The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Rora hilang 2


__ADS_3

Fatih


"Ladies and gentlemen, this is Parvati Patil and I'm your chief flight attendant. On behalf of Captain Muhammad Al Fatih Prayoga and entire crew, welcome aboard to Skyline, airline flight number SA 00767 from Seoul to Jakarta…."


Ia menghembuskan nafas pelan seiring pengumuman yang terdengar dari pramugari, yang menginfokan bahwa pesawat siap terbang.


Bismillah, La haula wa la Quata illa billah, Tangannya menekan tombol tombol yang ada dihadapannya. Sekacau apa pikirannya saat ini, tetap fokus utamanya terbang, menghantarkan 287 orang penumpang serta 18 orang kru pesawat dengan selamat sampai ke bandara Soekarno Hatta, Jakarta.


Beruntung tidak ada kendala yang berarti, ia harus profesional dalam bekerja, walau tak jarang awan-awan di langit membentuk wajah Rora yang sedang tersenyum padanya sepanjang tujuh jam perjalanan itu.


"Hai capt...langsung pulang?" Jack menyapanya saat ia berjalan di selasar bandara, menunggu taxi yang akan mengantarnya sampai rumah. Ia tersenyum dan mengangguk sekilas setelah menepuk pelan bahu Jack.


"Duluan ya..."


Jack mengacungkan kedua ibu jarinya ke udara.


Otaknya terlalu penuh untuk sekedar memikirkan berbagai kemungkinan, tidak ada masalah apapun antara dirinya dan Rora. Bahkan gadis itu mengantarnya ke bandara terakhir pertemuan mereka. Rora, What do you think....


Kedatangannya langsung disambut mama dan papa di depan pintu. Wajah kedua orangtuanya menyiratkan kondisi yang tidak baik- baik saja, membuatnya jujur saja bertambah gusar.


"Rora mana ma?"


"Istirahat dulu nak, mandi, makan, udah mama siapkan sayur lodeh kesukaan kamu."


"Ma, Fatih nanya. Rora dimana? istri aku dimana?"


"Kamu bersih- bersih dulu. Ada yang ingin papa bicarakan, papa tunggu di ruang kerja."


Tebakannya benar, ada yang tidak beres dirumah ini. Meski ingin sekali menyangkal ucapan papa barusan. Namun tak urung juga ia bergegas masuk kekamar, membersihkan diri dan berganti pakaian, memaksakan diri untuk menyuap makanan yang sudah disiapkan mama.

__ADS_1


"Fatih masuk pa.." Ia membuka pelan pintu ruang kerja papa, papa mengangguk dari dalam. Wajah beliau tampak lelah namun mencoba tersenyum penuh arti padanya.


Papa berdehem sebentar sambil menatapnya sendu, " Maafkan kami, Rora pergi dari rumah sudah hampir sepuluh hari ini. Papa dibantu yang lain sudah berusaha cari. Tapi belum ada hasil apa-apa."


Degg...


Jantungnya mencelos, tak elak ia mendongak, menatap tajam kearah papa.


"Awalnya, ada seseorang yang datang ke Galih, mengatakan bahwa bayi yang dikandung Rora adalah anak dari saudaranya. Orang itu bahkan memiliki foto usg kehamilan Rora. Galih marah besar dan mengusir Rora."


"Semua sudah tahu kalau itu bukan bayi kamu..."


Ia menunduk dengan mata yang entah sejak kapan mulai berair, dadanya berkecamuk hebat, ingin sekali menghancurkan segala yang ada dihadapannya saat ini."Hanya Tuhan yang tahu, seperti apa perasaanku pada Rora, sedalam apa cintaku pada gadis itu, sebesar apa harapanku untuk selalu bersama...kalian tega sekali...mengusirnya...tanpa sepengetahuanku." gumamnya pelan hampir menangis.


Detik itu juga ia berdiri tanpa memperdulikan papa lagi, mama yang berdiri di depan pintu pun tak dihiraukannya, rahangnya mengeras menahan amarah, meraih kunci mobil dan melaju kencang menuju kediaman papa Galih.


Papa Galih tampak terkesiap saat mendapatinya langsung masuk ke ruangan tanpa permisi.


"Dimana Rora...papa apakan istriku sampai dia pergi dariku seperti ini...?!"


"Papa sudah tahu semuanya Fatih, Rora bukan hamil anak kamu. Kalian berbohong hanya untuk saling melindungi, sudahlah. Papa sudah tahu semuanya, jangan mencoba untuk melindungi Rora lagi, cukup. Biarkan dia merenungi kesalahannya kali ini."


"Apa yang papa tahu? A PAAA....?"


"Aku mencintai Rora lebih dari diriku sendiri, aku sekuat tenaga menahan sakit hati saat dia melakukan kesalahan dengan tidur dengan laki- laki lain, aku ada disana saat itu. Aku bahkan sudah ingin membunuh pria itu. aku mau menerimanya apapun keadaannya, aku bahkan akan tetap mencintainya sekalipun ia berubah menjadi monster. Papa pikir aku hanya ingin melindunginya? hanya itu? papa pikir begitu? aku mencintainya....aku mencintai Roraa pa.....papa tega sekali..."


Ia tidak pernah serapuh ini, tidak pernah. Tapi kali ini, dunianya seolah hancur. Ia pergi tanpa mau mendengarkan ucapan papa Galih lagi. Berkeliling mencari keberadaan Rora seperti orang gila.


Yang ia tahu, gadis itu tidak banyak memiliki teman, teman Rora kebanyakan berdomisili di luar negeri. Hanya beberapa teman SMA mereka yang menetap di Jakarta. Itu pun semua sudah ia kunjungi.

__ADS_1


Sampai papa menelpon, kemungkinan Rora masih disekitaran Jabotabek, sebab anggota suruhan papa sudah mengecek setiap penerbangan domestik, setiap data keberangkatan kereta api dan bus, tidak ada tanda Rora pergi dengan armada- armada itu.


Papa juga sudah bekerja sama dengan pihak bank untuk mendeteksi penggunaan atm serta kartu kredit Rora, agar bisa melacak keberadaan transaksi bank terakhir. Tapi tampaknya gadis itu belum menggunakan segala jenis kartu sejak sepuluh hari terakhir.


Dan mulai tiga hari lalu, papa yang sekarang merupakan pejabat tinggi di PolRI telah mengumumkan pelaksanaan pencarian terbuka dan razia setiap kendaraan dan memasukkan Rora ke dalam data pencarian orang hilang di kepolisian.


Hari sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tubuhnya benar- benar sudah lelah. Berulang kali mama menelpon menyuruhnya pulang, alih- alih pulang kerumah. Ia memilih pulang ke apartemen malam itu.


Dadanya nyeri saat melihat setiap ruangan yang ada disana, bayangan Rora ada di setiap sudut, sedang tersenyum tanpa beban. Rora, dimana....


Tepat saat ia menghempaskan tubuh di kasur, ia melihat selembar kertas di atas nakas, kertas HVS bewarna biru, kontras sekali dengan warna benda disekitarnya.


*F*rom : Rora


To: Abang...


Papa sudah tahu semuanya bang, entah dari mana papa bisa dapat foto usg yang disimpan Abi, aku tidak tahu.


Aku menyesal sudah membawa abang ikut masuk pusaran masalahku, maafkan aku, aku minta maaf.


Abang tidak perlu pura- pura lagi di depan papa dan mama kita, kita tidak perlu seperti ini lagi. Seharusnya memang kita tidak boleh seperti ini. Kita sudah terlalu jauh memainkan peran.


Kembalilah ke Kikan, dia gadis baik. Kalian sudah banyak berkorban demi aku, jangan lagi. Maafkan aku, bukankah tidak ada rahasia diantara kalian.


Jika kondisi sudah memungkinkan, aku akan mengirimkan gugatan cerai ke abang, sekali lagi terima kasih atas bantuan serta pengorbanan abang, aku tidak akan pernah melupakannya.


Rora..


To be Continue

__ADS_1


Happy reading


__ADS_2