
Waktu nulis part ini, mengingatkan ku akan penyakit lain yang membuat seorang ibu muda nan cantik pergi untuk selama-lamanya. Meninggal dalam kondisi hamil tua pertengahan Juli lalu. Dirawat di ICU, tapi sangat disesalkan, bayinya belum sempat dikeluarkan jadinya ikut meninggal didalam bersama beliau. Selamat jalan sahabat sekaligus seniorku, Allah mencintaimu. Husnul khatimah Ns. Noza Arizona, S. Kep beserta dedek bayi.
Allahumma firlaha warhamha waafiha wafuanha...
***
Aurora
Sore itu juga, papa membawanya ke Rumah Sakit. Wajahnya sudah pucat, putih seperti kertas. Jika benar tebakannya, ini adalah kanker yang bisa berubah agresif dalam waktu singkat, ia hanya bisa pasrah bersama bayinya.
Pemeriksaan darah langsung dilakukan ketika mereka masih di IGD, sedang pemeriksaan biopsi jaringan pada sesuatu yang menonjol di area ************ nya dilakukan keesokan harinya.
Ia sangat bersyukur perkembangan dunia kesehatan dan kedokteran sudah begitu maju saat ini, hingga tidak perlu menunggu waktu yang lama untuk tahu hasil pasti diagnosa penyakitnya. Dan tim dokter mendiagnosis nya dengan non- hodgkin's Lympoma, kanker kelenjar getah bening stadium 2, persis seperti dugaan nya.
Kanker ini bisa disembuhkan dengan pasien yang memiliki imun tubuh yang kuat, faktor usia yang masih muda dan tidak ada penyakit penyerta lainnya. Namun yang memberatkan dalam kasusnya adalah karena saat ini ia sedang hamil. Transplantasi induk merupakan cara tepat untuk menghilangkan sel kanker, namun sebelumnya harus dilakukan kemoterapi terlebih dulu, dan jelas option kemoterapi sangat tidak dianjurkan untuknya saat ini.
Satu-satunya jalan adalah dengan mengorbankan sang bayi, dan ia menolak keras saat om Freedy, rekan dokter papa yang menanganinya menyampaikan itu.
"Tidak ada yang dikorbankan om. Kalaupun harus mati, aku akan mati bersama bayiku." Ucapnya dingin.
"Hei...What do you think? Kita disini cari solusi, tidak ada yang bicara soal mati!" Om Freedy menggeram.
"Kamu tahu sendiri kita sekarang berlomba dengan waktu, kanker itu bisa berubah agresif kapan saja, sementara kehamilanmu membuat tindakan dokter terbatas hanya pada terapi biologis." Kali ini suara om Freedy sedikit melunak, lebih ke membujuk.
"Ada solusi lain, tapi fifty fifty. Mungkin kita bisa melahirkan bayinya secara prematur di usia 28 minggu, yang penting paru-paru bayi sudah mampu mengembang di luar rahim, selanjutnya dilakukan perawatan intensif." Papa bicara getir dengan tatapan yang sangat sulit ia artikan.
Ia tertegun, terdiam cukup lama kemudian menghela nafas panjang, "Rora percaya papa, Rora serahkan semua keputusan pada papa." Ucapnya pelan sambil menatap papa dan om Freedy bergantian.
"Untuk sementara mungkin itu bisa jadi alternatif, tapi menunggu waktu kehamilan 28 minggu, kita tidak bisa menjamin sel kanker itu tidak terus berkembang."
__ADS_1
"Satu bulan lagi, mungkin satu bulan jeda waktu ke 28 minggu kita bisa drop dengan terapi high imunitas yang tidak membahayakan bayi." Kali ini papa bicara mantap, entah itu untuk membangun semangatnya atau apa, yang jelas papa terlihat optimis.
Perlahan om Freedy mengangguk setuju. Tepat saat itulah pintu ruangannya terbuka, memunculkan wajah Fatih disana, membuatnya yang tadinya tegar langsung merapuh dan ingin menangis di pelukan laki-laki itu.
Fatih menyalami papa dan om Freedy sebelum beralih padanya, Fatih memeluknya erat, erat sekali. Mereka diam, Fatih tidak bicara, begitupun dengannya, seolah kehilangan segala kata, ia menangis dalam diam.
Papa dan om Freedy meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan itu. Berada dalam kungkungan lengan Fatih yang kokoh, ia merasa aman dan terlindungi, ia percaya semua akan baik-baik saja, all is well.
Dibawah terangnya cahaya lampu kamar rumah sakit, Fatih menggenggam tangannya. "Just tell me what should I do to help you."
Ia mengangguk pelan.
Fatih menangkup wajahnya dan memutarnya hingga mereka beradu pandang." Janji sama aku Ra. Kamu tinggal bilang ke aku harus ngapain untuk membantu. Aku cuma pengin kamu sembuh."
Dihadapan Fatih, ia mengangguk.
"Janji?"
Fatih tersenyum. Detik itu, ia merasakan kehangatan mengaliri tubuhnya. Ketika Fatih mendekapnya dan mengecup keningnya, ia tahu, ia akan sembuh.
Seutuhnya.
.
.
.
Akhirnya, tawaran yang diajukan papa untuk melahirkan bayinya secara prematur disetujui oleh tim dokter yang menanganinya. Empat minggu penuh menunggu paru-paru bayinya bisa mengembang di luar rahim. Dan hari ini, lahirlah seorang bayi mungil, sangat mungil dengan berat hanya 1950 gram.
__ADS_1
Ia menangis ketika melihat betapa rapuh dan mungilnya bayi itu, "Bertahan nak..." bisiknya pelan. Yah, hanya itu doa yang bisa ia berikan pada bayinya, bayi yang seharusnya masih tidur nyenyak dalam rahim, yang seharusnya masih berbagi makanan dengannya di dalam perut. Tapi harus dikeluarkan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
Namun ia percaya papa akan memberikan yang terbaik untuk bayinya. Ada mama, mama Sonia dan juga mommy Byan yang akan merawat bayinya selama ia dalam masa terapi. Bayi itu dikelilingi malaikat- malaikat tanpa sayap, bayinya akan kuat dan mampu bertahan.
Melihat keluarga nya yang begitu menyayanginya serta Fatih yang tak pernah melepaskan tangannya lah yang membuat keinginannya untuk hidup semakin menjadi-jadi. Ia tidak akan kalah oleh penyakit ini, tak akan.
Fatih sudah pindah lagi ke flight domestik sejak mengetahui penyakitnya, walaupun tidak mengurangi tingkat stress saat bekerja, hampir sama sebenarnya. Ia sangat tahu pekerjaan Fatih rentan terhadap stress, seorang pilot bertanggungjawab penuh pada semua kru dan penumpang saat terbang. Ketikaย landing, dibutuhkan konsentrasi tinggi, karena pilot harus menjaga kecepatan laju pesawat, menyesuaikan titik luncur, membaca cuaca, sampai memperhatikan kecukupan bahan bakar.
Dan ketika pulang, Fatih harus dihadapkan pada kenyataan tentang penyakitnya. Sehingga membuatnya sebisa mungkin terlihat tegar dihadapan Fatih, ia selalu memakai makeup untuk menutupi wajahnya yang pucat, tersenyum ceria di depan laki-laki itu.
Seperti malam ini, dan malam-malam sebelumnya, Fatih akan setia menemaninya. Fatih sama sekali tak menganggap nya sakit, entah itu hanya upaya pertahanan diri, ia tak tahu.
Dengan lembut, Fatih menangkup sisi wajahnya dan mendaratkan ciuman di bibirnya. Sudah tidak terhitung berapa kali ia merasakan ciuman itu, nyatanya ia masih belum merasa imun.
Setiap kali Fatih mencumbunya, Fatih selalu berhasil membuatnya menginginkan lebih. Fatih selalu tahu caranya membuai, dan membuyarkan semua isi kepalanya hanya dengan cumbuan pria itu. Fatih selalu tahu caranya memanjakannya, bahkan tanpa perlu diminta.
Satu hal yang pasti, Fatih selalu tahu bagaimana caranya mencintai. Karena Fatih lah, ia pun belajar hal yang sama. Mencintai pria itu tanpa syarat, seperti Fatih yang mencintainya tanpa harus menuntut.
"Kenapa berhenti?" Tanyanya, saat menyadari Fatih tidak lagi menciumnya.
"Thank you and I love you."
Fatih kembali menciumnya, kali ini terasa lebih menuntut dibanding sebelumnya. Ia melingkarkan lengan ke leher pria itu dan membalas ciuman Fatih dengan tuntutan yang sama.
Ia hanya ingin Fatih tahu bahwa ia menginginkan laki-laki itu. Selalu menginginkannya.
To be Continue
Happy reading yaaaa
__ADS_1
sehat selalu, lancar rezeki nya dan terakhir jangan lupa bersyukur ๐๐๐๐๐