
Galih
Sisi manusiawi nya sungguh tidak tega melihat gadis ini terdampar sendirian di halte dengan tampilan yang mengundang siapa saja yang melihat akan berniat jahat, tapi untuk membawa Audrey ke apartemen nya, merupakan ide yang bisa dibilang buruk.
Pasalnya sampai detik ini ia masih di cap sebagai pria baik-baik yang tidak pernah memasukkan wanita yang belum halal ke dalam apartemen, semua warga apartemen tau itu, termasuk satpam mereka yang berjaga di lobi bawah.
Membawanya ke klinik, sama saja bunuh diri, para pegawainya akan bertanya-tanya. Rumahan di rooftop juga belum selesai, jika ia membawa Audrey kesana. Akhirnya dengan menebalkan muka, ia membawa Audrey ke unit apartemen nya.
"Pakai ini." Ia menyerahkan jaket berbahan kulit ke Audrey sebelum keluar mobil.
"Terimakasih dok."
Keduanya memasuki lobi, beruntung sepi, hanya ada dua satpam yang tersenyum penuh arti padanya kala melihat seorang gadis belia mengenakan jaket kulit kebesaran miliknya mengekor di belakang.
Ia menghembuskan nafas lega kala mereka sudah masuk ke unit nya, dengan gerakan cepat ia mengambil handuk.
"Keringkan tubuhmu, saya akan mengambil pakaian ganti."
Ia memerintahkan Audrey untuk masuk ke kamar tamu setelah menyerahkan satu set pakaian, kaos oblong dan celana jogger nya. Ia pun masuk ke kamarnya sendiri untuk membersihkan diri.
Tiga puluh menit kemudian, ia keluar. Diliriknya kamar tamu masih tertutup rapat.
"Drey, Audrey are you okey?" Ia mengetuk pelan pintu kamar tamu.
Pintu terbuka, menyembulkan kepala Audrey dari dalam.
"Iya dok."
"Sudah makan? ayo kita makan."
Gadis itu mengekorinya berjalan ke arah dapur sambil menunduk.
"Hanya ada mie instan dan telur, tak apa?" Tolehnya pada Audrey.
"Iya dok,.. Biar saya saja yang masak, dokter tunggu disini."
Namun kala Audrey sudah mendekat ke arah kompor tanam listrik di pantry, gadis itu terdiam.
"Maaf, silahkan dokter saja, saya tidak paham memakai kompor listrik." Ucap Audrey malu.
Ia mendekati Audrey, tangannya yang kokoh melewati bahu gadis itu, cukup membuat Audrey menahan nafas, gugup karena berada pada jarak terdekat dengannya.
Clek !
Api menyala, ia menyetel perintah ke mode boil sekaligus mengatur suhunya.
"Ini buat atur suhu." Ujarnya pelan, masih diposisi yang sama, hingga nafasnya menyapu telinga Audrey.
"Ini buat on/off nya."
"Kalau mau ngegoreng tekan yang ini."
__ADS_1
"Yang ini untuk ngangetin."
Diliriknya sekilas Audrey menegang kaku mendengar ia menjelaskan tutorial cara memakai kompor listrik.
"Saya bantuin, kamu yang masak." Ucapnya sambil menahan senyum melihat ekspresi gadis di sampingnya.
Ia mengambil panci kecil dan Audrey mengambil botol air minum, momen bersamaan membuat tangan mereka bertabrakan dan otomatis saling bersentuhan, membuatnya kaget karena getaran arus listrik tiba-tiba menjalar hingga tanpa sadar panci kecil itu jatuh.
PRANGGG!!!
"Waduh, sorry."
"Biar saya saja dok, dokter tunggu dikursi." Audrey gugup memungut panci yang telah menggelinding ke arah kulkas.
Ya Tuhan, ada apa denganku...
Derita tak pernah disentuh wanita, baru kesenggol kulit saja sudah gelagapan, fuihhh ..
Akhirnya ia berjalan ke arah kursi, duduk menunggu sambil bermain ponsel, sesekali melirik Audrey yang mulai mahir di depan kompor.
Tidak butuh waktu lama sebab hanya memasak mie instan, keduanya sudah duduk berhadapan dengan dua mangkuk mie di depan masing-masing.
"Jadi, kenapa malam-malam keluyuran dengan baju robek?" Ia memulai obrolan sambil mengaduk mie, menambahkan cabai botolan kedalamnya.
Hppfthhhh...
Audrey hampir tersedak mendengar ucapannya.
Ia mengernyitkan dahi menatap Audrey yang tiba-tiba jadi kaku lagi.
"Kamu yang mengundang untuk dilecehkan dengan memakai dress seperti itu, lagian kenapa juga keluar malam-malam. Malam itu waktunya belajar terus tidur." Ucapnya geli sendiri, persis seperti ayah yang tengah menasehati anak gadisnya.
Audrey mendadak pucat, tidak membalas ucapannya, terus makan meski mienya masih panas, tak butuh waktu lama mie dalam mangkuk kandas tak bersisa, meneguk minum sebentar kemudian beralih mencuci piring.
Ia hanya melongo melihat tingkah Audrey.
"Kamu tersinggung?" Ia berdiri mendekat kearah cucian piring.
Audrey menoleh, membuat posisi mereka berhadapan. Kemudian gadis itu menggeleng pelan dan mengulum senyum.
"Tersinggung untuk apa?"
"Perkataan saya tadi."
"Tidak, dokter memang benar, tidak seharusnya saya keluar malam-malam dengan pakaian seperti itu, dan saya sangat menyesal."
Ia tersenyum, membiarkan mata mereka saling beradu, sedikit sinting ia menikmati momen ini, hingga Audrey memutus kontak dengan beralih mencuci tangannya yang sedikit bersabun.
"Maaf dok, apa saya bisa duluan ke kamar?"
"Yah silahkan, jangan lupa kunci pintunya."
__ADS_1
Audrey menatap nya tajam, membuatnya salah tingkah.
Jangan lupa kunci pintunya...
Ouuchh,, shiit, perkataannya seolah nanti kalau tidak dikunci, ia bisa mengendap masuk kesana, hahaaaa Galih you are crazy...
Ia melanjutkan makan kala Audrey sudah menghilang dari pandangan sambil menggelengkan kepala dan tersenyum.
Baru suapan kelima, bel berbunyi. Ia mendengus kesal, siapa lagi yang bertamu selarut ini kalau bukan Dimas, tetangganya yang memiliki unit apartemen persis bersebelahan dengannya.
Dimas langsung nyelonong masuk tanpa dipersilahkan, seperti biasa polisi muda berusia 28 tahun itu langsung berjalan menuju dapur, mengambil minum dikulkas dan meneguk habis isinya.
"Ada makanan, lapar nih."
"Tidak ada untukmu."
"Fiuuhhh, disebelah tidak ada makanan, tenagaku habis hari ini, menggebrak dua kasus curanmor dan perampokan bersenjata di arah Menteng seharian ini."
"Ada mie instan mau? masak sendiri." Ia menawar.
"Okeh." Dimas berjalan menuju pantry.
.
.
.
Audrey
Ia menelisir kamar yang sangat rapi itu, sampai disini ia tahu bahwa dokter Galih orang yang bersih, rajin dan rapi, perfect untuk ukuran pria dewasa yang hidup sendiri.
Ia berguling di kasur yang empuk dan harum itu, berbeda 180 derajat dengan kasur di kosannya yang tipis dan apek sebab jarang dijemur, baru ingin memejamkan mata, kerongkongan nya terasa kering.
Ia berdiri dan berjalan membuka pintu kamar, berniat mengambil minum ke dapur. Sesampai di dapur ia terpaku melihat dua pria muda dengan kadar ketampanan diatas rata-rata sedang mengobrol seru di meja makan.
Ia ingin berbalik, namun naas, keberadaannya sudah tertangkap netra kedua pria tersebut, membuat nya kikuk salah tingkah.
Hening...
Pria berkaos navy dengan tulisan Turn Back Crime itu menatapnya tajam, seolah ia adalah seorang TO yang ingin ditangkap. Menelan ludah kasar, ia mundur perlahan, diliriknya sebentar dokter Galih yang terpaku kemudian memijit pangkal hidungnya, jelas momen ini tak diinginkan dokter muda itu.
"Who is she?"
Detik berikutnya ia sudah berada lagi di dalam kamar dengan nafas memburu, perasaan yang campur aduk, malu, cemas, takut berbaur menjadi satu.
Argghhhh...
To be Continue...
Happy reading, like n komen jangan lupa, kalau tidak keberatan lempar bunga juga boleeeeh heheeee
__ADS_1