
Aurora
"Kita ketemu papa sama mama ya...?" Tatapan Fatih dalam namun lembut.
Mulutnya sudah membuka, seolah ada yang ingin ia katakan. Namun urung, ia menutupnya kembali. Berpura-pura sibuk mengganti channel televisi, mencari tayangan yang menarik, padahal tidak ada yang benar-benar ingin ia tonton.
"Kalau kamu belum siap gak papa, mereka ngerti kok. Kamu balik aja, mereka udah sangat bersyukur."
Ia melirik sekilas Fatih yang sudah berdiri dan berjalan kearah dapur, pandanganya lurus lagi ke televisi. Sejujurnya, ia belum siap beradu pandang dengan papa Dimas dan mama Sonia. Ia terlalu malu, bagaimana bisa ia menampakkan wajah setelah apa yang ia perbuat.
Fakta bahwa ia sudah tidur dengan pria lain dan Fatih yang harus menikahinya, mempertanggung jawabkan sesuatu yang bahkan sama sekali tidak dilakukan anak mereka, anak laki-laki kesayangan mereka, sungguh memalukan.
Mereka sempat kecewa pada Fatih dengan berakhir Fatih yang babak belur dihajar papa Dimas, dan sekarang ketika harus bertemu, apa yang ingin ia katakan? meminta maaf begitu saja, terus bersikap seolah tidak terjadi apa-apa? Oh my....
Fatih sudah kembali membawa botol air mineral dan mendaratkan bokong tepat disebelahnya, tanpa jarak.
"Minggu depan aku mulai flight lagi. Jadi sebelum berangkat nanti, kita udah ketemu sama papa dan mama, sama papa Galih dan mama Audrey juga."
Sontak ia menoleh ke arah Fatih, "Aku belum siap."
"Terus kapan?"
Ia mengangkat bahu, " Aku udah gak ada muka lagi buat ketemu mereka, terutama papa."
"Tapi aku mesti kerja sayang."
"Ya gak papa, kamu kerja aja. Aku tetap disini."
Fatih mendengus frustasi,"Terus aku memangnya bisa kerja tenang sementara kamu tinggal disini sendirian, dalam kondisi hamil?"
"Aku sehat, gak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Ck.."
"Kita harus pulang, kamu harus tinggal sama mama, no debat." Fatih berdiri dan ia tak bisa menahan untuk tidak ikut berdiri juga.
"Abang tuh ya... Abang gak ngerti perasaan aku, aku malu...!" Suaranya meninggi hingga naik beberapa oktaf, dadanya sampai naik turun menahan emosi.
Untuk sesaat, Fatih terkesiap. Laki-laki itu terdiam, lalu dengan cepat meraih tubuhnya, mendekapnya erat.
__ADS_1
"Aku tahu, aku ngerti. Tapi kita tidak selamanya seperti ini. Mereka sangat menyayangimu Rora, sangat sayang. Kita mesti datang baik-baik, tidak ada yang perlu ditakutkan, ada aku..."
"Tapi setelah itu abang pergi... Dan aku ditinggal sendiri." Ia bergumam.
"Jadi, aku harus bagaimana? Fatih menatap matanya, "Hmmm... say to me, what must I do for you?"
"Nothing..."
Fatih merenggangkan pelukan mereka, tangan kokoh pria itu menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinganya, mengelus pipi dan mengecup keningnya, dalam dan lama.
"Katakan kalau sudah siap bertemu papa dan mama, kita hadapi berdua, kita hadapi sama-sama, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Fatih mempererat pelukan padanya.
.
.
.
Dan setelah berperang melawan ego selama dua hari tiga malam, dengan Fatih yang sebegitu sabar menanti keputusan nya, akhirnya mereka disini. Dikediaman papa Dimas dan mama Sonia. Ia sudah pasrah, apapun yang akan terjadi nantinya.
Seolah tahu perasaannya yang bimbang bercampur takut, Fatih terus menggenggam tangannya kuat, sesekali sambil tersenyum menenangkan. Sementara perutnya terus melilit sempurna, seperti ada blender yang tengah dihidupkan didalam sana, gangguan psikomatis yang sering terjadi saat ia cemas.
Doraemon! pinjam pintu kemana saja, sungguh ia ingin sekali menghilang dari sini.
Namun diluar dugaan, mama Sonia menangis sambil memeluknya erat, "Mama pikir kamu kemana nak, syukurlah ya Allah..." wanita itu terus memeluknya, sesekali mengusap perutnya yang membuncit, kemudian beralih ke wajahnya, mengusap pipi lalu memeluk lagi.
"Jangan seperti ini lagi, jangan pergi-pergi lagi."
Susah payah ia menelan ludah, semua tampak terharu melihat kedatangannya, sama sekali tidak ada yang membahas seluk beluk bayi yang dikandungnya. Termasuk papa Dimas yang tersenyum sumringah melihat mereka.
Ia sempat beringsut ketakutan saat melihat mama dan papa ikut datang ke rumah papa Dimas, namun mama langsung menangis histeris, reaksi yang hampir sama yang ditunjukkan oleh mama Sonia, namun sedikit drama, biasa, mama memang seperti itu.
"Jangan lagi... Jangan lagi... Mama bisa mati muda kalau kamu minggat- minggat seperti ini!"
What? mati muda? bahkan mama lupa kalau ia sebentar lagi mau punya cucu, muda dari segi mana?
Ia hanya mengangguk pelan, sampai papa datang mendekatinya, tatapan papa lembut, tidak seperti terakhir kali ia melihat papa di praktek.
Fatih meremas punggung tangannya, mengangguk sekilas seolah memerintahkan nya untuk menyambut papa. Dan perlahan ia mendekati papa. Papa merentangkan kedua tangan, dan ia pun menumbur papa, masuk ke dalam pelukan papa sambil menangis.
__ADS_1
"Maafin Rora pa hiks hiks..."
"Kamu tetap yang terbaik, maafkan papa juga ya."
Dan terakhir, ada mbak Ara beserta suami dan Abel yang terus menggelayut manja ditangannya, "Jadi btw, minggat kemana?" bisik Abel.
"Denger-denger batas Bogor doang? dekat amat..." Abel meledek, membuatnya harus mencubit keras paha gadis itu.
"Awww..."
"Berisik!" ia berdiri mengikuti mama Sonia yang tengah menyiapkan makanan untuk mereka. Sementara papa, papa Dimas, Fatih dan suami mbak Ara mengobrol sambil tertawa diteras samping, sama sekali melupakan drama kehamilannya, atau sengaja dilupakan, syukurlah...
Selepas makan siang bersama, ia masuk ke kamar sebentar. "Are you tired?" tanya Fatih yang sudah menyusulnya ke dalam kamar.
"No, I'm fine," sahutnya .
Mungkin ia sebenarnya merasa lelah, tapi ia tidak merasakannya. Saat ini ia merasa tubuhnya sangat ringan, rasanya seperti melayang saja karena merasakan kebahagiaan yang membuncah.
Apalagi saat berada di pelukan papa tadi, rasanya seperti terlempar ke masa ketika ia masih kecil dan sering terjatuh ketika belajar bersepeda. Papa selalu membantunya berdiri lagi. Ia akan selalu mengingat moment itu, momen dimana papa membantunya berdiri kembali setelah terjatuh.
Sekarang pun sama. Kehadiran papa disini membuatnya merasa ini cara beliau untuk membantunya agar ia bisa melangkah kuat menuju masa depannya.
"Terimakasih, pa." bisiknya dalam hati sambil memandang sendu mata Fatih yang tengah tersenyum padanya.
***
***The End
Hah???
Becanda lo thor?
Iya,,, emang becanda hahaaaaa...😋😋😋
Belum,, belum end kok, masih ada beberapa konflik yang mesti di clear kan, sabar ya😍😍
to be Continue
happy reading yaaa***...
__ADS_1