
Sonia
"Assalamualaikum, mak amak." Ia mengetuk pintu depan, dan terdengar sahutan amak dari dalam yang tergopoh membukakan pintu, mata amak berbinar melihatnya telah kembali ke rumah.
"Apa ini Son, kok banyak betul." Amak meraih barang bawaannya dan meletakkan diatas meja.
"Dari mama nya kak Dimas."
"MasyaAllah, baik benar Son mereka nyampe ngasih makanan sebanyak ini."
Agil yang keluar dari kamar, ikut-ikutan membantu amak membongkar bawaannya dan seketika berteriak histeris.
"Alhamdulillah, doa Agil dikabulkan Allah mak, horeeee."
"Apa sih Gil." Ia yang sudah ingin masuk ke kamar berbalik lagi demi melihat Agil yang berteriak.
"Kata pak ustad Hannan di masjid kemarin, Allah akan mengabulkan setiap doa yang dipanjatkan terutama pada waktu sujud, nah disujud terakhir sholat magrib tadi Agil minta pistol Agil, eh langsung dikabulkan, pistol Agil balik lagi nih." Bocah itu mengangkat pistol mainan pemberian kak Dimas tinggi ke udara.
"Itu namanya rezeki nak, kalau sudah rezeki gak kan kemana, rezeki yang sudah ditetapkan Allah tidak bisa tertukar apalagi berkurang, maka dari itu kita tidak perlu mengkhawatirkan rezeki, nih lihat mukena amak juga balik lagi."
Ia mengulum senyum kuat, terkadang bahagia itu sederhana, dan ukuran kebahagiaan setiap orang juga berbeda-beda, hanya melihat amak dan Agil senang seperti itu sudah membuat dadanya lapang sekali, maafkan uni Gil, amak.
Selepas membersihkan diri, ia merebahkan tubuhnya di kasur, baru teringat ia bahkan belum mengucapkan terimakasih untuk pemberian kak Dimas ke amak dan Agil, walau bagaimanapun tak enak jika tidak mengucapkan terimakasih sebab telah melihat bahagia amak dan Agil seperti itu.
[Terimakasih untuk hadiahnya ke amak dan Agil]
sent...
Baru ingin meletakkan ponsel diatas meja, benda pipih itu berdering nyaring, ia harus menghela nafas kala melihat kontak yang memanggil, kebiasaan laki-laki itu, tak pernah membalas pesannya dengan pesan juga.
Bukan sesuatu yang baik, berbicara pada laki-laki di jam seperti ini, membuatnya gelisah tak ingin mengangkat panggilan telpon itu, telpon berhenti, namun detik berikutnya bergetar lagi, hingga panggilan telpon keempat ia akhirnya mengangkat nya juga.
"Kok lama." Terdengar suara kak Dimas diujung telpon, membuatnya harus memijit dahi demi menerima kebiasaan laki-laki itu yang tak pernah mengucapkan salam terlebih dulu.
"Ukurannya pas kan buat amak?"
"Iya, terimakasih. Janji ini yang terakhir, jangan kasih-kasih hadiah lagi ke amak dan Agil." Ucapnya.
__ADS_1
"Hei, bukankah kita sudah sepakat tadi, biarkan kakak berusaha dulu."
"Tapi tidak dengan memberi mereka sesuatu seperti itu." Sanggahnya yang justru membenarkan bahwa Dimas diizinkan untuk berusaha merebut hatinya, membuatnya langsung terdiam seketika.
"Sudah malam, aku tutup telponnya, Assalamualaikum." Cepat-cepat ia mematikan ponsel dan meletakkan nya diatas meja, wajahnya mendadak pias dengan pipi merona merah.
.
.
.
Dimas
"Waalaikumsalam." Ucapnya pada sambungan telpon yang telah terputus.
"Selamat tidur Sonia, mimpi yang indah." Senyum nya pada ponsel yang dipegang walau sudah jelas sang gadis tidak akan mendengarnya lagi.
Begini rasanya berjuang untuk cinta, persis seperti menaiki roller coaster, jantung nya dipacu, adrenalin nya tertantang, dan hati jangan kalian tanyakan, bahkan ia bisa senyum-senyum sendiri kendati tak ada angin tak ada hujan.
***
Cuaca terik siang itu, sama sekali tak menyurutkan semangatnya untuk berkeliling mencari sesuatu, sesuatu yang disukai sang gadis pujaan, apalagi kalau bukan bunga mawar.
Ia berhenti tepat didepan kios tanaman bunga hidup, celingak-celinguk mencari tanaman yang dimaksud namun tak jumpa.
"Cari janda pak?" Sang pegawai kios mendekatinya.
Hah,, saya cari bunga bukan cari janda, gila...
"Janda bolong lagi ngetrend sekarang pak."
Dan ia makin terperangah tak percaya, yang benar saja, sudah janda bolong pula ckkkk. Kios ini benar-benar gila.
"Maaf anda jual janda?" Ia mengeryit tajam sembari memicingkan mata.
"Iya pak, janda bolong varian terbaru, dengan ukuran lubang bolongan daun 2,5 cm." Sang pegawai kios meraih pot bunga sejenis tanaman keladi dengan daun berlubang bagian tengahnya.
__ADS_1
Ia mengulum senyum sambil memijit pangkal hidung demi mendapati bahwa yang dimaksud pegawai toko adalah nama tanaman, bukan janda sungguhan.
"Saya cari mawar mas bukan jan-da bo long." Ucapnya kemudian sambil melirik tanaman yang disebut janda bolong oleh pegawai kios.
"Oh, mawar ada di bagian belakang pak, untuk di bikin buket bunga?"
"Tidak tidak, saya ingin mawar hidup lengkap dengan pot pot nya."
"Oh, mari ikut saya pak." Ia mengikuti langkah sang pegawai toko masuk hingga ke bagian terbelakang dari kios. Benar saja, disana banyak sekali varian mawar, ada ukuran bunga yang kecil sampai yang paling besar, dengan warna kelopak yang beragam.
Ia tidak bisa membayangkan jika Sonia diajak kesini, pasti akan sangat senang melihat ratusan mawar berjejer cantik.
"Silahkan dipilih pak mau yang mana."
Ia mengangguk dan berjalan pelan mengitari deretan mawar tersebut, dan akhirnya pilihannya jatuh pada mawar merah muda dengan kelopak bunga yang besar dan durinya yang sedikit.
"Hei mawar cantik, mari kita bekerja sama, katakan pada gadisku nanti, bahwa aku sangat mencintainya, jangan terlalu lama membuatku menunggu."
"Bisakah kau mengatakan nya?"
"Good, aku percaya padamu, kau bisa diandalkan." Ia sedikit menyentil kelopak bunga itu hingga tangkainya sedikit bergoyang.
"Maaf pak, anda bicara pada mawar?" Tiba-tiba saja sang pegawai toko sudah berdiri tepat dibelakangnya dengan wajah terheran, membuatnya kaget bukan main, salah tingkah, ia mengacak rambut belakangnya.
"Ada seseorang yang mengatakan pada saya bahwa tanaman bisa merespon suara." Ucapnya garing menahan malu.
"Setau saya juga begitu, tapi tidak menyuruh mawar jadi Mak comblang juga kali pak." Sang pegawai toko jelas menahan tawa sambil menatap seragam coklat yang ia kenakan dengan papan nama IPTU DIMAS PRAYOGA terpampang di dada sebelah kanan.
Yah, dia pasti ingin mengatakan bahwa aku polisi gila...
"Tolong antarkan bunga ini ke alamat yang saya kasih tadi." Ucapnya datar.
"Siap pak, semoga sukses pak, saya doakan lancar." Sang pegawai toko mengacungkan dua ibu jarinya ke udara.
"Terimakasih." Ia mengangguk dan menepuk pelan punggung pria yang ditaksirnya berusia tiga puluhan itu.
To be Continue...
__ADS_1
happy reading...
lempar mawar juga dong untuk othor hahaaaaa,, iri gua sama Sonia yang dikasih kembang sama pak polici....😂😂😂🙏🙏🙏🙏