The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Mommy mau ketemu kamu...


__ADS_3

Aurora


Ia tersentak saat sebuah mobil BMW X1 bewarna putih menepi persis ke dekat ia berdiri, kaca mobil menurun, menampakkan wajah Byan dari dalam, mengisyaratkannya untuk masuk. Sementara tangan membuka pintu mobil, otaknya justru sibuk memikirkan berapa banyak mobil mewah yang dipunyai pria ini, terakhir bertemu, Byan membawa Lamborghini.


"Perasaan kemaren bukan mobil ini? pake Lambo kan kalo gak salah." Ia mendaratkan bokong di bangku samping kemudi.


"Iya, tadi barusan dari sepedaan sama teman kantor, kalo bawa mobil yang itu, gak muat bawa sepeda."


Ia hanya mengangguk pelan, melirik sepeda lipat di bagian belakang mobil, tak perlu lah repot- repot memikirkan seberapa tebal dompet pria ini, sudah bisa dilihat dari tunggangan serta tempat tinggal Byan yang terletak di apartemen elit kawasan Setiabudi itu. "Jadi mau ngomongin apa?"


"Sambil makan ya, aku lapar." Byan meliriknya sekilas, dan sekali lagi ia mengangguk.


Tak lama, mobil Byan benar- benar berhenti di sebuah rumah makan yang bertuliskan ayam kalasan mbak Utik.


"Mau pesan apa?" Toleh Byan padanya yang mengekor di belakang.


"Teh manis aja, aku udah makan dirumah tadi soalnya."


Mereka mengambil posisi duduk berhadapan di ruangan paling sudut.


"Udah cerita belum ke Fatih, kalau aku ketemu kamu?"


"Kalau yang ini belum sih, tapi pas kita ketemu di Bogor, aku cerita."


Byan mengangguk. "Bisa minta nomor ponsel Fatih, biar aku ngomong ke dia, gak enak ngajakin istri orang keluar, suaminya gak tahu. Bisa kena pasal nanti aku." Kekeh pria itu pelan.


Ia tersenyum menanggapi kekehan Byan, lalu mengeluarkan ponsel, mengetik beberapa angka dan mengirimkannya ke Byan, tak lama ponsel pria itu bergetar dari saku celana.


"Memangnya mau ngomongin apa sih?"


Byan menatap kearah luar, lalu beralih ke pramusaji yang mengantar makanan mereka, tersenyum dan berbasa- basi mengucapkan terimakasih, sebelum akhirnya melihat kearahnya.


"Kalau aku cerita, kamu mau dengarkan?"


Kerutan di dahinya makin dalam, jelas sekali Byan berusaha mengulur- ngulur waktu sebelum bicara ke intinya. Namun tak urung ia mengangguk juga, menunggu.


"Aku tiga bersaudara, Daniel tertua, terus aku dan Abi. Mommy aslinya dari Bali, Daddy Jerman, tapi kecilnya kami di Jakarta. Daddy anggota FBI dulunya, tugas di Texas, sangat sibuk tapi sesekali kami juga kesana nyusul beliau. Lepas pensiun, mommy and daddy netap di Zurich."


" Aku dan Daniel udah nikah. Tapi aku gagal, cerai di satu tahun pernikahan kami. Sedang Daniel, sudah nikah namun belum juga dikaruniai anak sampai kini. Kami tahu Daddy and Mommy sangat menginginkan cucu, tapi kami bisa apa, ditambah Abi yang kacau sejak ditinggal nikah sama pacarnya."

__ADS_1


Byan menyesap minuman, meliriknya sekilas lalu melanjutkan cerita, "Pas pihak kepolisian Tokyo mengirimkan barang- barang Abi yang ditemukan di lokasi kejadian jatuhnya pesawat. Ada foto usg terselip di buku catatan Abi dan tidak perlu menerka, kami sudah tahu itu bayi Abi."


"Jadi kami putuskan untuk mencari wanita pemilik foto usg itu, aku bahkan sempat ke Sapporo waktu itu."


"Kamu nyusul aku ke Jakarta?" Matanya membola menatap Byan tanpa berkedip, setengah tak percaya.


"Yah, bisa dibilang begitu." Byan meringis.


"Sejak ditinggal Abi, mommy nangis terus. Memang diantara kami bertiga, Abi yang paling dekat sama mommy. Kebayang kan, pas mommy tahu, Abi meninggalkan seorang bayi, beliau excited sekali. Mommy langsung minta terbang ke Jakarta waktu Daniel cerita."


"Sebenarnya mommy datang dari minggu kemaren, cuma aku suruh Daniel bawa ke Bali dulu. Aku gak enak, kamu juga lagi ada masalah sama keluarga kamu."


"Gimana masalahnya, udah clear?" Byan menatap ke depan, menunggu jawabannya.


"Udah, u- dah, alhamdulillah, aku bersyukur keluarga aku bisa nerima aku lagi, terutama Fatih dan keluarganya, mereka tidak pernah membahas bayi siapa yang aku kandung."


Byan mengangguk, tersenyum tulus, "Aku bisa minta tolong?"


"Hah...?!"


"Mommy aku mau ketemu sama kamu..."


"Mommy dan Daniel udah di apartemen aku sekarang."


Ia meneguk ludah, gugup jelas."Fatih,, aku mesti ngasih tahu Fatih dulu," gagapnya.


"Iya, telpon Fatih dulu. Aku juga akan ngubungin dia, minta izin."


.


.


.


Byan yang terlebih dulu menelpon Fatih, pria itu keluar. Entah apa yang mereka bicarakan, cukup lama. Hingga Byan masuk lagi dan menyerahkan ponsel padanya."Fatih mau bicara."


"Ya, bang?" Ia meraih ponsel Byan, berdiri dan sedikit menjauh dari sana.


"Gak papa kalau mau ketemu sama mamanya Abi, tapi besok- besok jangan pergi berduaan saja sama Byan. Ajak mama atau Abel. Nanti aku telpon mama, ngasih tau ke beliau." Suara Fatih terdengar di seberang.

__ADS_1


"I- ya, iya bang."


"Jaga kesehatan ya, susu jangan lupa diminum, kalau udah ketemu mama Abi, langsung pulang."


"Siaap capt, Ya udah, tutup telponnya."


"Kiss dulu..."


"Jangan bercanda capt. Muhammad Al Fatih Prayoga."


"Suami minta kiss kok dibilang bercanda, ayooo ditunggu?!"


"Ini public area..." Ia setengah mendengus sambil melirik kearah Byan yang juga sedang menatapnya.


"Byan ngeliatin aku juga...." Bisiknya dramatis dan Fatih terbahak di ujung telpon.


"Ya udah, mmmuaccchhhh muach muach muach I miss you, I love you babeeee..." Suara Fatih terdengar serak, membuatnya jadi membayangkan seberapa panas ciuman pria itu andai ada di dekatnya, aishhhh.... pake nyebut babee lagi, sejak kapan Fatih jadi ganjen.


Ia cepat- cepat mematikan ponsel dan menyerahkan kembali ke Byan dengan wajah pias.


"Kita jalan sekarang?" Byan berdiri, dan ia mengangguk singkat. Sementara Byan membayar makanan, ia berjalan keluar menuju mobil.


.


.


.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke apartemen Byan, ia sudah pernah sekali kesini. Di sofa sudah duduk seorang pria tinggi yang sama tampannya dengan Byan, ia tebak, pria itu adalah Daniel dan seorang wanita paruh baya yang luar biasa cantik.


Melihat wanita itu, ia jadi membayangkan wanita- wanita paruh baya kelas atas yang sering muncul di drama korea, mengenakan blouse mahal yang sangat pas ditubuh, kalung mutiara, wajah, jangan ditanya, entah cream apa yang dipakai hingga nyaris tak terlihat kerutan sedikitpun disana dan terakhir body, wuihhhh berat badan ideal. Membuatnya minder setengah mati sambil mengelus perut buncitnya sendiri.


Keduanya langsung bangkit berdiri saat ia dan Byan masuk.


"Jadi dia yang namanya Aurora? kekasih Abi?" Wanita itu menatap ia dan Byan serta Daniel bergantian.


To be continue


happy reading

__ADS_1


__ADS_2