
Geloof, Hoop, en Liefde
(Percaya, Harapan dan Cinta)
Audrey
Cuaca terik siang itu, sama sekali tak menyurutkan langkahnya menunggu pak Hambali, sang dosen pembimbing. Mereka sudah ada janji temu untuk melakukan konsultasi judul skripsi yang akan diajukan.
"Wah maaf Drey, bapak ada rapat di ruang kaprodi, besok aja konsul nya ya."
"Yah bapak, saya nungguin bapak dari tadi loh."
"Ya udah, besok pagi-pagi sebelum APEL, kamu keruangan bapak, kalau judulnya bagus langsung bapak ACC besok."
Ia mengangguk pelan, wajahnya sedikit pucat dan sayu, pertanda kurang tidur dan lelah, lelah? bagaimana tidak lelah jika kak Galih terus mengajaknya olahraga semalaman dengan alasan ibadah. Jiwa pengantin baru laki-laki itu sungguh mengerikan. Dan naasnya terkadang laki-laki itu lupa memakai pengaman.
"Hai Drey." Uni Sonia melambaikan tangan dari teras musholla, membuatnya segera berlari kecil menuju ke sang sahabat.
"Kok pucat?"
"Lelah ni." Ia langsung merebahkan diri di karpet musholla dan memejamkan mata.
"Minum vitamin Drey, atau mau uni injeksi kan Neurobion via intravena (Suntik vitamin di area pembuluh darah lengan)?"
"Ah iya, suamimu kan dokter, minta dia aja yang nyuntik." Lanjut gadis itu.
"Uni aja, kalau dia ntar lain yang disuntik." Ucapannya sontak membulatkan mata uni Sonia yang polos, membuatnya terkikik geli.
Jadilah sore itu, ia berhasil mengajak uni ke Rooftop, sudah membeli spuit 3 cc, nald ukuran 25, Neurobion 2 ampul di kantong plastik dan siap eksekusi.
"Uni gak mau cerita?" Ucapnya disela memperhatikan uni Sonia yang memasukkan obat ke dalam spuit (jarum suntik).
"Cerita apa?"
"Kak Dimas datang menemui amak minggu kemarin kan?"
"Tau dari mana?"
"Kak Galih cerita."
Dapat ia lihat uni Sonia bersemu malu.
"Tapi kata kak Galih, ada dua yang melamar uni? satunya siapa? dengar-dengar ustadz ya? wah bakal kecewa nih kakak aku."
"Diam Drey, nanti salah tusuk." Alih-alih menjawab, uni fokus pada aktivitasnya menyuntikkan obat, menusuk pembuluh darah Audrey dengan jarum suntik dan mendorong spuit agar obatnya masuk.
"Awww." Ia sempat menegang sebentar kala jarum tajam itu menembus kulit sampai ke pembuluh darahnya.
"Siip, selesai." Uni Sonia menekan lengannya dengan kapas alkohol.
Tepat ketika mereka membereskan alat, terdengar suara mengobrol di gazebo depan, ia berjalan kearah pintu.
"Wah barusan diomongin, eh udah ada orangnya." Celetuknya saat menemukan sang suami dan kak Dimas yang baru tiba di Rooftop.
__ADS_1
"Ngapain?" kak Galih melihatnya dengan tangan yang masih ditekan dengan kapas alkohol.
"Barusan minta suntik vitamin ke uni." Dan dapat ia lihat wajah kak Dimas langsung memerah kala ia menyebutkan uni.
"Dia disini? Sonia?"
"Ehhhemm, tuh didalam." Ucapnya bersemangat, entah mengapa rasanya ia orang yang paling bahagia jika keduanya bisa bersatu.
Tenang kak, aku dan kak Galih akan menjadi tim sukses mu nomor Wahid dalam mendapatkan cinta uni, semangat!!!!
Uni Sonia yang tidak tahu kalau ada kak Dimas disana, ikut menyusul keluar namun terhenti saat menemukan sosok laki-laki itu tengah duduk diantara dirinya dan kak Galih. Suasana canggung pun kentara sekali terasa.
"Eh Dim, bukannya kamu bilang pegal-pegal tadi kan, banyak kasus. mumpung ada Sonia. Son bisa tolong injeksi kan vitamin juga kayak Audrey." Kak Galih berucap sambil memasang wajah memohon pada Sonia, membuatnya ingin sekali menjambak rambut sang suami.
"Ehh, hah." Uni Sonia jelas gelagapan.
"Apaan sih lo." Dan tidak seperti biasanya, kali ini kak Dimas juga ikut gelagapan.
Wah kalau seperti ini, ingin rasanya dirinya mengurung mereka berdua yang malu-malu kucing itu ke dalam satu kamar dan menguncinya dari luar.
"Hahaaaa." Tertawa devil ia menatap uni Sonia dan kak Dimas bergantian.
"Iya, tolong dong ni, tadi Neurobion nya kan kita beli 2 ampul, masih ada sisa satu." ia ikut membantu usaha sang suami.
"Nggak, gak usah." Suara kak Dimas bergetar. Entah mengapa ia merasakan bahwa kak Dimas berbeda dari biasanya, lebih pasif, tidak sepercaya diri seperti sebelum-sebelumnya.
"Ayolah, kamu bisa ambruk kalau gak di drop sama vitamin, begadang tiap hari." kak Galih masih ngotot.
"Aku bilang gak, ya nggak!"
"Siapa yang takut jarum, ayo suntik." Kak Dimas terprovokasi, laki-laki itu melirik sebentar ke arah uni Sonia yang masih dalam mode gugup luar biasa.
"Siip, yank kita turun sebentar beli sesuatu." Kak Galih merangkul bahunya posesif, mengkode untuk menjauh.
"Mau kemana?" serentak kak Dimas dan uni Sonia bersuara. Membuatnya ingin terbahak namun diurungkan.
"Son, suntik yang pelan ya, nanti pingsan dia. Kami keluar cari makanan dulu." Kak Galih bersuara.
.
.
.
Dimas
Swinggg...
Tiba-tiba suasana mendadak sunyi mencekam sesaat setelah pasangan Galih Audrey menghilang dari pandangan, meninggalkan ia dan Sonia berdua disana.
Dapat dilihatnya, gadis itu sibuk mematahkan ujung dari sebuah botol kaca kecil berisi cairan obat bewarna merah, memasukkannya kedalam jarum suntik, mengetuk- ngetik sedikit, mengeluarkan udara dari sana.
"Sudah siap?"
__ADS_1
"Hah..." Ia menelan saliva.
"Lengan bajunya digulung."
"Oh iya iya." Tersenyum simpul ia menggulung kemejanya sampai keatas.
Degg
Degg
Degg
"Maaf." Ucap gadis itu mendekat, ujung telunjuk dan jari tengah Sonia menelusuri lengannya, sedikit menekan mencoba mencari sesuatu yang bernama pembuluh darah, cukup lama.
"Ketemu?" Ucapnya pelan mencoba menetralisir jantung yang mulai tidak bisa dikondisikan, berada pada jarak sedekat ini dengan Sonia membuatnya kehabisan nafas.
Sonia menggeleng, mencoba menepuk-nepuk lengannya agar pembuluh darah tampak.
"Kepalkan tangan kakak." Perintah gadis itu yang mulai gugup sebab tak menemukan pembuluh darahnya.
Sonia mengulangi lagi dengan menelusuri lengannya dengan telunjuk dan jari tengah.
"Kakak cemas?" Sonia mendongak membuat tatapan mereka bertemu.
"Biasanya kalau cemas, pembuluh darah menciut dan mengecil."
"Oh ya."
"Hmmm."
"Kamu juga seperti nya cemas."
"Oh ya." Toleh sebentar Sonia padanya.
"Biasanya kalau cemas, tangan jadi dingin dan berkeringat, tangan kamu dingin."
"Hahaaaaa." Keduanya serentak tertawa, sambil menggelengkan kepala. Ia baru tau kalau gadis itu bisa berubah jadi bidadari saat tertawa seperti ini.
"Cantik." Gumamnya pelan.
"Hah?"
"Kamu cantik." Sonia cepat-cepat menunduk dengan wajah memerah.
"Ayo kita menikah besok." Suaranya melembut.
"Hah, apa..." Sonia mendongak kaget.
"Hanya bercanda." Ia tersenyum simpul melihat gadis itu kembali gugup.
"Apapun yang menjadi pilihanmu, aku akan menerimanya, aku tidak bisa menjanjikan apa-apa, aku hanya ingin mencari ibu untuk Ara, mencari wanita yang bisa menuntun kearah yang lebih baik lagi, yang bisa mengingatkan jika salah dan bisa bersama-sama meraih surga Nya."
"Aku hanya memiliki kepercayaan, harapan dan cinta."
__ADS_1
To be Continue...
Happy reading guys...