The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Pergi...


__ADS_3

Kikan


Hakim baru saja mengetuk palu. Akhirnya, ia bisa menutup buku untuk kasus perceraian Hendrawan. Sementara sang klien tertawa pongah karena kemenangan mereka di persidangan, tidak begitu dengannya. Ia hanya tersenyum getir saat menyalami lawyer dari pihak lawan, tak ada kebanggaan kali ini.


"Aku kelarin sore ini ya mbak semua admistrasi nya." Ujar Dian, yang sudah bersiap untuk meninggalkan ruang sidang.


Ia mengangguk, "Okay, thank you. Kamu bisa duluan, aku masih mau disini."


Dian meninggalkannya, membuatnya satu-satunya orang yang bertahan di ruang sidang ini. Sebentar lagi, cleaning service akan masuk, dan ia tidak punya alasan untuk berlama-lama di sini.


Tatapannya lurus ke mimbar hakim, namun pikirannya malah beralih ke kejadian malam itu, dimana ia yang tak punya harga diri lagi di hadapan Fatih. Sungguh ia ingin menangis, dadanya terasa sesak, sebegitu tak berharga kah dirinya hingga Fatih tega mendorongnya dengan posisinya yang setengah telanjang saat itu. Fatih bahkan tak berminat menyentuhnya sama sekali.


Perlahan ia menarik nafas panjang, setelah ini ia berharap tidak akan pernah bertemu Fatih lagi, tidak akan, rasa malunya sudah menggunung hingga melebihi rasa sakit hatinya sendiri.


Pukul empat sore ia kembali ke kantor, berhubung hari ini adalah Jum'at, tidak banyak orang lagi yang tersisa disana. Ada bang Tanjung yang tengah berkutat dengan dokumen-dokumen dan sekretaris kantor yang masih sibuk di depan laptop.


"Hei, gue kira gak balik ke kantor lagi." Bang Tanjung mendekatinya saat ia masuk ruangan.


"Gimana hasil sidang tadi?"


"Hendrawan menang telak, mantan istrinya gak bisa mendapatkan alimony sebanyak yang mereka inginkan, mereka juga gak dapat hak asuh anak. Hak asuh jatuh ke tangan Hendrawan. Sesuai maunya Hendrawan, dia gak keluar banyak duit dari perceraiannya kali ini."


"Good job?! selamat ya... Ditunggu traktiran nya." Bang Tanjung menepuk pelan pundaknya.


"Oh ya bang, Byan ada?" Bang Tanjung yang baru saja beranjak dan ingin melanjutkan pekerjaannya menoleh, "Gak tau, coba samperin ke ruangannya, tadi sih ada."


Ia mengangguk pelan, "Oke, thanks bang."


Cukup sudah, ia tidak bisa hidup dengan beban menanggung malu selama sisa hidupnya. Kasus Hendrawan mungkin merupakan kasus terakhir yang ia tangani di lawfirm ini. Dengan langkah mantap ia berjalan ke ruangan Byan.


Ia sudah memutuskan untuk resign dari sini, pergi sejauh mungkin, ketempat yang tak seorangpun bisa mengenalinya.


"Masuk." Suara Byan terdengar dari dalam saat ia mengetuk pintu.


Ia masuk dan berdiri canggung di hadapan Byan, pria itu sepertinya baru saja menyelesaikan pekerjaan, tampak dari beberapa map yang telah disusun diatas meja.

__ADS_1


.


.


.


Byan


Ia baru saja selesai mempelajari dokumen untuk kasus terbarunya saat terdengar ketukan pintu dari luar.


"Masuk." Ucapnya sedikit mengeraskan suara.


Kikan berjalan mendekati mejanya,"Sorry, lagi sibuk? ada waktu gak?"


Ia menatap gadis itu tajam, ingin sekali mencecar Kikan dengan banyak umpatan setelah mengetahui kelicikan apa yang telah diperbuat gadis yang tengah berdiri dihadapannya ini, tapi tidak etis rasanya membawa masalah pribadi ke kantor. Jadi ia memutuskan untuk mengajak Kikan bicara di luar.


"Aku pikir kamu gadis baik, benar-benar gak nyangka masih ada ular berbisa berwujud manusia." Ia mendesis berujar pada Kikan.


Kikan terkesiap hingga mendongak kearahnya, namun hanya diam tak berniat menjawab ucapannya. Dan lagi, gadis itu menatapnya tapi tidak ada raut keras disana, yang ada ekspresi penyesalan yang begitu mendalam. Namun terlambat, ia sudah terlanjur kecewa pada Kikan, dan tidak ada alasan untuk mempertahankan Kikan di lawfirm nya.


Kali ini ia yang terkesiap, baru saja ia ingin melontarkan kata-kata itu untuk Kikan, tapi sepertinya gadis ini seperti sudah tahu apa yang ia pikirkan.


"You must pay for what you're have done. Beruntung tidak terjadi apa-apa pada Rora dan kandungannya." Ucapnya berat.


"Dia diusir orang tuanya, disaat suaminya tidak ada. Semua gara-gara kamu, kamu sengaja menyeting ini semua agar Rora menderita kan, tega sekali. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan kandungannya kemarin, saya tidak akan pernah memaafkanmu."


Kikan hanya diam, tidak ada niat untuk menyanggahnya sama sekali, "I'm sorry, sudah memanfaatkanmu untuk tujuan pribadiku. I'll resign today."Ucap Kikan, sangat pelan sambil menggeser kursi dan berdiri.


Dan ia benar-benar tidak habis pikir Kikan yang seorang lawyer berbakat, pintar, cantik, bisa-bisanya berbuat sesuatu yang sangat rendah seperti itu.


Ia menghela nafas berat membiarkan Kikan pergi bahkan sebelum menyentuh makanan yang mereka pesan. Yah, dia tidak perlu bertemu gadis itu lagi. Mungkin ini bisa jadi pelajaran berharga untuk Kikan.


***


Ponselnya bergetar saat ia hendak keluar dari resto..

__ADS_1


Daniel??


"Ya hallo..."


"Aku sama mommy sudah di Jakarta."


"Hah..Apa?"


Yang benar saja, mengapa mommy dan Daniel ke sini.


"Terakhir kamu bilang sudah ketemu sama gadis itu. Mommy parah, dia nangis terus sambil teriak-teriak so aku ceritakan semua ke mommy. Dia ngotot pengen ketemu gadis itu."


"Wait...Wait....Aku kan dah bilang, tunggu kondisinya kondusif. Belum bisa sekarang, Aurora juga lagi ada masalah sama keluarganya." Ia mendesah frustasi.


"Nikahi gadis itu Byan... Masalah beres, ganti Abi untuk bertanggungjawab pada bayinya."


Dan ia makin frustasi mendengar ucapan Daniel "Masalah nya dia udah nikah sama orang lain."


"Terus?"


"Terus.. ya gimana. Biar aku urus Aurora, aku akan ngomong baik-baik ke dia, tapi tidak sekarang. Kamu urus mommy."


"Ajak mommy ke Bali, ketemu keluarga disana. Aku butuh waktu."


"Berapa lama?"


"Belum tahu, masalahnya rumit." Lagi, ia mendesah pelan sambil memijit pangkal hidungnya.


"Oke, aku bawa mommy ke Bali, kamu urus gadis itu, minta dia untuk mau ketemu mommy."


Ia menutup telponnya, masih memandang layar ponsel yang sudah mati meski panggilan Daniel telah lama terputus. Ia tidak mungkin bicara ke Aurora sekarang, gadis itu baru saja melewati masalah besar.


To be continue


happy reading ya...

__ADS_1


__ADS_2