagi jika itu melawan penguasa.
Nah, disanalah Byan berada, membantu orang-orang yang membutuhkan keadilan namun terkendala biaya untuk menyewa jasa advokat.
***
Zurich
at 07.00 am
Byan
"Mom masih nangis?" Tolehnya pada sang kakak ketika Daniel menutup pintu kamar mommy.
Pria itu mengangguk pelan, "Sudah empat bulan Abi pergi, tapi mama masih menangis setiap hari."
Ia menghela nafas panjang sambil menatap jauh keluar jendela. Menatap pepohonan dan jalan yang hampir semuanya memutih, tertutup salju. Musim dingin disini lebih ekstrim dari biasanya.
"Kemarin aku meriksa barang-barang Abi yang ditemukan pihak kepolisian Tokyo."
Ia menatap Daniel, menunggu sang kakak melanjutkan ucapannya.
"Ada foto USG di selipkan di notebook milik Abi, dan catatan kecil yang menandakan bahwa itu anaknya Abi."
Ia tercekat sepersekian detik, "Bagaimana bisa?"
"Sepertinya wanita yang memiliki foto USG itu kekasihnya."
"Jadi...?"
"Sebentar." Daniel berdiri dan menghilang masuk ke kamarnya, tak lama kemudian pria itu kembali lagi menampakkan selembar foto hasil rekaman USG.
Bisa ia baca keterangan disana, wanita itu bernama Aurora berusia 25 tahun, usia kehamilan enam minggu dan dibaliknya ada tulisan tangan Abi.
Love you Aurora and our baby...
__ADS_1
Matanya memanas, "Dimana wanita itu sekarang?" ia bertatapan dengan Daniel yang juga tengah menatapnya serius.
Daniel mengedikkan bahu, "Tidak ada jejak sama sekali, cuma foto USG itu saja."
Ia kembali membaca setiap tulisan yang ada disana, "Dokter Siroshime? dari namanya sepertinya berkebangsaan Jepang."
Ia kembali membaca setiap detail yang ada di foto, dan tepat di sudut kiri bawah terdapat lokasi rekaman foto diambil, Sapporo.
"Kemungkinan wanita ini orang Jepang, kita bisa mencarinya di Sapporo?"
"Mommy pasti akan senang jika tahu Abi meninggalkan cucu untuknya."
Yah, sejak menikah sudah hampir sepuluh tahun, Daniel belum juga diberikan keturunan. Sedangkan ia, pernikahannya dengan Flo harus kandas ditengah jalan, dipisahkan oleh sebuah perceraian setahun lalu.
Ia tahu bahwa mommy sangat menginginkan cucu dari kami bertiga. Terutama pada Abi yang masih ada harapan. Tapi takdir berkata lain, Abi harus pergi meninggalkan mereka.
Dan sekarang saat tahu Abi pergi meninggalkan wanita yang telah mengandung benih saudaranya itu, membuatnya dan Daniel bersemangat untuk mencari keberadaan wanita yang bernama Aurora ini.
"Mungkin kita bisa mulai pencarian ke Sapporo, ke tempat praktek dokter Siroshime ini."
"Biar aku yang pergi, kamu tetap disini temani mommy." Ujarnya pada Daniel.
"Aku usahakan." Ia kembali menatap foto USG tersebut, dapat ia lihat ada cinta yang begitu tulus yang tersirat dari tulisan tangan sang saudara kembarnya itu untuk sang bayi dan ibunya.
.
.
.
Aurora
"Jadi mau ngajakin aku kemana nih?" Ia mematut dirinya di cermin, sebelum benar-benar keluar dari kamar. Melirik sebentar pada perutnya yang mulai tampak membuncit.
"Kejutan, kalau dibilang sekarang ya bukan surprise lagi dong." Fatih ikut menatap nya lewat pantulan cermin.
Ia memoles bibirnya dengan lipbalm sebelum benar-benar out dari depan kaca, dan menyusul Fatih yang lebih dulu keluar.
Mama Sonia dan papa Dimas sedang pergi. Sementara Fatih memanaskan mesin mobil, ia mengunci pintu dari luar.
Fatih mengajaknya ke apartemen yang diklaim suaminya itu sebagai milik pribadi hasil jerih payahnya sendiri.
__ADS_1
"Tadinya pengen bangun rumah, tapi papa bilang gak usah soalnya kalau papa udah pensiun, papa pengennya tinggal di Bandung, udah siap rumah disana. Jadi rumah yang di Jakarta buat kita." Ucap Fatih sambil menekan angka 34 di dalam lift.
Selama di dalam lift, tak henti-hentinya Fatih melempar senyum sambil menggenggam erat tangannya.
"Yaap, ini dia..."
Dan ia berdecak kagum, benar-benar tidak menyangka ada apartemen dengan pemandangan sebagus ini di Jakarta. Terletak dilantai 34, apartemen Fatih lebih didominasi oleh dinding kaca sehingga menawarkan pemandangan lepas.
Meski saat melongok ke balik kaca, cukup membuatnya gamang. Tapi ia menyukai kesan hening yang ditimbulkan. Ia bisa membayangkan menghabiskan waktu memandang keluar jendela sambil membaca buku. Sebuah cara sederhana untuk menenangkan pikiran.
Apartemen ini didominasi warna hitam dan putih yang memberikan kesan kaku sekaligus lapang. Di ruang tamu ada sofa putih yang sangat nyaman dan besar, juga perlengkapan home theater yang lengkap. Ruangan itu langsung berbatas dengan ruang makan yang diisi oleh kitchen island bewarna senada. Ia benar-benar tidak menyangka Fatih mempertimbangkan dapur yang seperti ini.
Ketika memasuki kamar, lagi-lagi ia terkagum. Tempat tidurnya menempel langsung ke dinding kaca yang memenuhi salah satu sisi dinding. Saat Fatih membuka tirai, sinar matahari langsung menyorot masuk dengan langit lepas menyambut pemandangan.
"Sejak kapan punya apartemen ini?" Ia menempelkan hidungnya ke jendela kaca.
"Kurang lebih satu tahunan ada. Tadinya mau ngajak kamu pindah kesini setelah kita nikah. Tapi mama gak ngebolehin, alasan beliau, wanita hamil gak baik ditinggal sendiri."
"Satu tahun? berarti Kikan udah pernah diajak kesini dong?" Selidiknya sambil memicingkan mata kearah Fatih.
Pria itu terkekeh pelan. "Why? are you jeleous?"
Ia hanya mendengus dan kembali menempelkan hidungnya ke kaca.
Fatih memeluknya dari belakang, "You're the first." Sambil menunduk dan menempelkan dagu ke pundaknya.
"Belum ada yang pernah aku ajak kesini kecuali kamu."
Dari kamar, mereka beralih ke sofa di ruang tamu. Sementara Fatih memesan makan siang untuk mereka, ia menyalakan televisi.
"Pilihan sofa yang oke." Ia menepuk- nepuk lengan sofa saat Fatih baru saja ikut bergabung dengannya.
"Kita bisa mencoba bercinta disini kalau kamu mau." Fatih mengangkat alis jahil.
Sontak saja ia memukul dada pria itu. Namun Fatih menangkis pukulan dan menariknya hingga terdesak ke dada Fatih. Satu lengan Fatih melingkari pinggang, menahannya agar ia tidak beranjak. Sementara tangan yang bebas mengusap pipinya.
Kulitnya terasa panas di setiap jejak sentuhan dari Fatih. Ia merasa kesulitan bernafas, seolah-olah kadar oksigen di ruangan itu menipis. Dengan satu kali hentakan, tubuhnya diangkat Fatih hingga ia sekarang berada di pangkuan sang suami. Ketika bibir Fatih menyentuh bibirnya, ia tahu, ia takkan pernah cukup.
To be Continue
Happy reading yaaa
__ADS_1