The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
You're the one, only you


__ADS_3

Sonia


Bulan terus merambat naik, memberikan angka pada hitungan waktu. Usia kehamilannya sekarang sudah memasuki bulan ketiga, dan besok adalah jadwal keberangkatan kak Dimas.


Ia sudah berjanji untuk tidak akan menampakkan kesedihan dihadapan suami, tidak akan. Sebab ia tau itu akan menambah beban kak Dimas, cukuplah senyum semanis Cherry sebagai penghantar kepergian yang terkasih.


Pelan ia menyusun baju-baju sang suami, memasukkan kedalam koper. Kebanyakan baju PDH (Pakaian Dinas Harian), beberapa stel PDL (Pakaian Dinas Lapangan), kaos dan trening.


"Dalam enam bulan nanti, mungkin ada satu atau dua hari waktu pesiar." Kak Dimas bersuara.


"Maksudnya?"


"Waktu kosong, artinya peserta didik bisa keluar. Kalau sempat nanti waktu pesiar, kakak pulang."


"Ohh..." Ia mengangguk pelan.


Semua perlengkapan telah siap, disusun di sudut kamar, kak Dimas mendekatinya, mengelus perutnya yang mulai sedikit menonjol.


"Menurutmu laki apa perempuan?" Toleh pria itu menatap manik matanya dalam.


"Kakak maunya apa?"


"Laki, biar pas sepasang, yang cewek udah ada Ara."


Dan ia mengangguk antusias, mengamini ucapan kak Dimas, "Semoga laki-laki."


Mereka tersenyum hangat, saling memandang, ia menikmati semua sentuhan yang kak Dimas berikan padanya, sebab ia mungkin akan sangat merindukan sentuhan itu dalam beberapa bulan kedepan.


"Kakak udah nitip ke Galih, nanti kalau ada apa-apa, telpon Galih ya."


"Ponsel kakak akan sering tidak aktif nanti, tapi sebisa mungkin kakak akan minta nomor pelatih yang bisa kamu hubungi kapanpun." Dan lagi, ia hanya mengangguk pasrah.


Sesungguhnya dalam hati yang terdalam, sulit ditinggal seperti ini. Ia masih ingin bermanja-manja, masih ingin dibuatkan susu setiap pagi oleh sang suami, ingin perutnya dielus-elus, ingin ini, ingin itu...


Seandainya dulu ia memilih ustadz Hannan, mungkin tidak sedilema ini hidupnya, ustadz Hannan memiliki pekerjaan yang stabil, pergi pagi pulang sore, Astaghfirullah. Apa-apaan. Mencintai kak Dimas, tak pernah ia sesali, tidak. Sebab ia yang memilih pria itu, tulus dari hatinya yang terdalam.


***


Dimas


Suara panggilan Tuhan diakhir malam memencar kesegala arah, esok tiba lebih cepat dari yang ia duga. Jika bisa berunding dengan sang waktu, tentu ia akan mengatakan," berhentilah sejenak, aku masih ingin berlama-lama seperti ini, berada pada posisi dimana badan tak lagi disekat ruang kosong dengan kekasih."


Ia menggeliat pelan, waktu adalah sesuatu yang paling angkuh dimuka bumi ternyata, akan terus berjalan kedepan mengabaikan mereka yang lalai. Dengan gerakan cepat, ia meninggalkan segala kesenangan di atas ranjang, sebab pukul tujuh sudah harus merapat di Mabes Polri.


Sonia menyadari pergerakannya, wanita itu ikut menggeliat dan memunguti pakaian yang terserak dilantai dengan gerakan malas, bukti otentik dari cinta mereka semalam yang tak terbantahkan.


Pukul enam pagi, setelah sarapan kilat, ia mengecek lagi perlengkapan. Sonia pun juga telah siap dengan barang-barangnya. Ia akan mengantar sang istri dulu ke rumah amak, sekaligus berpamitan pada sang mertua dan menitipkan Sonia disana untuk beberapa bulan kedepan.


"Sudah siap sayang?" Tolehnya pada sang istri yang tengah mematikan setiap colokan listrik di apartemen. Gadis itu mengangguk cepat dan mengekornya menuju pintu depan.


Udara pagi yang dingin langsung menusuk kulit mereka ketika keluar, matahari bahkan masih tidur nyenyak di singgasana nya, seolah enggan untuk bangun.


"Susu jangan lupa diminum ya, vitamin juga." Ia mengelus pelan pucuk kepala Sonia, lagi gadis itu mengangguk, persis seperti kucing rumahan, manis sekali.


"Siapkan air hangat dikamar, kalau mau minum malam, tidak perlu keluar."

__ADS_1


"Iya, kakak juga hati-hati, jaga kesehatan dan jangan lupa tundukkan pandangan." Ucap Sonia.


"Nabrak dong kalau tundukkan pandangan, gimana sih." Kekehnya pelan.


"Jangan genit, lirik sana lirik sini." Kerucutkan bibir gadis itu mengarah padanya.


"Hahaaaaa, ngapain lirik sana lirik sini, emangnya aku AC - DC, peserta laki-laki semua sayang." Gemas ia mencubit pipi sang istri.


"Percaya deh, You're the one, only you forever."


Dapat ia lihat wajah Sonia memerah sempurna. Tak lama mereka telah sampai di pekarangan masjid, ia memarkir mobilnya disana. Menenteng tas Sonia menuju rumah amak.


"Gak sarapan dulu nak Dimas?" Suara amak lembut kala ia sudah ingin berpamitan.


"Sudah tadi di apartemen Mak, Dimas langsung pamit, titip Sonia ya Mak. Nanti aku kirimkan nomor pelatih dari Lemdiklat Polri, kalau ada apa-apa hubungi nomor itu ya Mak. Aku juga udah nitipin ke Galih, Sonia kontrol hamil di klinik Galih aja."


"Iya, hati-hati ya." Amak menepuk pundak nya lembut.


Dan terakhir, ia menciumi wajah Sonia, setiap inchi nya tak ada yang terlewat, "Kuat ya sayang, kakak akan kembali." Bisiknya pelan kemudian melambaikan tangan, menghilang dari pandangan.


.


.


.


Sonia


And I'm alone again...


Selepas kepergian kak Dimas, ia jadi malas. Entah itu bawaan hamil atau bagaimana, ia tak mengerti. Yang ia tau, ia hanya ingin, tidur tidur dan tidur. Beraktivitas hanya untuk makan, buat susu, mandi lalu tidur lagi, persis seperti singa masai.


Hari berganti hari menjadi kumpulan minggu, pun demikian minggu berganti minggu hingga menjadi bulan, begitulah cara waktu mengecoh. Tak terasa kini usia kehamilannya masuk tujuh bulan. Kak Dimas setiap dua minggu menelponnya, dengan tergesa-gesa, mungkin di beri jatah waktu dari sana, ia memaklumi. Bisa mendengar suara sang suami saja ia sudah sangat bersyukur.


Pagi itu, entah mengapa, tak seperti biasanya. Ia sedikit rajin. Mandi pagi-pagi dan bersiap pergi.


"Mau kemana Son?" Amak melihatnya bersiap dari daun pintu.


"Sonia ke kios bunga ya Mak."


"Sendiri?"


"Iya, gak papa. Sonia lagi pengen lihat- lihat bunga mawar, ngidam." Terkikik pelan ia sambil tersenyum ke arah amak.


"Ya udah, hati-hati. Kalau sudah langsung pulang." Dan ia mengangguk cepat.


Memakai jasa angkutan umum sejuta umat, angkot bewarna hijau mentereng, ia telah tiba di depan kios bunga, tempat dimana dulu kak Dimas pernah membawanya.


Masuk perlahan ia sambil mengangguk kearah pegawai kios.


"Permisi ke belakang ya mas, mau lihat mawar."


"Oh iya, silahkan mbak." Pegawai kios tersenyum hangat padanya.


Tepat saat ia menciumi satu- satu kelopak mawar dengan harum yang menurutnya berbeda-beda itu, sebuah suara memanggil.

__ADS_1


"Hei, Sonia?"


Ia yang sedang membungkuk langsung berdiri tegak, menoleh ke asal suara.


"Elan?"


Pria itu tersenyum berjalan mendekatinya. "Sendiri?"


Ia mengangguk, "Kamu? ngapain disini?"


"Cari bunga lah, masa cari sendal."


"Cieee, sudah ada calon nih ceritanya?" Liriknya sekilas pada pria yang wajahnya langsung merah itu.


"Sudah berapa bulan?" Elan mengalihkan bicara dengan menatap perutnya yang sudah membulat.


"Oh, masuk tujuh bulan."


"Kalau mau ngasih cewek bagusnya bunga apa?" Mereka berjalan bersisian sambil melihat-lihat bunga yang berjejer indah disana.


"Kasih mawar merah, itu melambangkan cinta, atau bisa juga Anggrek yang melambangkan kesetiaan."


Elan mengangguk, laki-laki itu memesan dua buket mawar merah, satu diberikan pria itu untuknya.


"Loh kok aku dapat juga?" Ia terheran memegang buket mawar merah ukuran jumbo itu ketika mereka sudah berada di luar kios.


"Gak apa, dari bang Dimas, perwakilan." Elan mengedipkan mata jahil, membuatnya harus memukul lengan pria itu sambil tertawa.


"Kesini tadi naik apa?"


"Angkot."


"Ya udah, biar aku antar, sekalian rumah target juga arah sana."


Elan membukakan pintu mobil, mempersilahkan ia masuk. Ia duduk, dan mencoba memasang sabuk pengaman yang ternyata agak su- sah, fuihhhh.


"Biar aku bantu."Pria itu mencondongkan tubuh kearahnya, hingga tampak dari depan view yang membuat seseorang yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik mereka memanas.


Matanya langsung membola kala melihat siluet tubuh kak Dimas keluar dari sebuah mobil yang tepat berada di depan mereka.


Itu bukan siluet, itu benar kak Dimas, suaminya. Wajah laki-laki itu menegas, dengan rahang yang mengeras.


Baik Elan maupun dirinya mendadak kaku, lututnya lemas, ditatap oleh mata elang kak Dimas, pria itu pasti salah paham.


"TURUN!!"


Ia tetap tak bergeming, tubuhnya bergetar, namun detik berikutnya cepat-cepat ia turun dari mobil.


"Masuk!!" Kak Dimas mengisyaratkan padanya untuk masuk ke dalam mobil yang dipakai pria itu, dan tanpa basa-basi ia langsung masuk ke dalam mobil, naasnya ia masih menggenggam erat buket bunga dari Elan tadi.


To be Continue


Happy reading yaaaa...


Note: Pesiar adalah waktu bebas yang diberikan setiap siswa peserta pendidikan untuk keluar dari area latihan.

__ADS_1


__ADS_2