The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
I'll kill you!!!!


__ADS_3

Fatih


"Noooooo...?!"


Ia tersentak bangun dengan nafas yang memburu. Keringat sebesar bulir jagung mengalir di dahinya.


"Rora, Aurora..."


Sudah dua malam ini ia memimpikan gadis itu, Rora terjatuh ke jurang dan ia tidak bisa berbuat apa-apa. Diliriknya jam di atas nakas, pukul dua dini hari.


Ia mencoba menghubungi nomor Rora, aktif tapi tak kunjung diangkat, entah sudah panggilan ke berapa.


"Shit.." Ia mengumpat pelan.


Ia mencoba membuka laman media sosial gadis itu, seketika saja lututnya lemas. Rora memposting beberapa foto beberapa jam yang lalu, ia sedang di Bali.


Bukan di Bali nya yang membuat jantungnya lemas tapi orang-orang yang berada di sekeliling Rora. Ada Leon, Friska, Ralph dan Abi....? Mereka, bagaimana bisa Rora berada ditengah-tengah mereka. Orang-orang liberal yang yang menganggap clubbing dan *** party adalah hal biasa.


Matanya memanas, postingan belum sampai dua belas jam yang lalu, bisa dipastikan Rora masih disana. Ia tahu, Abi baru membuka resort. Mereka disana, pasti masih disana.


Penerbangan tercepat menuju Bali baru ada jam 05.00 pagi, sekarang baru jam dua, tiga jam dari sekarang ia akan bersiap. Ia harus kesana...


.


.


.


Abi


Seperti ada marching band yang tengah menabuh drum di kepalanya ketika ia memaksakan diri untuk terbangun di pagi ini. Rasanya matanya sangat berat. Begitu juga dengan tubuhnya, seolah ada beban berat yang menimpanya.


Setelah satu tarikan nafas, ia mencoba untuk mengangkat tubuhnya, namun seolah tubuhnya sudah terpaku di atas kasur. Perlahan ia membuka mata. Nyawanya langsung terkumpul sepenuhnya saat menyadari apa yang sebenarnya terjadi.


Pantas tubuhnya terasa berat karena saat ini, Rora memang menindihnya. Gadis itu memeluknya erat, dan menjadikan dadanya sebagai bantal.


Ia sadar ia memang mabuk semalam, tapi ia juga sadar akan apa saja yang dilakukannya bersama Rora. Ia telah melakukan tiga kesalahan sekaligus.


Pertama, ia tidak pernah bercinta dalam keadaan mabuk, tidak pernah.


Kedua, ia tidak pernah bercinta dengan wanita baik-baik apalagi yang masih perawan.


Ketiga, ia sudah berjanji pada Fatih untuk tidak menyentuh sepupu pria itu.


Dan dalam semalam, ia sudah melanggar ketiga janjinya tersebut, melanggar semuanya, semuanya...


Dipandanginya wajah Rora yang tengah tertidur pulas, wajah polos yang tak berdosa. Seketika matanya memanas, dia sudah menghancurkan gadis ini dalam sekejap.


Ia terkesiap, dan mulai detik itu juga dia berjanji dalam hati, apapun yang terjadi, ia akan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya, dia mencintai Rora dan akan membahagiakan gadis ini sampai kapanpun.


I love you Rora, I really do...


I promise, I'll marry you.


I'm gonna be a husband for you, I promise...


Dikecupnya lama kening Rora, kecupan sarat janji, sebelum beranjak dari tempat tidur dengan sangat pelan dan hati-hati sebab takut membangunkan gadis itu.

__ADS_1


***


Ia sedang membuat sup engkang yang dipercaya bisa memulihkan kondisi tubuh untuk Rora saat terdengar bunyi terjangan pintu yang sangat keras.


Fatih....


"Dimana Rora?" mata Fatih menyala menatap lurus padanya.


"Tenang bro, dia disini bersamaku." Matikannya kompor yang masih menyala.


"AKU BILANG DIMANA!!!" Fatih nyalang berjalan cepat memeriksa setiap kamar tanpa mempedulikannya.


Dan ia hanya bisa terpaku saat Fatih akhirnya membuka pintu kamar utama, dimana Rora masih tertidur pulas dalam gulungan bed cover dengan bahu mulus terpampang nyata. Siapapun bisa menebak bahwa gadis itu tidak mengenakan apa-apa dibalik balutan bed cover tersebut.


"BRENGSEK LO!"


BUGHH...BUGHH..


"Aku pernah bilang, aku akan membunuhmu kalau sampai berani nyentuh Rora!"


"A-KU AKAN MEM- BU-NUH MU!!!"


"I'll kill you... BA JI NGAAAAN!"


AArrghhhhh....


Fatih menerjangnya kuat hingga ia terlempar beberapa meter ke belakang dan membentur dinding.


BUGH...


BUGH...


BUGHH...


"Stop Fatih! stoop..!!


"No, I'll kill you, brengsek!"


Fatih benar-benar akan membunuhnya kali ini, pria itu sudah kesetanan. Fatih sang juara Taekwondo kelas ASEAN sungguh bukan tandingannya. Tubuhnya sudah tidak tahu sehancur apa, ia bisa memperkirakan ada lebih dari tiga tulang rusuknya yang patah saat ini.


"Kau tidak tau, dan tak kan pernah tau seberharga apa Rora bagiku!"


"Fu ck you!!


"Fucking hell, you jerk!"


Fatih mencekiknya dengan sekuat tenaga sementara ia benar-benar sudah tidak berdaya hanya bisa menggapai- gapai. Laki-laki itu tidak sedikitpun memberinya kesempatan untuk bicara. I'm over.


Matanya terpejam menahan sakit di sekujur badan, dengan darah segar mengalir melewati hidung dan pelipis kiri, namun sebelum terpejam sempurna, ia masih bisa melihat Fatih menggendong Rora keluar dari sana.


.


.


.


Fatih

__ADS_1


Dia tidak bisa membayangkan kemungkinan yang akan terjadi ketika ia memasuki area resort milik Abi. Ia hanya menerka-nerka. Namun apa yang dilihatnya sungguh sangat menyakitkan.


Lututnya melemas seketika, saat melihat Rora dalam kondisi seperti itu di dalam kamar terakhir yang ia periksa. Hatinya benar-benar hancur, kemarahan nya sudah mencapai titik klimaks, darahnya mendidih dengan titik didih maksimal.


Tekadnya satu, yakni membunuh Abi. Ia tidak peduli ia akan mendekam dipenjara setelah nya, yang penting laki-laki itu mati. Abi must die!


Ia menghajar Abi habis-habisan, Abi memang bukan tandingannya, sama sekali bukan level nya untuk adu jotos satu lawan satu seperti ini.


Ia mencekik pria itu walau tahu Abi sudah tidak berdaya. Mungkin dia benar-benar sudah jadi seorang pembunuh kalau saja kesadaran tidak menghampirinya di detik-detik terakhir, wajah Rora yang tersenyum memenuhi otaknya hingga ia terhenti.


Ia menghentikan aksinya, membiarkan Abi terkapar tak berdaya di lantai. Melangkahi tubuh Abi dan beralih ke kamar.


Rora masih tertidur pulas diatas tempat tidur tanpa terganggu sedikitpun. Dengan cepat ia menggulung tubuh gadis itu dengan selimut dan membawanya pergi dari sana.


.


.


.


Aurora


Ia membuka mata perlahan. Kepalanya sangat pening, semua seolah berputar-putar dengan burung Nuri kecil yang beterbangan mengitari kepalanya.


Cukup lama ia hanya terpaku memandang langit-langit kamar, sampai ia menyadari bahwa ia tidak berada di resort Abi. Ia tersentak dan terduduk tiba-tiba, memandang nanar kesekeliling.


Ia memejamkan mata mencoba mengingat-ingat apa yang sudah terjadi padanya.


Pertama ia dan Abi mengobrol di resort, mereka minum. Ya Tuhan, ia mabuk. Tubuhnya bergetar hebat, lalu Potongan kejadian demi kejadian seolah berputar, ia ingat, ia dipapah Abi ke kamar.


Abi menciumnya...


Degg...


Setelah itu apa?


Ia berusaha keras mengingat, tapi ingatannya sangat buruk. Cepat-cepat ia berlari ke kamar mandi, namun ia merasakan nyeri di area pangkal pa ha. Apa yang sudah ia lakukan?...


Ia bercermin dan melihat tubuhnya sendiri, beberapa kiss mark di sepanjang leher sudah cukup membuktikan bahwa ia dan Abi berbuat sesuatu yang tidak benar semalam.


Ia merosot ke lantai, matanya memanas. Detik berikutnya ia sudah menangis sejadi-jadinya sambil meringkuk di bawah kucuran air shower.


Ia sudah gila... Apa yang ia lakukan, ia mengecewakan papa dan mama. Ia harus bagaimana, ya Tuhan.


Entah berapa lama ia seperti itu, tubuhnya sudah menggigil kedinginan, dengan ujung-ujung jari yang telah membiru. Ia keluar kamar mandi, matanya langsung terpaku pada sebuah paper bag di atas nakas.


Didekatnya terdapat selembar kertas. Nafasnya tercekat saat membaca isi kertas tersebut. Itu tulisan tangan Fatih. Ia paham betul bagaimana tulisan tangan Fatih.


Pakai baju mu, setelah itu makan.


Sudah ku siapkan sup hangat di meja.


Kejutan apa lagi ini. Bagaimana bisa ada tulisan tangan Fatih disini. Ia sampai mundur beberapa langkah. Jantungnya serasa berhenti memompa darah. Ia membeku...


To be continue


Happy reading

__ADS_1


🤗🤗🤗🤗🤗🤗


__ADS_2