
Aurora
Ia tidak yakin ia akhirnya bisa duduk disini. Memandang gelisah pada setiap pengunjung yang lalu lalang masuk ke resto itu. Menunggu seseorang...
Awalnya ia ingin mengatakan ini pada Fatih, setidaknya memberitahu pria itu bahwa mantan pacar Fatih mengajaknya bertemu, tapi sejak pagi nomor sang suami tak bisa dihubungi.
Jadilah, ia akhirnya memutuskan untuk mengiyakan Kikan. Kikan? yah, kapan terakhir ia bertemu gadis itu, kalau tidak salah waktu acara nikahannya mbak Ara dulu, sudah lama. Dan sekarang ia merasa bersalah sekali, seolah merebut sesuatu dari gadis itu. Bukan seolah kale Ra, kamu emang merebut Fatih dari Kikan.
Dari arah depan ia bisa melihat sosok Kikan sudah datang, berjalan anggun menuju meja nya. Masih mengenakan kemeja bercorak zig zag di balut blezer hitam dengan rok selutut dan sepatu high heels 10 or 15 an centi ia tebak, dan sampai kini ia heran sendiri, ada wanita yang betah berjalan dengan high heels setinggi itu, apa tidak sakit betisnya menahan tekanan dari bobot tubuh, hanya bertumpu pada ujung sepatu yang kecil itu.
Lupakan high heels, Kikan makin mendekat kearahnya, gadis itu tersenyum. Kikan memiliki rambut kuning kecoklatan, mengingatkan nya pada bulu kucing Persia milik tetangga mama Sonia, tulang pipi yang tinggi dan wajah runcing, cantik namun terkesan sedikit angkuh.
Tapi penilaiannya tentang kata angkuh ternyata salah besar saat Kikan telah duduk didepan nya.
"Udah lama nunggu?" Kikan tersenyum hangat padanya, what? ia pikir tadinya Kikan akan langsung mencacinya, atau apalah mengingat ini pertemuan antara dua wanita di kubu berbeda, yang satu mantan kekasih dan yang satu istri dari satu pria yang sama.
"Ti-dak, baru juga." Gagapnya, yang langsung mengutuk dirinya sendiri karena bersikap kikuk dihadapan Kikan.
"Udah pesan makanan?" Kikan masih mempertahankan senyumnya.
"Belum."
"Ya udah, aku pesankan dulu."
Tak lama Kikan kembali, mengambil posisi duduk berhadapan dengannya. Gadis itu tidak bisa ditebak, walau terus memasang wajah hangat sejak tadi, namun ia tidak bisa menerka-nerka tujuan Kikan mengajaknya bertemu.
__ADS_1
Ini memang kali pertama, ia berhadapan dengan Kikan langsung sejak Fatih menikahi nya. Walau bagaimanapun, ada perasaan bersalah yang tiba-tiba menyelinap masuk ke hati dan pikirannya.
Ia berdehem sebentar, menunggu gadis dihadapannya berbicara. Kikan menatap jemari yang ia tautkan sebelum akhirnya berbicara.
"Selamat ya, maaf baru bisa ngucapin sekarang."
"Hah.."
"Jadi gimana kandungannya sehat kan? aku juga turut berdukacita, aku sama sekali gak nyangka Abi pergi secepat itu."
Sampai sini ia masih melongo, berusaha mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Kikan, kandungan? Abi? sejauh mana gadis ini tahu. Seingatnya tidak ada yang tahu tentang rahasia ini. Tidak ada yang tahu tentang Abi, kecuali Fatih. Hanya tiga orang yang tahu tentang rahasia kehamilannya, Abi, Fatih dan ia sendiri.
Sepertinya Kikan langsung menangkap kebingungannya, gadis itu kembali tersenyum, kali ini sambil meraih tangannya yang berada diatas meja, menggenggam erat.
Nyeess... Ada sesuatu yang jatuh dari kerongkongan nya, terjun bebas sampai ke dasar perut membuat perutnya seperti melilit. Dapat ia lihat, Kikan menghela nafas panjang, lalu menatapnya dalam.
"Aku dan Fatih sudah pacaran selama dua tahun, kami saling mencintai. Kami serius dalam hubungan ini. Fatih bahkan sudah melamar ku tahun kemarin. Waktu itu aku belum siap untuk menikah, masih banyak pencapaianku yang tidak bisa dilakukan setelah aku menikah, tapi Fatih tetap setia menunggu. Kami memang berencana untuk menikah, sampai..." Kikan makin meremas kuat genggaman tangan padanya.
"Aku juga kaget waktu Fatih bilang, kamu sedang hamil anaknya Abi. Dan we know, kecelakaan yang menimpa Abi seperti apa, itu sungguh berita yang sangat menyedihkan untuk kita semua."
Ia hanya terdiam mendengar semua perkataan Kikan yang seperti godam raksasa, memukul nya tanpa ampun.
"Dan pada akhirnya, tidak ada jalan keluar. Sebagai seseorang yang menganggap mu seperti saudara. Fatih memutuskan untuk menikahi mu demi menyelamatkan harga dirimu. Aku bisa apa? aku tidak bisa berbuat apa-apa selain melepas Fatih, melepaskan cintaku. Kami tidak bisa berbuat apa-apa sebab ada bayi yang sedang tumbuh dan butuh seseorang untuk mempertanggungjawabkan nya bukan." Kikan masih menatapnya.
Kali ini ia sudah tidak kuat lagi. Ia hancur, harga dirinya seolah diinjak- injak. Kalau itu bukan Fatih, ia mungkin masih bisa terima. Tapi ini Fatih... Tega sekali....
__ADS_1
Ia terduduk sendiri di bangku taman selepas pertemuannya dengan Kikan tadi, gadis itu masih sempat memeluknya erat.
"Aku sudah ikhlas kok Ra, mungkin seperti ini jalannya. Walau Fatih juga belum bisa berjanji akan kembali padaku atau tidak setelah bayi itu lahir. Tapi aku harap jangan sia-siakan pengorbanan ku dan Fatih, pengorbanan kami."
"Jaga Fatih baik-baik untukku, aku sangat mencintainya."
Ucapan Kikan masih terus berputar dikepalanya, membuat kepalanya seolah ingin meledak saat itu juga. Tidak ada yang meminta belas kasihan, sejak awal ia tidak meminta pertanggungjawaban dari siapapun. Fatih... Tega sekali....
Fatih telah mengangkatnya tinggi ke udara, melambungkannya sampai langit ke tujuh namun kemudian menjatuhkannya sedemikian rupa, hingga sakitnya teramat dalam. Ini terlalu sakit... Terlalu sakit...
Hujan rintik-rintik menari di udara, namun ia tetap bergeming, tidak bergerak barang sesentipun dari tempat duduknya, sampai rintik itu telah berubah menjadi hujaman ujung pisau yang menusuk- nusuk kulit tubuhnya yang hanya tertutup dress selutut, hujan makin menderas seiring tangisnya yang makin menjadi- jadi.
Ia tidak akan sesakit ini jika itu bukan Fatih. Mereka mengasihaninya, untuk apa. Sejak awal seharusnya ia menolak Fatih untuk menikahinya, ia lupa bahwa Fatih memiliki seseorang yang menunggu pria itu. Ia hanya objek belas kasih, objek malang yang perlu uluran tangan seseorang untuk menyelamatkan harga dirinya.
Ia benar-benar terpuruk, harga dirinya sudah tidak ada. Sudah hancur, terinjak dan terbuang. Di mata Fatih, ia hanya gadis menyedihkan yang butuh pertolongan. Semenggenaskan itu dirinya, setidak berharga itukah hidupnya...
Matanya mulai mengabur sebab hujan yang makin deras serta tangisnya yang menggila. Tepat saat itu, ponselnya bergetar dari dalam tas, ia tak ingin mengangkat tapi ponsel sialan itu terus bergetar, membuatnya merogoh benda itu dari dalam tas.
Papa calling...
Apa lagi ini ya Tuhan,...
To be Continue
Happy reading....
__ADS_1