
Bukan titik yang menyebabkan tinta
Melainkan tinta yang menyebabkan titik
Bukan cantik yang menyebabkan cinta
Melainkan cintalah yang menyebabkan cantik
(Dikutip dari buku "Half Full- Half Empty : Parlindungan Marpaung)
***
Sonia
Kata orang enam bulan pertama pernikahan merupakan masa emas dimana cinta tumbuh dan bersemi disetiap sudut rumah, itu kata orang. Bisa iya bisa juga tidak. Buktinya banyak juga yang bercerai di masa enam bulan pertama itu, mengapa bisa? Entahlah, mungkin pondasi yang menjadi alasan mereka untuk membangun sebuah rumah tangga tidak begitu kokoh hingga rumah dapat dengan mudahnya roboh dan hancur.
Hidupnya bahagia, yah bisa dikatakan begitu. Kak Dimas menyayanginya melebihi apapun bahkan diri pria itu sendiri. Mereka hidup berdua di apartemen kak Dimas, sebab Ara tak diizinkan mama untuk tinggal bersama mereka, alasan mama, mama dan papa tak ada teman di rumah jika Ara ikut ke Jakarta.
Ia tidak ada pekerjaan lagi, hanya menunggu jadwal wisuda yang akan dilaksanakan minggu depan, menimbang-nimbang, apakah setelah ini ingin mencari pekerjaan atau lanjut kuliah lagi, atau pilihan ketiga, menjadi ibu rumah tangga mengasuh anak-anak. Tentu pilihan ketiga belum masuk dalam daftar pikirannya.
"Nanti kalau sudah punya anak dirumah aja ya." Perkataan itu pernah terlontar dari bibir kak Dimas. Dan tentu saja membuatnya dilema, pasalnya kehendak suami sedikit berbeda dengannya yang ingin menjadi wanita karir, menerapkan ilmu dalam sebuah profesi.
Permintaan kak Dimas sedikit mengingatkannya akan sebuah pernyataan Patrick M. Morley yang spektakuler, " Saya lebih memilih untuk tidak menjadi siapa-siapa, asalkan bisa menjadi seseorang yang berarti bagi anak-anak saya."
Pun pernah juga disampaikan oleh Almarhumah ibu Ainun bahwa gaji yang besar sekalipun tak kan bisa mengganti kedekatan dengan anak-anak, yang akhirnya membuat istri dari bapak **. Habibie itu memilih untuk menjadi seorang ibu rumah tangga mendampingi suami kala hidup di Jerman ketimbang menekuni profesi nya sebagai dokter spesialis anak.
Tapi sekarang kan, belum ada tanda-tanda ingin berbadan dua, bukan karena menunda tapi memang belum, setiap pasangan kan berbeda-beda. Jadi masih bisa dong ia merencanakan untuk bekerja selepas wisuda, ia geleng-geleng kepala sendiri.
***
Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, ia sudah menguap berkali-kali. Diliriknya sebentar, kak Dimas masih betah menatap televisi mengikuti perkembangan berita pembunuhan seorang hakim di Medan yang disiarkan di salah satu stasiun televisi itu.
"Tidurlah duluan, nanti kakak nyusul." Ucap pria itu sambil mengacak pucuk kepalanya, dan tanpa disuruh pun ia segera beranjak ke kamar.
Namun, baru saja ingin memejamkan mata, ia mendengar sang suami berbicara cukup keras via telpon.
"Masalah apa?"
"Ya?"
__ADS_1
"Anggota dari Metro 1 sudah merapat?"
"Abang segera nyusul ke TKP, sterilkan area!"
Jantungnya berdetak kuat, dua bulan hidup bersama kak Dimas, membuatnya seperti sedang menaiki rollercoaster, setiap hari selalu cemas kala melepas pria itu berangkat kerja.
Kecemasannya bukan tanpa alasan, melihat pemberitaan di televisi mengenai banyaknya teror terhadap polisi, belum lagi resiko pekerjaan suami yang begitu tinggi, mengingatkannya pada ucapan mama tempo hari, "Jadi istri aparat negara itu harus tahan banting."
Kantuknya tiba-tiba saja menguap entah kemana, ia terduduk di sisi ranjang melihat kak Dimas yang sibuk mengenakan rompi anti peluru, mengambil senjata dinas beserta sarungnya dari laci, lalu membawanya. Persis seperti seorang Ji Cang Wook di film K2, tapi ini bukan film, ini nyata, suaminya akan pergi lagi menantang maut.
"Apakah akan bekerja selarut ini?" Ucapnya datar.
Kak Dimas meliriknya." Tidurlah, kamu perlu istirahat. Ada masalah dikantor, kalau sudah selesai kakak akan kembali."
Kak Dimas memeriksa dan menyarungkan senjata sebelum menghampirinya dan menyentuh bahunya dengan lembut.
"Ini pekerjaanku," Kata pria itu lembut. " Aku tak pernah mengenal cara hidup yang tak mengandung resiko. Malah kurasa aku tak bisa hidup tanpanya."
Ia berusaha tersenyum walau terasa getir, " Aku tahu kakak ahli dalam pekerjaan kakak."
Tangan kak Dimas yang besar menangkup wajahnya. " Kakak selalu berhati-hati, dan kakak hanya mengambil risiko yang sudah diperhitungkan. Sama sekali tidak gegabah. Yang membuatmu celaka dalam bidang pekerjaan ini adalah kecerobohan."
Ia menarik nafas panjang dan merapikan pakaian yang dikenakan sang suami. "Jangan sampai terluka apalagi terbunuh." Ucapnya serak.
"Tidurlah," Kata kak Dimas ketika mengangkat wajahnya. Mata kak Dimas yang gelap tampak bergejolak. " Kakak mungkin bakal lama."
"Apakah ada kasus perampokan?"
"Bukan, kantor diserang oleh sekelompok orang tak dikenal."
Dan ia terperanjat membelalakkan matanya.
"Dua anggota luka parah, tapi anggota lain dari Metro 1 sudah merapat ke lokasi, ya sudah kakak pergi dulu, tidurlah."
Dan ia tidak benar-benar tidur setelah kepergian kak Dimas, hanya baringan disofa dengan wajah ditekuk cemas.
.
.
__ADS_1
.
Dimas
Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari, namun kondisi TKP belum juga kondusif, Polsek rusak parah, beberapa gedung terbakar, mobil patroli, mobil tahanan dan mobil dinas Kapolsek hancur. Ada 17 tersangka yang sudah berhasil mereka amankan.
Dan sekarang, ia memimpin operasi gabungan pengejaran beberapa tersangka lagi menuju timur Jakarta. Beranggotakan lima belas orang mereka berupaya membekuk tersangka. Sementara anggota dari Metro 1 yang bergabung juga ikut melakukan pengejaran di titik lokasi yang berbeda.
Tepat tengah hari, ia dan tim kembali dengan membawa tujuh orang buruan yang berhasil dibekuk. Mereka adalah anak geng motor ditambah beberapa preman yang merupakan residivis.
Dan pukul empat sore barulah ia bisa pulang, dengan tubuh yang terasa lelah. Biasanya ia akan langsung tertidur di sofa jika sudah seperti ini. Sonia langsung memeluknya erat ketika ia tiba di apartemen.
" Mau mandi atau makan dulu?" Tawar gadis itu.
"Tidak, kakak tidur sebentar, jangan ganggu." Dan ia selalu seperti itu jika sudah kelewat lelah.
.
.
.
Sonia
Ia akhirnya memutuskan untuk menunggu kak Dimas, baringan disofa, miring kiri, miring kanan tak jelas. Namun hingga pukul satu malam, Kak Dimas tak kunjung pulang.
Ia coba menghubungi lewat telepon, namun tak kunjung diangkat, entah pukul berapa, akhirnya ia tertidur, masih di sofa. Terbangun lantaran suara adzan subuh berkumandang. Dilihatnya belum ada tanda-tanda keberadaan suami. Hatinya bertambah cemas.
Seandainya ia memiliki nomor teman- teman kantor kak Dimas, tapi ia tak punya, bahkan nomor Elan pun juga tak ada. Setelah sarapan ia memberanikan diri untuk menyalakan televisi. Semua stasiun memberitakan hal yang sama, yakni penyerangan terhadap Polsek Menteng.
Netranya mencari sosok sang suami ditengah-tengah pemberitaan di televisi namun tak ada, hanya bapak Kapolsek ditemani beberapa polisi berseragam tampak memberikan pernyataan, sama sekali tak terlihat sosok kak Dimas. Ia kembali mencoba menghubungi ponsel suami, kali ini sudah tidak aktif lagi.
Ia menangis, apakah seperti rasanya, sungguh ia tak sanggup jika sepanjang hidup harus terus dibayangi ketakutan-ketakutan. Dan tepat setelah Ashar, pintu apartemen diketuk. Lelaki itu berdiri diambang pintu dengan wajah teramat lelah, ia tak kuasa untuk tidak segera memeluk.
"Tidak, kakak tidur sebentar, jangan ganggu." Suara kak Dimas terdengar ketus, membuat hatinya mencelos, salah satu sifat buruk pria itu jika sudah lelah, maka ia akan sangat ketus sekali.
Dibiarkannya laki-laki itu terkapar masih diatas sofa, dengan pakaian lengkap dan senjata di pinggang serta sepatu yang terpasang. Dulu ia pernah mencoba melepas sepatu pria itu, namun suara keras pertama dari suami yang ia dapat after marriage, walaupun setelahnya pria itu bersimpuh meminta maaf berulangkali.
Rupanya ia tahu satu rahasia kak Dimas, pria ini benar-benar tak ingin di ganggu saat ia kelewat lelah dalam bekerja. Jangan kalian kira hidup setelah menikah akan semulus jalan tol, setiap hari penuh bunga, bahkan bisa menyimpang seratus delapan puluh derajat dari yang kalian bayangkan, because life after marriage is the real life.
__ADS_1
To be continue...
Happy reading...