The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Berlapang dada lah


__ADS_3

***


Aurora


Cuti yang bersisa tiga hari terpaksa harus ditambah lantaran papa dan mama ngotot menahannya untuk tinggal.


Hari ini bahkan papa bersemangat sekali mengajaknya berkeliling klinik yang sudah bertransformasi menjadi Rumah Sakit itu.


"Rumah Sakit ini papa rintis sudah hampir 26 tahun yang lalu. Awalnya hanya klinik bersalin kecil, tempat papa buka praktek sore hari." Kekeh papa sambil merangkul bahunya berjalan menyusuri koridor.


"Lihat Rooftop yang di gedung sana, itu adalah tempat bersejarah papa dan mama mu. Saking bersejarahnya sampai sekarang, anniversary kami rayakan disana berdua."


"Oh ya, bersejarah seperti apa misalnya?" Tolehnya pada wajah papa yang selalu tersenyum hangat jika itu membicarakan tentang mama, membuatnya iri, masih adakah satu stok pria seperti papa, ia ingin.


"Papa dan mamamu memulai hubungan dari sana, menikah disana, menghabiskan masa honeymoon disana, lahirnya kamu juga waktu kami masih tinggal disana. Eh papa Dimas dan mama Sonia juga kenalannya disana, di Rooftop itu."


"Oh ya?"


"Hmm... Bersejarah sekali. Makanya selalu papa jaga."


"Nah sekarang, papa ingin kamu yang melanjutkan Rumah Sakit ini, harus ada yang mengambil tongkat estafet kepemimpinan. Makanya papa ngotot pingin kamu jadi dokter. Papa lambat laun akan menua dan tiada. Papa ingin Rumah Sakit kita akan terus berjaya sampai generasi berikutnya."


Ia tersenyum kecut, berusaha mengalihkan pandangan ke segala arah agar tidak melihat wajah papa. Entahlah, untuk saat ini ia sama sekali belum berminat untuk kembali.


Kontraknya di Hokkaido masih enam bulan lagi, ia masih bisa berfikir sebelum memutuskan untuk kembali atau tidak.


.


.


.


Galih


Dia gadis yang kuberi nama Aurora 24 tahun silam. Bintang hatiku, penyemangat hidup, penerang jiwaku. Tak menyangka ia akan tumbuh menjadi gadis cantik, cerdas dan berbakat. Wajahnya mirip Audrey, yang jika ia tersenyum maka siapapun akan takjub padanya.


Tapi entah hanya perasaanku saja, sepertinya Roraku menyimpan sesuatu. Ada yang ia sembunyikan dan kentara sekali jika ia menghindar untuk pulang dalam beberapa tahun belakangan.

__ADS_1


Sudah empat tahun berturut-turut kami tak pernah merayakan lebaran di Indonesia, lantaran Rora yang katanya sibuk tak sempat pulang. Akhirnya kami yang ikut dia berlebaran di negeri menara kembar dan satu tahun kemarin di negeri Sakura.


Kali ini, aku tak bisa untuk tidak bertanya. Ku tatap dalam wajahnya, Rora memang lebih terbuka padaku ketimbang mamanya. Mungkin kami memiliki ikatan batin yang sangat kuat.


"Ada masalah nak? ceritakan ke papa."


"Papa tau mesti ada yang kamu sembunyikan dari kami, ada yang kamu hindari."


Ku lihat, mata Rora membulat. Gadis itu menggeleng pelan.


"Ada orang yang kamu sukai? kamu menghindari orang tersebut?"


Sontak Rora terbelalak, sudah kuduga. Dia persis seperti Audrey, cepat ditebak. "Jadi who is he? can you tell me?"


"No..."


"Come on, I'm your Daddy.."


"He didn't love me..." Rora menghembuskan nafas pelan.


"Karena dia kamu memutuskan untuk tidak pernah pulang?"


Aku menghembuskan nafas panjang." Papa juga pernah seperti kamu." Kutatap wajah anakku hangat. "Mencintai orang yang salah."


"Sebelum bertemu mama?" Rora menebak.


Aku mengangguk singkat." Dia adik angkat papa dulu. Entah mengapa papa sangat menyukainya, papa berniat melamarnya, bahkan cincin sudah papa beli. Tapi kami tidak berjodoh."


"Tidak selamanya kita bisa menghindar, sebab menghindar adalah perbuatan pengecut. Berlapang dada lah terhadap sesuatu yang bukan ditakdirkan untuk kita. Ada banyak kebahagiaan nanti yang datang setelahnya."


Rora mengangguk penuh arti. "Kontrakku di Hokkaido masih enam bulan lagi."


"Papa akan menunggu waktu itu...."


"Ayo, kita pulang. Mamamu menelpon tadi, dia sudah masak pindang tulang khas Palembang." Aku antusias meraih lengan putriku. Ia tersenyum janggal dan menggandengku erat.


"Papa kenapa tidak pernah protes masakan mama?"

__ADS_1


"Protes kenapa?"


"Ya Tuhan,papaaa... Masakan mama payah?!"


Aku tergelak, sebab bagiku tidak ada masakan yang terlezat di dunia selain masakan Audrey, walaupun yahh aku tidak menampik perkataan Rora, bahwa masakan mamanya sedikit payah.


.


.


.


ABI


Aku hanya mendengung menanggapi panggilan si resepsionis di telepon, lalu menggeliat sambil meregangkan otot-otot yang terasa sakit. Dari ujung mata aku bisa melihat seorang cewek berambut blonde tengah terlelap di sampingku. I don't know who she is, tapi yang pasti permainan semalam membuatku cukup puas.


Setidaknya, untuk sementara.


Setelah telepon si resepsionis ditutup, kali ini ponselku yang berdering. Dari sopir yang ditugaskan oleh maskapai penerbangan tempatku bekerja untuk menjemputku dari hotel dan mengantarkanku ke bandara. Dia sudah siap di lobi, padahal seharusnya dia datang setengah jam lagi. Tapi setidaknya sopir itu membuatku punya alasan untuk segera angkat kaki dari sini, untung-untung sebelum si blonde bangun, dan menghindarkanku dari rajukannya yang bikin pusing.


Having one night stand is great. Namun, masalah setelahnya yang bikin pusing karena perempuan-perempuan itu sepertinya tidak mengenal istilah one night stand. Mereka hanya tahu istilah komitmen. Persetan dengan komitmen karena itu sesuatu yang tidak akan pernah kuberikan.


Dulu sekali, aku pernah memberikan hatiku untuk seorang perempuan. Namun, aku malah dicampakkan begitu saja.


“Maaf, aku tidak bisa menikahimu. Aku tidak sanggup hidup dalam kekhawatiran terus menerus karena pekerjaanmu. Kita tidak bisa bersama.”


Kalimat itu masih terngiang di telingaku. Alasan yang sangat mengada-ada. Namun, alasan bullshit itu nyatanya sukses meruntuhkan pertahanan hatiku hingga aku jadi mati rasa.


Sekali lagi aku menatap perempuan yang tengah terlelap di tempat tidurku. Tidak perlu bermain hati untuk merasakan kenikmatan sesaat.


Aku menatap seragam yang selalu kupakai. Tidak pernah sekalipun terpikir kalau hidupku akan sama seperti pesawat. Selalu terbang ke sana kemari, dan hanya sesekali mampir. Empat puluh lima menit waktu yang dibutuhkan untuk bongkar muatan di setiap bandara, sebelum akhirnya kembali terbang. Well, aku mungkin butuh waktu sehari dua hari untuk berdiam di suatu tempat sebelum akhirnya kembali terbang.


Terbang sudah menjadi bagian dari hidupku. Terlebih sejak empat tahun lalu, ketika aku berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak pernah menetap lama di suatu tempat.


Aku pun meninggalkan si blonde yang masih tertidur pulas. Tidak ada ucapan selamat tinggal. Tidak ada ciuman selamat jalan. Karena setelah ini, aku tidak akan bertemu dia lagi.


Kututup pintu kamar hotel di belakangku. I'm ready to fly.

__ADS_1


To be Continue


happy reading


__ADS_2