The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Sedikit Pelajaran untuknya


__ADS_3

Kata orang rindu itu indah


Tapi bagiku, ini menyiksa


(Diambil dari sepenggal lirik lagu sountrack film AADC)


Jakarta


Pasar Senen, pukul 16.30 wib


Galih


Netranya menyapu setiap kesibukan yang terjadi di stasiun kereta api pasar Senen sore itu, suasana hiruk pikuk serta padatnya pengunjung stasiun sama sekali tak mengusiknya yang duduk di bangku tunggu dengan headset terpasang ditelinga serta sebuah buku motivasi karangan Dale Carneige yang dibuka.


Sejenak meninggalkan ibukota akan memberikan suasana baru yang lebih segar untuk jiwa dan raganya. Sengaja memilih perjalanan darat dengan menggunakan kereta api ke tempat tujuan agar ia bisa dimanjakan dengan pemandangan alam yang mempesona. Area persawahan yang luas membentang, pepohonan yang berderet-deret, serta dataran tinggi akan menemaninya hingga tiba di stasiun tujuan.


Tentu saja stasiun tujuannya adalah Stasiun Sidoarjo (SDA) yang berada di kawasan Lemahputro Sidoarjo, Jawa Timur itu, tempat dimana calon mertua berada, siapa lagi kalau bukan ibu Audrey. Ia sudah menghubungi wanita paruh baya itu sebelumnya tanpa sepengetahuan Audrey.


Tepat pukul 16.55 wib, kereta api Jayabaya yang merupakan tumpangan nya hari itu mulai berangkat ke arah tujuan yang akan memakan waktu cukup lama, sekitar 12 jam 8 menitan dengan jarak tempuh sekitar 784,1 km.


Ia sudah mematikan ponsel dan tidak berniat mengabari siapa- siapa, hanya calon ibu mertua yang ia hubungi sebelum keberangkatan. Perjalanan malam hari membuatnya tertidur pulas, alih-alih menikmati indahnya perjalanan malam.


Tepat pukul 05.00 subuh kereta sudah tiba di stasiun tujuan, menguap sambil meregangkan tubuh ia menggeliat menikmati pagi di Sidoarjo dan ternyata sang calon ibu mertua beserta suami telah menunggunya disana.


"MasyaAllah, apik tenan buk, calonnya Audrey."


Ia dapat mendengar sang calon ayah mertua berbisik pada ibu, ia lalu menyalami keduanya satu persatu dengan takzim. Mereka menaiki angkutan kota menuju kediaman ibu Audrey yang berjarak sekitar 4 km dari stasiun.


Suasana asri nan hijau langsung memanjakan matanya yang hampir tak pernah melihat pegunungan dan persawahan itu. Sempat berkali-kali menghirup udara yang berbeda dari di Jakarta membuat dadanya terasa fresh.


"Suka disini nak Galih? beda sama di Jakarta ya." Suara ibu.


Ia mengangguk antusias sambil tersenyum.


"Ibu juga dulu, baru-baru kesini pas ikut bapak rasanya senang sekali, suasananya adem, gak seperti di Jakarta." Ibu terkekeh pelan.


Butuh waktu sekitar sepuluh menitan dengan menumpang angkot, mereka sampai disebuah rumah sederhana, semi permanen berlantai semen dan beratap genting.


"Barangnya masukkan ke kamar depan aja, bersih-bersih dulu abis itu kita sarapan." Bapak menepuk punggungnya pelan.


Tak lama ia sudah keluar lagi dengan kondisi fresh mengenakan kaos dan celana rumahan. Diatas meja sudah ada rebusan pisang gepok dan teh hangat yang masih mengepul asapnya.


"Ayo duduk nak Galih."


"Sebelumnya kami berterimakasih sekali, terakhir Audrey telpon katanya dia kerja di klinik punya nak Galih."


"Ibu sempat bingung juga waktu itu, minta dia berhenti kuliah saja soalnya udah gak sanggup biayain, tapi katanya Audrey kuliah sambil kerja, terimakasih banyak ya nak Galih sudah ngasih kerjaan untuk Audrey."


"Iya bu sama-sama."

__ADS_1


"Jadi kesini kok gak ngajak Audrey?" Akhirnya ibu mengatakan itu juga, mungkin dari kemarin saat menelpon, beliau agak curiga dengan dia yang meminta untuk tidak mengabari Audrey perihal keberangkatannya.


Ia sempat menghirup udara di sekeliling dalam satu tarikan nafas, mencoba menetralisir kegugupan yang melanda, lebih gugup dari melakukan operasi Caesar untuk pertama kalinya.


"Maksud saya datang kesini mau melamar Audrey dan menjemput ibu sama bapak untuk dibawa ke Jakarta."


"Saya mau menikahi Audrey secepatnya pak bu, kalau bisa minggu ini sebelum saya berangkat seminar IDI."


Dan dapat ia lihat kedua orang tua itu terkejut bukan main, mereka saling pandang, namun detik berikutnya langsung tersenyum sumringah.


"Ibu senang kalau nak Galih ada niatan seperti itu, setidaknya Audrey ada yang nanggung jawab nya, jujur saja, melihat Audrey sendirian di Jakarta, kadang ibu sering was was."


"Tapi apa tidak terlalu mendadak?"


Mendengar jawaban calon mertua, rasanya bagaikan memenangkan sebuah undian berhadiah milyaran rupiah, dadanya terasa lapang, selapang sawah yang ia lewati sebelum kesini tadi, sejauh mata memandang.


Ia tersenyum, "Maafkan saya, memang sedikit mendadak, tapi saya perlu memastikan kalau Audrey sudah jadi istri saya sebelum saya pergi seminar nanti."


Karena aku tidak mau ambil resiko, gadis itu memutar kemudi, mengembangkan layar dan berbalik arah berlabuh ke dermaga mantan. Katakanlah itu adalah sebuah ketakutan yang terlalu naif, well, siapa peduli.


"Jadi kapan bisa berangkat ke Jakarta pak bu? masalah akomodasi dan lainnya jangan dipikirkan, saya akan menanggung semuanya, sampai bapak ibu kembali lagi kesini nanti." Ia menatap kedua calon mertua, menanti jawaban.


"Lusa orang mau panen raya nak, mungkin sekitar lima hari dari sekarang baru bisa berangkat, gimana bu?" Toleh bapak pada ibu yang duduk disebelah dan diikuti anggukan wanita itu.


"Tidak masalah pak, saya akan menunggu disini jika bapak sama ibu tidak keberatan? sekalian bantu panen."


"Gak papa kok bu."


.


.


.


Audrey


Sementara beratus kilometer dari sana, ada yang sangat merana. Saking merananya sampai tidak mandi seharian dengan mata bengkak serta bekas air mata yang mengering di wajah, benar-benar menyedihkan.


"Sudah ada kabar belum dari kak Galih?" Suaranya serak saat entah untuk keberapa kali menelpon kak Dimas. Beruntung laki-laki itu baik, yang sama sekali tidak keberatan diganggu olehnya.


"Belum Drey, nomornya masih tidak aktif."


Ia mendesah sambil menelan liur yang sudah terasa seperti duri mencekik lehernya. Kata orang rindu itu indah, tapi baginya ini benar-benar menyiksa.


"Galih sudah dewasa, setiap melangkah laki-laki itu bahkan memikirkannya beribu kali, jangan khawatir, dia pasti baik-baik saja, oke. Mungkin hanya butuh waktu sendiri." Suara kak Dimas menenangkan.


"Makasih kak."


"Hmmm, oh iya kakak kirim makanan ke Rooftop, dimakan ya, terus jangan lupa mandi."

__ADS_1


Ia berjengit heran, darimana pria itu tau dia belum mandi sambil membaui keteknya, apa mungkin tercium sampai kesana??


***


Dimas


Ia masih dikantor, saat berulang kali Audrey mengusik pekerjaannya, membuatnya terhenti dari aktivitas dengan tak henti menanyakan hal yang sama, Galih.


Dan entah untuk berapa kali pula ia mencoba menelpon kontak laki-laki brengsek itu, namun nihil, nomor Galih tak juga bisa dihubungi. Mereka yang punya masalah kenapa aku yang repot ckkk.


Dan tepat saat ia kembali fokus pada laporan BHP tersangka curanmor, ponselnya bergetar, kontak Galih calling. Whaattt??? seperti mendapat telpon dari surga, cepat-cepat ia mengangkatnya.


"Gila!! brengsek!! bajingan kemana lo!!!" Serta merta ia mengumpat yang ia yakini Sonia pasti akan pingsan jika mendengar nya.


Dan yang diumpat malah terkekeh diseberang sana.


"Aku liburan." Ucap Galih tanpa beban.


"Cih, liburan. Kamu ninggalin Audrey!!" Suaranya naik beberapa oktaf.


"Bukan meninggalkan dia, tapi memberi sedikit sentuhan tentang arti sebuah rindu, biar dia belajar rindu itu seperti apa, tugas kamu tolong jaga dia sampai aku balik."


Dan ia memijit pelipisnya, jelas pening. Menjaga kekasih orang, yang benar saja.


"Aku lagi di Sidoarjo, kerumah orang tua Audrey, sekalian menjemput mereka. Pulang dari sini, aku akan menikahinya." Jelas suara Galih membuatnya stroke, pria itu...


"Jangan katakan apapun pada Audrey."


"Hahaaaaaa, you're crazy man !!!!" Decaknya sambil melempar puntung rokok ke kotak sampah yang berjarak lima meter dari tempatnya berada.


"Terkadang dalam hidup memang perlu sedikit gila man."


To be Continue


happy reading


sehat selalu semuaaaaa 😍


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2