
Fatih
Ia tidak habis pikir dengan isi kepala Rora saat ini. Bisa-bisanya gadis itu meragukan kesungguhan hatinya setelah apa yang ia perjuangkan untuk hubungan mereka.
"You should slept." Ucapnya pelan lalu melepaskan Rora.
Yah, mungkin Rora letih setelah perjalanan mereka dan acara dinner tadi. Maka ia pergi meninggalkan Rora yang masih mematung, ia menutup pintu kamar hotel pelan dan berjalan keluar. Setidaknya ia butuh sedikit udara segar untuk mengisi paru-parunya yang terasa sesak.
.
.
.
Aurora
Suasana kamar tampak gelap ketika ia terjaga, ia menoleh ke sisi lain tempat tidur yang terisi penuh oleh sosok Fatih. Laki-laki itu meringkuk memunggunginya, perasaan menyesal kembali menghampiri ketika ia berusaha meraih Fatih, namun gapaian tangannya hanya berhenti di udara.
Dan tepat saat itulah Fatih berbalik, mata Fatih terbuka, namun tidak ada suara yang keluar dari bibirnya. Ia memberanikan diri untuk beringsut memangkas jarak diantara mereka dan disambut Fatih dengan pelukan hangat serta kecupan ringan di keningnya.
"Maafkan aku bang." Bisiknya parau.
"Jangan pernah seperti itu lagi, you hurt me. Aku sangat mencintaimu Rora, terlepas dari apapun keadaanmu saat ini."
"Maafkan aku, aku terkadang merasa tidak pantas berada disisi abang, aku merasa kecil ketika berada di dekat abang setelah semua yang terjadi padaku."
***
Fatih
Ia meraih wajah Rora, menangkupkan kedua telapak tangannya diwajah mungil itu,"Sekarang aku tanya ke kamu, kalau seandainya kondisinya kita balik. Aku yang sakit, aku yang kehilangan rambut dan berat badan, apa kamu akan pergi dan meninggalkan ku hanya untuk laki-laki lain yang lebih tampan?"
Dengan cepat Rora menggeleng kuat,"Tidak, tidak akan."
"Aku juga seperti itu Rora, cintaku tidak sedangkal itu, kalau kamu pikir cinta hanya soal nafsu, kamu salah besar. Cinta lebih dari itu, kalau saja kamu tahu seperti apa aku saat melihat kamu menderita melawan penyakit itu. Setiap hari aku ketakutan, takut kamu pergi dan tak pernah kembali, takut melihatmu memejamkan mata, karena entah apa bisa aku melihat mata itu terbuka lagi esoknya. Maka aku sangat bersyukur untuk hari ini, untuk momen ini. Aku masih bisa memelukmu, masih bisa mencium mu seperti ini."
Ia menempelkan bibirnya ke bibir Rora, pelan, dalam dan lama.
"I love you Rora. My heart is yours. That's my Rora, you know."
__ADS_1
Detik itu, bisa ia lihat Rora menangis di pelukannya, dan ia pun tak kuasa untuk tidak mengeluarkan air mata.
"Setelah hari ini, jangan pernah ragukan hatiku lagi, berjanjilah padaku. It's gonna be a rough journey for us. There'll be tears, laugh, joy, heart broken in front of us. But today we realise that we will find a way to overcome it. Today I promise you to never let you go. I promise to love you, not only today, but also tomorrow and forever."
"Until the end of our life."
Dan ia tidak hanya mengucapkan janji itu pada Rora, tapi juga berjanji sepenuh hati dihadapan Tuhan.
Rora makin memeluknya erat.
"I promise you to love you, not only today, but also tomorrow and forever. Until the end of our life." Bisik Rora mengulang apa yang baru saja ia ucapkan untuk gadis itu.
Ia mengecup kening Rora," I love you, I really meant it."
Andai Rora tahu, bahwa ia sudah jatuh terlalu dalam, ia sudah jatuh cinta terlalu dalam pada gadis ini. Ia sudah berjanji dihadapan Tuhan untuk selalu menjaga cinta ini di dalam hatinya, sampai nanti, saat akhir datang menjemput.
.
.
.
Aurora
"Morning love." Fatih menciumnya mesra dari balik selimut, sementara ia merebahkan tubuhnya di samping Fatih.
Fatih memerangkapnya dan menenggelamkan wajah ke dadanya, kemudian mencumbunya dalam-dalam, mengalirkan desir penuh bahagia disekujur tubuhnya. Sementara ia hanya tertawa melihat tingkah Fatih. Jujur, ia tidak keberatan harus melewatkan sekian menit paginya dengan bermesraan seperti ini.
"Bang kita harus sarapan." Ujarnya mengingatkan.
Fatih mengangkat wajah. Dengan bertumpu di siku, Fatih menudunginya.
"You'll be my favorite breakfast, lunch, and dinner for the rest of my life." Fatih menyunggingkan senyum penuh kemenangan.
Selamanya ia ingin seperti ini, ia ingin berada di pelukan Fatih.
.
.
__ADS_1
.
Fatih
Ia menenggelamkan wajahnya ke lekukan leher Rora, sementara tangannya melingkari pinggang gadis itu dengan sangat erat.
I don't want to let her go.
Selamanya, ia ingin memeluk Rora seperti ini. Memastikan Rora baik-baik saja dan selalu bahagia saat hidup bersamanya.
Rora tersenyum lebar, senyum yang akan selalu ia lihat dan menyemangati nya untuk memulai hari. Juga senyum yang akan mengantarkannya ke dalam mimpi.
"My heart is yours." Bisik Rora penuh haru.
"My Heart is yours." bisiknya, mengulang ucapan Rora.
Sekali lagi, Rora memberikan senyuman terbaik untuknya. Pagi ini, ia memulai mimpi baru, dan ada Rora disana, dan tentu saja ada anak mereka juga, Fara.
Selamanya...
...The end...
Big thanks for all readers...
Thanks my readers. So, we are here at the end of the story.
Thank you for all your love, comment, and support for my story.
Ahhh.... pokoknya makasih banyak deh, makasih untuk semua dukungan kalian untuk cerita The Rooftop Girl, season 1&2.
The next, bakalan ada cerita tentang Twin nya Byan and Abi, jadi jangan di unfavorite dulu ya..Nanti aku kabari lewat novel ini...
Sekali lagi makasih buanyakkk, sehat selalu, lancar rezeki dan selalu dalam cahaya iman.
Dadaaaaahhhhhh
Sampai berjumpa lagi di cerita aku berikutnya
muuaccchhhhhhh
__ADS_1
Bye
Cinta kalian semua***