
Audrey
Upss, hai perkenalkan namaku Audrey Pramesya Putri, sering disapa Audrey, mahasiswi perawat semester empat, usia bulan depan genap 21 tahun, punya mata bulat, tubuh 165 cm, kulit eksotis, fix aku mirip Fahrani. Itu loh pemeran Anjani di film Radit & Jani, yang main bareng Vino G. Bastian, you know.
Ahhh, thanks God I am Alive
Aku mengikuti lagu tema film Stuart Little dari laptop yang masih menyala dengan perasaan happy. Ya, Alhamdulillah, aku masih hidup, masih bisa merasakan sesuatu yang indah ditengah- tengah situasi jungkir balik yang selalu aku lakukan.
Hidup sendiri di kos-kosan dengan biaya seadanya bahkan bisa dibilang selalu kekurangan membuat ku berkali-kali harus memutar otak demi keberlangsungan hidup dan kuliah ku. Tak elak hutang menumpuk di sana-sini membuat ku terkadang frustasi akut.
Sementara ibu yang sudah menikah lagi entah untuk keberapa kali sibuk dengan suami barunya, pindah ke Sidoarjo mengikuti sang suami yang notabene orang sana. Sementara aku tinggal sebab menyelesaikan kuliah yang hanya dua semester lagi.
Dan how about my father?
Ayahku sudah meninggal saat aku menginjak kelas XI SMA, terkena penyakit komplikasi dan akhirnya tinggallah aku sendiri disini menanti uang bulanan yang dikirimkan sang ibu walau terkadang jauh dari kata cukup.
Ponselku bergetar, tanda ada panggilan seseorang di sana, kulirik sebentar kemudian tiba-tiba aku terduduk histeris whoaaaa BAYU !!!!
Siapa sih Bayu?
Perkenalkan Bayu adalah cinta pertama Audrey cieee, pertama kali Audrey jatuh cinta saat kelas X SMA yah ke Bayu.
Lelaki itu adalah teman sekelasku. Sainganku dalam juara kelas dan di PMR. Bayu juara I di kelas, dan Audrey juara II. Laki-laki itu adalah sasaran yang tepat untuk aku jatuhi cintaku, selain cakep juga otaknya encer buangget.
Sesaat setelah perpisahan sekolah dulu, tiba-tiba dibelakang panggung. Bayu bilang " Audrey kamu manis dan pintar, mau jadi pacar aku?"
Aku bengong, mulut ku menganga selebar gua Hira. Saking besarnya mungkin serombongan kelelawar mengira itu adalah gua sarang mereka.
Earth calling Audrey !
Earth calling Audrey !
Nano- nano... nano- nano...
"Pacar? kenapa aku?"
__ADS_1
(Kalau dalam adegan film-film chick flick, si cewek ditembak di cowok dengan bed of roses. Mata si cewek berbinar-binar secara si cowok handsome pisan euyy)
Dan sejak saat itu kami resmi berpacaran oyeeee, Bayu kuliah di Bandung, masuk ITB jurusan teknik elektro, sedangkan aku masih di Jakarta, kuliah di Poltekkes Kemenkes jurusan keperawatan.
"Hallo." Suara lelaki itu terdengar diujung telpon.
"Hai." Aku merapikan poniku dengan jari- jari tangan, sungguh perbuatan yang sia-sia karena ini panggilan telpon bukan video call, Bayu tak kan bisa melihatnya. Rambutku sudah ku warnai hitam lagi, pun kuku ku yang sekarang sudah pendek putih bersih sesuai instruksi dokter songong itu kemarin, ah siapa namanya, oh ya dokter Galih, ganteng sih tapi gantengan Bayu hahahaaaa.
"Sore nanti aku pulang ke Jakarta."
"Kenapa pulang bukannya belum libur?"
"Ada urusan dikit, cuma sehari doang besoknya balik lagi, kita ketemuan malam nanti ya."
Aku mengangguk mantap sambil tersenyum sendiri di cermin.
"Wokeeeh, aku tunggu darling, hati-hati di jalan."
Hmmmmmmm
Aku tersenyum hangat membaca pesan singkat dari Bayu, his poem for me cieeee amboiii.
Kuletakkan ponsel di pinggir ranjang, berdiri sambil memandangi wajahku di cermin, kemarin memang akal sehatku sedang tertinggal di rental komputer seberang jalan, diantara tumpukan copyan tugasku hingga mau mau saja diajak Loony mengecat rambut dan kuku.
Kalau Bayu sampai tau tingkahku Ohh no, seumur umur baru itulah aku melakukan hal yang terbilang "berani", sejak yah berteman dengan Loony. Gadis itu sudah banyak mempengaruhi jiwaku yang labil, membuatku dari cupu jadi gaoel.
Tapi cuma dia yang bisa membantuku, mengatasi kusulitan- kesulitan finansial ku, entah sudah berapa banyak hutangku pada Loony, setelah pada tetangga kost ku tentunya, upss hutangku ada dimana-mana.
Sorenya, aku ingat betul, batapa aku tidak sabar menunggu malam datang. Hampir aku tidak dapat memusatkan perhatian barang sedetikpun. Jam lima sore Bayu menelpon dia sudah sampai Jakarta, perasaanku melonjak- lonjak ingin segera malam datang.
Finally, tepat jam tujuh malam motor Bayu sudah bertengger di halaman kostku, peraturan yang di buat ibu kost, tidak ada pria yang bebas masuk ke dalam kosan, pukul 10 malam pagar kost sudah terkunci, bagi yang pulang diatas jam 10, harus menggigit jari, tak bisa masuk lagi.
Aku sumringah menyambut kekasih hati, begitupun Bayu, kami menikmati malam berdua diatas motor yang sengaja melaju pelan menuju sebuah cafe yang biasa ditongkrongi anak-anak muda.
Hhh .. akhirnya malam itu bisa juga kami duduk dengan tenang berdua. Bayu menatap ku lembut. Betapa rindunyaaaaaaa...
__ADS_1
"How far will you with your feeling?"
Bayu menyentuh pipiku sekilas, just it. Dia terlalu baik untuk melakukan hal-hal yang lebih dari itu, kami banyak ngobrol tentang kuliah masing-masing, hingga jam tangan tepat pukul 21.00 wib, yang artinya pagar kosan akan dikunci setengah jam lagi.
Bayu mengantarkan ku tepat sampai pintu pagar, memastikan aku benar-benar sudah masuk ke dalam kemudian ku dengar suara motornya menjauh. Ahhh Long distance again.
.
.
.
Paginya, dengan tergesa aku mencepol rambut ku ke dalam hairnet, memakai sepatu putih yang tidak tinggi lagi, sepatu pansus lama yang sedikit usang. Abang ojol sudah menunggu ku di depan pagar.
"Kasus untuk laporan sudah dibagikan sama bu Utit." Loony menghampiri ku di depan pintu ruang Anggrek.
"Kamu dapat apa?" Tolehku pada sahabatku sejak mulai masuk kuliah itu.
"Pre-eklampsia."
" Aku plasenta Previa parsial." Seloroh Anggun yang berdiri di samping Loony.
"Audrey sebentar aku lihat daftar, emmm Fibroid rahim."
"Apaan tuh?" Kernyitkan dahi aku ikut membaca daftar kasus yang dipegang Loony.
Kasus macam apa ini, yang benar saja. Mana ada kasus ini sekarang di ruangan.
"Kok bisa aku dapat kasus seperti ini sementara kalian dapat yang umum?" Gumamku tak percaya sambil terus menatap kertas, fix, hanya aku sendiri yang dapat kasus aneh.
"Coba ngadap bu Utit soalnya tadi beliau yang bagi kertas nya." Anggun mencoba memberi solusi.
Entah untuk keberapa kali aku menghela nafas panjang, dengan langkah mantap ku langkahkan kaki menuju ruang Bu Utit.
To be Continue...
__ADS_1
Happy Reading
sehat selalu yaaaaa...