The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Rundan Wa Ari Masu Ka ?


__ADS_3

Rundan Wa Ari Masu Ka?


(Apakah ada Rendang?)


Fatih


Ia menatap Rora dengan outfit andalan gadis itu sejak di SMA, tidak berubah. Sangat santai, mengenakan kaus polos dibalut luaran bahan rajut berlengan panjang dan jeans, rambut diceplok tinggi serta tas selempang di bahu, outfit yang cocok di musim gugur saat ini. Rora tampak seperti gadis berusia tujuh belas tahun, jauh lebih muda dari usianya.


Sangat berbeda dari Kikan yang selalu tampil elegant dan anggun dengan wajah dibalut make up, bibir dengan pewarna yang berganti setiap berkencan dan tentu saja barang branded menempel dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Kenapa, penampilan ku aneh?" Rora berjengit memergokinya tengah menatap lekat pada gadis itu.


"Hah...Ti-dak. Ayo kita mau kemana?"


"Ada banyak destinasi wisata disini, ada pasar Nijo, Odori park, Museum bir Sapporo, taman Moerenuma, Yagai Sapporo art museum, historic village of Hokkaido dan Jozankei." Ia melihat takjub pada Rora yang dengan lugasnya mengucapkan semua tempat wisata disana.


"Jadi pilih mau kemana, hari ini aku akan jadi guide."


"Terserah mau kemana, aku ikut." Ia mengedikkan bahu.


"Baiklah, kita ke Jozankei. Musim gugur seperti ini bagusnya berendam di pemandian air panas sambil menikmati pemandangan dedaunan yang memerah."


"Tunggu, aku tidak bawa baju ganti."


"Disana ada banyak yang jual pakaian, beli saja." Rora berjalan menduluinya.


"Kita ke stasiun Hakodate, dari sana naik bus kurang lebih satu jam."


"Baiklah." Mereka berjalan beriringan dan berjarak, sesekali Rora mendahului langkahnya. Sepertinya gadis ini sudah tidak canggung lagi berinteraksi dengannya.


Berdua mereka duduk di bangku yang bersebelahan. "Nanti disana ada Futami Tsuribashi, kita naik ya." Toleh Rora sekilas.


"Apa itu?" Semua yang disebut Rora terasa asing didengar.


"Jembatan gantung heheee..." Dan untuk pertama kalinya Rora tertawa lagi padanya setelah sekian lama.


***


"Matcha!!"


Rora setengah berlari kecil menapaki jalan setapak, sesekali tertawa dan mengabadikan fotonya sendiri dengan latar belakang dedaunan yang bergradasi kemerahan disana.


"Nah itu dia tempatnya?!"


Dari sini ia bisa melihat kolam-kolam air panas dengan bebatuan besar mengelilinginya, sungguh pemandangan yang luar biasa, menakjubkan.


"Beli pakaian disana, aku duluan ya." Ia hanya mengangguk kecil melihat punggung Rora yang lebih dulu menuruni anak tangga batu menuju pemandian air panas.


.


.


.


Aurora


Walaupun sudah satu tahun lebih tinggal di Sapporo, ia terbilang jarang berekreasi seperti ini. Untuk itu, saat ada kesempatan, ia tidak menyia-nyiakannya.


Bersandar pada batu sambil berendam air panas dengan view alam yang menakjubkan dimusim gugur, aishhhh senangnya.


Dan pemandangan bertambah indah saat dilihatnya seorang pria berperawakan tinggi dengan otot bisep Trisep yang woow sempurna sedang melakukan pemanasan memunggunginya dari jarak 20 meter.


Saat pria itu berbalik, ia terperangah. Ternyata Fatih, kenapa badan nya bisa jadi sebagus itu tanpa baju. Sadar Rora, he just your cousin. Ia menggelengkan kepala terkekeh sendiri.


Lalu melambaikan tangan kearah Fatih, yah sejak kemarin ia sudah memantapkan hati untuk melihat Fatih hanya sebagai saudara, tidak lebih. Dengan begitu tak akan ada lagi kecanggungan diantara mereka.


"Indah bukan?"


"Perfect..." Fatih ikut menceburkan diri dan berjalan mendekatinya.

__ADS_1


"Abis ini kita makan terus ikut tur bus Koyo Kappa mau?"


"Apa itu?"


"Tour berpesiar pakai bus selama satu jam mengelilingi Jozankei, bayar 500 Yen." Ucapnya sambil memainkan air dan menciprat-cipratkannya.


"Boleh." Fatih mengangguk setuju sambil menghindari cipratan air darinya.


Melihat Fatih tampak tak nyaman, ia makin kencang menciprat-cipratkan air tanpa berdosa. "Heiii?!" pria itu menahan lengannya dan ia tertawa.


"Jangan salahkan, kamu yang mulai." Fatih tak mau kalah, mengambil air dengan kedua telapak tangan dan menyiram tepat ke wajahnya.


"kamuuu... Aku hanya menciprat, kamu menyiram?!" Ia membalas tak kalah sengit.


Akhirnya aksi siram-siraman air berlangsung, keduanya tertawa saling menghindar sampai kelelahan.


"Lihat! tanganku sudah mengkerut, ayo udahan." Ia berjalan ke pinggir dan di bantu Fatih untuk naik ke tepi.


Lepas berganti pakaian, mereka menuju sebuah kedai yang menjual makanan di pinggir jalan.


"Mau makan apa?" Tolehnya pada Fatih yang berjalan sejajar dengannya.


"Yang hangat-hangat, disini ada soto gak?"


"Kita tanya dulu, biasanya ada sih." Mereka mendekati bapak pemilik kedai.


"Sumi masen Supu wa ari Masu Ka?"


(Permisi, apakah ada soto?)


"Hai Ari masu."


(ya, ada)


"Ikura Desu ka?"


(Berapa harganya?)


"Supu o duta sara kudasai"


(Minta Soto dua piring)


"Supu o futa sara desu ne. Wakari Mashita. Arigatou gozai - Masu."


(Soto dua piring ya? Baik. Terimakasih.)


Ia mengajak Fatih duduk di bangku paling pojok.


"Lancar ya Japan Language nya." Fatih berseloroh.


"Aku dokter di RS Hokkaido kalau kamu lupa." Kekehnya pelan, sepersekian detik bersitatap dengan wajah tampan Fatih, lalu cepat-cepat ia mengalihkan pandangan.


"Itu si bapaknya datang. Coba tanya ada rendang gak." Fatih tersenyum jahil.


"Rendang? what? ini Japan bukan Indonesia yang setiap sudut ada rendang."


"Tanya dulu, kali aja ada."


Si bapak meletakkan dua piring soto diatas meja sambil tersenyum.


"Sumi masen, Rundan wa ari Masu Ka?"


(Permisi, apakah ada rendang?)


"Sumi masen, Ari masen."


(maaf tidak ada)


***

__ADS_1


"Apa katanya?" Ucap Fatih saat punggung si bapak telah menjauh.


"Dia bilang, orang bodoh mana yang tanya rendang disini." Jawabnya sambil mencibir.


"Hahaaaa.... orang bodohnya Rora, Aurora." Gelak Fatih dan detik berikutnya sendok sudah melayang ke jidat pria itu, membuat Fatih meringis mengelus bagian kening.


Perjalanan mereka dilanjutkan dengan menaiki Tour bus Koyo Kappa selama satu jam. Cukup melelahkan, tapi ia senang.


Hari mulai gelap saat mereka mengakhiri petualangan, sengaja keduanya berjalan kaki dari halte menuju apartemennya.


Tepat di persimpangan menuju apartemen, ia sempat membeli cotton candy, dan dengan santainya melahap sambil berjalan.


"Mau?" Tolehnya pada Fatih yang hanya menggeleng. Jelas Fatih menggeleng, ini adalah makanan paling tak disukai pria itu sejak kecil.


"Ayolah, sedikit saja." Ia sengaja menempelkan cotton candy itu tepat di bibir Fatih dengan jahil.


"Tidak..."


"Itu kamu cicip, ayo lagi lagi." Ia semakin menyodorkan benda tersebut ke mulut Fatih hingga yah belepotan.


"Sini gantian?!" Fatih menarik lengannya dan menguncinya, menyodorkan cotton candy tepat ke wajahnya.


"Jangan Fatih,, issh lengket tauu?!" Cepat-cepat ia mengeluarkan tissue basah dari dalam tas dan mengelap wajahnya sendiri lalu melempar sisanya ke wajah Fatih.


"Hahaaa...."


.


.


.


Fatih


Hari ini walaupun agak lelah, tapi menyenangkan. Entah kapan terakhir ia merasa bisa tertawa lepas seperti ini.


"Hati-hati ya, kabari aku jika sudah sampai hotel." Rora melambaikan tangan saat ia berbalik ingin pergi dari sana.


Ia tersenyum, "Terimakasih untuk hari ini."


"Yaap sepupuku." Cengiran khas Rora yang dulu selalu mewarnai hari-hari nya kembali keluar. Gadis itu telah berubah menjadi Rora yang ceria seperti lima tahun lalu.


***


Ia tiba di hotel lima belas menit kemudian, bersih-bersih dan langsung beranjak ke ketempat tidur. Ia menutup kepalanya dengan bantal sambil berbaring, mencoba memejamkan mata, namun sudut bibirnya tertarik saat ingatan tentang Rora melintas, "Mau... Ayolah sedikit saja....Itu kamu cicip, ayo lagi lagi ." Ckkk... Gadis itu.


Kemudian membuka tutupan kepalanya dari bantal, saat teringat...


"Hati-hati ya kabari aku jika sudah sampai hotel."


Ia meraih ponsel dan mencoba mengetikkan sesuatu.


Aku sudah sampai, kamu sedang apa?...


Menghapus


Aku sudah sampai, selamat tidur....


Menghapus


Arrgghh... Ia menggeram sendiri, semua terdengar seperti basa-basi baginya. Untuk mengirim sebuah pesan saja ia harus uring-uringan. Akhirnya,


Aku sudah sampai.


Send



To be continue

__ADS_1


happy reading...


__ADS_2