The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Trio Broken Heart


__ADS_3

Audrey


Ia masih sibuk membersihkan sisa-sisa dari tindakan Heating luka yang ia lakukan pada Dimas, sementara dokter Galih berjalan kearah dapur, entah apa yang pria itu lakukan, mungkin melanjutkan rencana masak tadi yang tertunda.


"Apa lukanya nanti membekas?" Toleh Dimas padanya.


"Maybe yes, maybe no." Jawabnya mengedikkan bahu sambil beranjak membuang sampah medis, berjalan kearah dapur.


"Kita tidak jadi masak, keburu lapar, bagaimana kalau makan di luar?" Tiba-tiba dokter Galih sudah berdiri tepat dibelakangnya. Ia mendesah pelan, demi menyikapi pria itu yang sering melakukan hal-hal tak terduga, seperti tadi mengusap air matanya tanpa permisi.


"Saya pulang saja dok, takut pintu pagar kosan terkunci, sebab kalau sudah lewat jam 10 malam tidak bisa masuk lagi." Jawabnya pelan.


"Yah, jangan pulang dulu dong, aku mau traktir makan nih." Serentak ia dan dokter Galih menoleh pada Dimas yang sudah berada di dapur.


"Bagaimana? rezeki tidak boleh ditolak, mumpung pak Kanit Reskrim mau traktir." Tawar dokter Galih padanya.


Ia berfikir sejenak, menimbang- nimbang, pergi bersama dua pria yang belum lama dikenal tentu bukan ide baik, tapi kedua pria ini juga bukan orang jahat yang perlu ditakutkan, seorang dokter dan seorang polisi pengayom masyarakat, oke tidak ada yang harus dikhawatirkan, hitung-hitung penghematan dapat jatah makan malam, akhirnya ia pun mengangguk.


***


Mobil mereka melaju ditengah keramaian jalan utama yang tak pernah tidur itu, Audrey duduk di bangku belakang, sesekali mengamati lampu berkelap-kelip dari gedung-gedung pencakar langit. Hidungnya yang bulat ia tempelkan pada kaca mobil, tak elak uap yang keluar dari hidung membekas dikaca membuat kaca itu berembun.


"Mau makan dimana Drey?" Suara Dimas mengagetkan nya hingga sontak ia menjauh dari kaca.


"Dimana aja pak, ngikut."


"Jangan panggil bapak lah, umur aku masih 28 loh, kita kan dah teman, panggil abang aja."


"Panggil dia kakak tertua Drey." Sahut dokter Galih.


"Kamu yang kakak tertua, kamu udah 29, aku masih 28 bro."


"Tapi kamu lebih berpengalaman, dah duda dia Drey."Galih sengaja memiringkan duduknya demi menoleh ke belakang dimana Audrey duduk.


"Duda keren upss." Ia cepat-cepat menutup mulutnya sebab keceplosan ngomong.


"Hahaaaaaaa.." Baik Galih maupun Dimas tertawa serentak mendengarnya membuat mukanya memerah menahan malu.


.


.


.

__ADS_1


Menu ayam bakar bekakak jadi pilihan mereka malam itu, makan diselingi candaan dan obrolan ringan membuat mereka saling dekat satu sama lain. Yah, rupanya takdir mempertemukan mereka melalui beberapa insiden yang terjadi.


"Setelah ini aku mau nunjukin tempat bagus buat orang yang lagi patah hati." Galih bersuara disela aktivitasnya menyelesaikan makan.


"Siapa yang patah hati?"


"Kamu, kan barusan diputusin." Tatap Galih pada Dimas.


"Bukannya kamu juga, masih patah hati kan? aku rasa waktu dua bulan belum bisa menyembuhkan, buktinya belum ada tanda-tanda pengganti Donna."


"Masih recovery kalau aku mah."


"Audrey juga baru putus, ia kan Drey?"


Ia yang lagi minum hampir tersedak mendengar ucapan Dimas, lalu cepat-cepat mengangguk antusias serasa baru menemukan koloninya yang telah lama terpisah.


"Jadi apa kita harus membuat sebuah trio?"


"Trio kwek-kwek atau trio apa?"


"Trio Broken Heart." Dimas menatap mereka serius seolah sedang membicarakan target operasi penangkapan bos narkoba.


"Trio Broken Heart?" Ia membeo.


"Iya adik kecil, bagus bukan?"


"Aku rasa itu ide yang bagus kakak tertua." Galih memberi hormat, menyatukan tinju kanan dengan telapak tangan kiri yang terbuka, persis seperti Pat Kai yang memberi salam pada Kong Hu Chu dalam cerita perjalanan ke barat.


"Hahaaaaaaa..."


.


.


.


"Ini dia tempatnya." Suara teriakan Dimas bertabrakan dengan angin kencang disana.


"Huhuhuuuuh Whoaaaaaaa."


Hanya Audrey yang terpaku, terhenyak, terdiam, apalagi istilah untuk mengatakan rasa yang berkecamuk dalam dadanya, ia ingin menangis.


"Hei, come on, Why ?" Galih mendekati nya.

__ADS_1


Mereka sekarang sudah berada di Rooftop gedung pencakar langit, indah, sangat indah berada diketinggian dengan view langit pekat yang ditaburi jutaan bintang berkelap-kelip, namun sialnya itu gedung yang sama dimana Bayu memutuskan nya tiga hari lalu.


"Ini tempat aku diputuskan beberapa hari lalu."Ucapnya pelan namun masih didengar Galih.


"Hahaaaa, jadi kita salah milih tempat nih, mau pindah ke gedung lain?"


"Tidak, tidak perlu, ayo!" Ia berlari kecil menuju Dimas di ujung.


"Sayaaaang, I LOVE YOU!!!" Dimas berteriak lantang menengadah ke langit.


"Aku tau kamu sekarang sudah bahagia disyurga, salam rindu dari aku dan anak kita, Ara sudah tiga tahun sayang, dia sudah bisa berceloteh, Ara mirip sekali denganmu." Air mata keluar dari sudut mata pria itu, membuat Audrey dan Galih saling tatap.


Yah tidak ada yang lebih memilukan dari pada merindui seseorang yang sudah tiada, ingin memeluk nya namun tak bisa. Jangankan Dimas, seorang jenderal sekelas bapak Susilo Bambang Yudhoyono pun menitikkan air mata saat ditinggal pergi selamanya oleh ibu Anhy Yudhoyono.


"Kuat bro!!" Galih meninju pundak Dimas.


***


"DONNAAAAAA, aku tau saat ini kamu sudah bahagia, yah kamu pasti bahagia, kamu pantas bahagia, terlalu pantas."


"Aku akan melupakan mu mulai malam ini, aku juga akan mencari bahagiaku sendiri, selamat tinggal." Teriak Galih ke langit.


Malam ini ia menyadari bahwa dua pria yang tengah bersamanya saat ini hanyalah para lelaki rapuh yang kehilangan sandaran nya, terlepas dari profesi apapun yang disandang mereka, mereka hanyalah dua orang yang harus rela melepas separuh jiwa mereka pergi.


"Giliran mu!" Toleh Galih padanya. Ia terkesiap sebentar lalu mengangguk.


Lama, ia tidak berteriak seperti dua pria itu, ia hanya menatap langit dalam, wajah Bayu terukir di atas sana membuat batinnya makin teriris.


"Maafkan aku Bayu, maafkan."


"Aku tau kamu sangat terluka, kamu terluka melebihi aku bukan?"


Aku sungguh tidak tau, aku sama sekali tidak tau kalau oom itu ayahmu, aku tidak tau hiks hiks...


"Aku ingin waktu bisa diulang, aku ingin mengatakan nya padamu, aku ingin bilang aku sedang kesulitan finansial, aku ingin katakan aku butuh bantuanmu, aku akan katakan aku ingin bersandar padamu, maafkan aku."


"Satu hal yang mesti kau tau, bahwa aku tidak seperti yang kau sangkakan, aku bukan pelacur, tidaak, aku bukan pelacur Bayu, percaya padaku, aku khilaf malam itu, tapi Tuhan masih melindungi ku, aku tidak sekotor yang kau kira."


"Kau ingin aku melupakanmu bukan? baiklah mulai malam ini akan aku hapus semua memori ku tentang mu, semesta akan membantuku melupakanmu, nanti ada masanya ketika kita bertemu lagi, jantung ini akan berdetak seperti biasa, hati ini akan biasa-biasa saja melihatmu dan kita akan menjadi orang asing yang tak saling mengenal, sesuai permintaanmu, maafkan aku, berbahagialah dalam hidupmu."


"BAYUUU!!! huaaaaaa hiks hiks."


To be Continue...

__ADS_1


Sehat selalu readers tersayang...


Terimakasih telah membaca karyaku...


__ADS_2