
Audrey
"Jangan cemas." Kak Galih menggenggam erat tangannya seolah memberi kekuatan magic tak kasat mata agar ia tidak terlalu grogi duduk disana.
Yah, hari ini mereka mengadakan pertemuan bersama pihak Zizi di sebuah resto di daerah Sudirman. Ia yang bersalah sebab telah melukai Zizi jelas khawatir bukan main, walau telah ada kak Galih dan kak Dimas mendampinginya.
Diseberang meja juga sudah duduk kedua kakak beradik Zia dan Zizi serta seorang laki-laki yang ditaksirnya Merupakan pengacara yang disewa pihak Zizi.
"Jadi masih mau menaikkan kasus ini Bripda Arzia Artamevia?" kak Dimas menatap tajam pada sang mantan kekasih, sengaja menekankan suara pada kata 'Bripda' untuk menunjukkan bahwa level pangkat mereka jauh berbeda.
"Luka adikmu bahkan sudah sembuh, itu hanya tergores sedikit, bagaimana dengan lukaku yang kamu buat beberapa bulan lalu, perlu tiga jahitan untuk menutupnya."
Ia dapat melihat, air muka polwan cantik itu mulai menciut.
"Kamu masih di reserse narkoba kan? aku bisa memindahkan mu ke tempat yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya, kamu tau sendiri pengaruhku seperti apa bukan." Kak Dimas mengetuk-ngetuk meja dengan ujung telunjuk nya.
Sang lawan bicara hanya diam seribu bahasa, agaknya kapal mulai oleng hanya dengan sedikit gertakan dari kak Dimas, seorang jebolan Akpol berpangkat IPTU yang sekarang tengah menjabat sebagai Kanit reserse kriminal di Polsek Menteng itu.
"Dia calon istriku, tidak ada yang boleh menyakiti nya baik secara fisik maupun verbal, adik anda sudah mendorongnya lebih dulu dan memfitnah nya, mengatainya seorang pelacur." Kali ini kak Galih ikut bersuara, sontak saja membuat dua kakak beradik itu pucat, ternyata Audrey sama sekali tidak ada hubungan dengan Dimas, melainkan dengan dokter spesialis yang yah cukup famous juga.
Terlebih lagi Zizi, kedua bola mata gadis itu seolah ingin keluar dari sarang saking terkejutnya dengan berita fantastis ini, dan tak elak ia pun rasanya ingin menjerit kala kak Galih mengatakan 'calon istri ku', ohhh my...
"Bagaimana?" Ucap kak Dimas bergantian menatap Zia dan pengacaranya tajam setajam silet, sang pengacara pun nampaknya tidak dapat berbuat banyak, hanya beberapa kali mengeluarkan sapu tangan dan mengelap pelipis nya.
"Kami minta gadis itu meminta maaf pada Zizi." Lirik polwan cantik itu padanya, sudah jelas Bripda Zia telah berubah pikiran.
"Baiklah." kak Dimas mengangguk.
Akhirnya pertemuan itu mencapai titik temu dengan di cancel nya tuntutan, serta ia dan Zizi yang berpelukan saling meminta maaf dan berjanji tidak mengulangi lagi.
***
"Terimakasih kakak-kakak tersayang." Ia berucap tulus dari hati yang terdalam dari bangku belakang pada dua orang laki-laki yang sengaja Tuhan kirimkan untuk menjadi malaikatnya itu.
Kak Galih langsung mengeryit dan menoleh.
"Aku yang kakak tersayang, dia bukan." Pria itu mencibir kearah kak Dimas yang tengah menyetir.
__ADS_1
Ia hanya mengedikkan bahu sambil terkikik.
"Sebagai ucapan terimakasih, aku akan mengundang kakak- kakak sekalian untuk makan diRooftop, mau dimasakin apa? Sengaja ia mencondongkan tubuhnya sedikit kedepan menunggu jawaban.
"Gak ngajak teman Drey?" Suara kak Dimas.
"Teman?"
"Iya, teman kamu yang ..." Suara Dimas terpotong.
"Oh uni Sonia, aku ajak dia pastinya." Ia menyatukan kedua telapak tangan sumringah.
Namun sebenarnya ada yang lebih sumringah lagi darinya ternyata, kak Dimas mengulum senyum penuh arti tanpa disadari baik olehnya maupun oleh kak Galih.
.
.
.
Ia baru saja pulang dari rapat Risma di masjid, membuka hijabnya dan berguling sembarang dikasur, teringat ia ponsel yang sengaja ia tinggal di atas meja belajar tadi. Diraihnya benda pipih persegi panjang itu, terdapat tiga panggilan tak terjawab dari Audrey dan satu pesan.
[Assalamualaikum, uni. Kemana? kok telpon aku gak diangkat? ke Rooftop sore ini ya ni, bantuin aku masak, kita syukuran, Alhamdulillah aku gak jadi dituntut ni]
"Alhamdulillah." ia ikut bergumam senang sembari menyunggingkan senyum bahagia.
[Waalaikumsalam, sorry Drey, uni dimasjid tadi, ponsel tinggal. Alhamdulillah, ikut senang dengarnya sayang. Oke, uni kesana ya]
Ia bersemangat mengambil pakaian ganti di lemari namun tiba-tiba terhenti, ragu untuk melanjutkan, sebab teringat sosok laki-laki itu, bagaimana jika kak Dimas disana juga.
Tapi Audrey pasti kecewa jika ia tidak pergi, dan lagi gadis itu akan curiga. Hufffhhh, bismillah, akhirnya ia berganti pakaian dan memutuskan untuk pergi.
***
Langkahnya pelan kala menaiki tangga menuju Rooftop, diundakan terakhir hatinya langsung mencelos sebab laki-laki yang sangat tidak diharapkan nya untuk berada disana ternyata tengah menyiapkan panggangan berbeque.
Laki-laki itu mengangguk pelan dan tersenyum padanya sekilas, cepat-cepat ia menunduk dan masuk ke dalam.
__ADS_1
"Hei uni!" ia kaget mendapati Audrey sudah berdiri dibelakang nya.
"Uni kenapa? kayak habis lihat setan?" tatap curiga Audrey pada wajah piasnya.
"Ti- dak, tidak ada." ia menyeringai.
Dan sepanjang acara sore itu jadilah ia berdiri kaku menyibukkan diri sendiri menghindari tatapan kak Dimas yang sesekali mencuri pandang padanya , sementara Audrey asyik bercanda dengan sang pacar.
"Kenapa menghindar?" Suara bass tepat terdengar dari arah sampingnya, membuat ia refleks menoleh ke sumber suara, kaget.
Laki-laki itu sudah berdiri didekatnya.
"Saya tanya kenapa menghindar?" senyum kak Dimas padanya namun dengan nada suara seperti tengah mengintrogasi.
"Saya? Sa-ya... Tidak ada." ia tergagap, ingin sekali bersembunyi kedalam lubang semut saat ini.
"Saya tertarik sama kamu."
Degg...
Laki-laki ini sudah tidak waras, berbicara seperti itu disaat Audrey melambai kearahnya, dan dokter Galih tertawa. Dengan mereka dalam posisi berdiri tak nyaman, apa dia selalu sefrontal itu dalam berkata.
"Jadi saya minta jangan menghindar, beri saya kesempatan untuk lebih dekat sama kamu."
"Uniii, kemari, dagingnya udah masak nih!" Audrey setengah berteriak, membuatnya memiliki peluang untuk pergi dari sana dan mendekati Audrey.
Dengan menahan gugup tak terkira, ia mengabaikan kak Dimas yang ia prediksi sedang tersenyum simpul saat ini, laki-laki itu membuatnya jengah.
Ia tau persis pria seperti kak Dimas adalah deretan pria pencinta wanita yang gampang sekali jatuh cinta hanya untuk memuaskan hasrat penasaran mereka, bagaimana tidak, gampang sekali dia bilang tertarik. Dikiranya dengan modal tampang keren bisa langsung meluluhkan hati setiap wanita. You're wrong man cause I'am 'pengecualian'.
To be Continue...
Happy reading yaaa....
jangan lupa like n komen
hadiah juga boleeeehhh🤭🤭😍😍😍
__ADS_1