The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Hai Capt...


__ADS_3

Sekumpulan pramugari tampak kasak-kusuk, bergerombol dan berbisik sambil memperhatikan seorang pria berseragam pilot yang asyik mengobrol dengan teknisi di depan pintu pesawat.


"Ganteng." Satu kata untuk pria itu. 9 from 10, sebab nilai 10 hanya untuk nabi Yusuf, manusia paling tampan yang pernah diciptakan Tuhan. Memiliki postur tubuh tinggi, seimbang dengan pundak lebar yang membuatnya terlihat kokoh dalam balutan seragam. Fatih memang sudah menyita perhatian banyak pramugari sejak awal karirnya, sebab dia berbeda dibanding pilot lain.


Bagi kalangan pramugari, ada dua jenis pilot. Pilot tua pretensius yang sangat sok, dan pilot muda yang terkadang tidak bisa mengontrol hormon sehingga sering horny dan berakhir skandal dengan beberapa pramugari. Tapi captain Fatih tidak termasuk keduanya, dia berbeda, memiliki pembawaan yang hangat dan bersahabat, namun tidak pernah kegenitan di depan wanita tapi juga sama sekali tak terjangkau.


"Siapapun cewek yang nanti bakalan end up sama captain Fatih, pastilah dia beruntung sekali, she's very lucky." Pramugari bergigi gingsul berucap.


"Ya gue setuju, Captain Fatih itu orangnya sopan banget, terus penyayang. Efek cowok satu-satunya kali ya. Dengar-dengar sih dia itu sayang banget sama ibu dan kakak perempuannya." Yang berlipstik pink menimpali.


"Lagi pada ngomongin siapa sih?" Tiba-tiba pramugari berdada 34C ikut nimbrung.


"Tuh...?!" Mereka serentak menunjuk Fatih yang sekarang sudah masuk ke dalam kokpit pesawat.


"Owhhh... Captain Fatih. Dia udah punya istri kali, gak bisa diganggu lgi." pramugari berdada 34C mengangguk-angguk dramatis.


"What???" Sontak saja mereka menganga serentak.


"Iya....Jadi pas kapan ya, kalau gak salah waktu flight ke Manila, gue satu penerbangan sama Capt. Fatih, gue diam-diam sengaja masuk ke kokpit, coba-coba peruntungan gitu, siapa tahu kan captain Fatih khilaf terus nyosor nyium gue pake bibirnya yang kiss-able itu, eh pas gue masuk, dia nya lagi mesra-mesraan sama cewek lewat video call."


"Terlanjur masuk dan ketahuan ya udah, gue tanya, tuh cewek siapa. Dia jawab istrinya, busyeet, mana cantik banget lagi. Akhirnya gue balik badan deh." pramugari berdada 34C mendengus mengakhiri ceritanya.


"Yaaah... Padahal gue sih rela-rela aja kalau misalkan dia minta gue naikin rok." Yang bergigi gingsul terkekeh hambar.


"Dasar omes lo?!"


"Apaan?"


"Otak mesum!!"


"Hahaaaaa...."Mereka tertawa serentak.


.


.

__ADS_1


.


Fatih


Ia sudah masuk ke kokpit dan menyiapkan pesawat lewat tombol panel dihadapannya ketika sebuah panggilan masuk ke ponselnya.


My Soul calling...


"Assalamualaikum, ya babee..."


"Waalikumsalam, hai Capt...How are you?"


Ia tersenyum simpul, Rora memang memiliki banyak panggilan untuknya yang berganti-ganti setiap hari. Terkadang Abang, captain, Capt, sayang, atau kalau gadis itu sedang kesal bisa memanggil kamu.


Jadi setiap hari ia jadi penasaran, Rora akan memanggilnya apa untuk hari ini, ternyata Capt.


"Ya, sayang. I'm fine. I'm preparing to fly now. And how about you, how are you?"


"I'm fine too, take care my capt. I miss you."


Sebenarnya ia belum ingin mengakhiri panggilan, tapi ponsel harus segera dimatikan karena co-pilot sudah mengkodenya lewat isyarat beberapa kali. Yah, jadwal kepulangannya memang tinggal seminggu lagi, tapi menunggu itu rasanya seperti menunggu satu tahun penuh. Belajar dari Dilan ya capt, bahwa rindu itu berat, berat sekali.


.


.


.


Byan


"Jadi kapan mau ajak mommy ke rumah Rora, udah seminggu mommy gak ketemu Rora." Tatap jengkel mommy padanya pagi itu ketika sarapan. Mereka hanya berdua di apartemen, sementara Daniel sudah kembali ke Zurich dua hari lalu.


Ia melirik mommy lewat bulu matanya yang panjang. Yah, seminggu ini ia sudah berhasil menghindar, berkelit dengan banyaknya pekerjaan deadline. Tidak sepenuhnya bohong juga sih, memang dalam minggu ini, jadwalnya padat merayap, menangani kasus di firma yang sudah sampai tahap sidang gugatan, belum lagi kasus di LBH yang juga butuh perhatian ekstra.


Pagi ini pun ada meeting dengan anak-anak junior attorney sebenarnya, tapi masih dua jam lagi. Jadi ia bisa memfokuskan diri pada mommy dulu.

__ADS_1


"Mom, ada yang belum aku ceritakan ke mommy tentang Rora."


Mommy yang tadinya ingin membersihkan meja makan dari sisa piring sarapan mereka terhenti dari kegiatan, menaikkan alisnya tinggi-tinggi sambil memicingkan mata.


Ia berdehem sebentar mengalihkan pandangannya ke arah kulkas, ekspresi mommy persis seperti ketika melihatnya ketahuan menyembunyikan majalah dewasa dikamar dulu waktu SMA.


"Mom, sebenarnya Rora dan Abi bukan sepasang kekasih." Ia memberanikan diri untuk menatap mommy.


Dan bisa ia tebak, keryitan dahi mommy makin tinggi saat ia mengatakan itu, "Apa maksud kamu?"


Ditanyai mommy seperti itu jelas ia sangat gugup, hilang sudah semua kecakapan yang ia miliki sebagai seorang lawyer yang paling ditakuti saat diruang sidang. Mana mungkin ia mengungkapkan betapa brengseknya saudaranya itu kepada mommy.


Mengatakan bahwa Abi adalah seorang penjahat kelamin berwajah malaikat yang hobi meniduri banyak gadis. Dan Rora, she's one of them, sama saja seperti memaksa mommy minum obat pacu jantung satu botol sekaligus. Ia tahu mommy sangat menyayangi Abi, mommy takkan percaya semudah itu.


"Mereka melakukan kesalahan mom, mommy ingat acara opening resort Abi waktu itu. Abi mengajak Rora kesana. Mereka mabuk and then..." Ia diam sejenak menelisik ekspresi mommy yang belum berubah sejak tadi.


"Abi dan Rora hanya teman biasa, lalu Abi melakukan kesalahan yang membuat Rora hamil."


"Bantu Abi bertanggungjawab, nikahi Rora. Mommy minta kamu menikahi Rora." Tegas mommy.


"Awalnya rencana aku dan Daniel seperti itu, tapi belakangan kami tahu kalau Rora sudah menikah. Dia bahagia bersama suaminya." Ia mencoba menatap mommy.


Mereka terdiam, ada raut kecewa di wajah mommy, mommy menunduk menahan tangis, ia tahu itu.


"Mommy tidak akan kehilangan cucu mommy, walau bagaimanapun bayi yang dikandung Rora tetap anak Abi, cucu mommy. Aku akan bicarakan ini ke Rora." Ia beranjak, mengikis jarak antara ia dan mommy. Perlahan direngkuhnya tubuh mommy.


"Rora gadis baik, aku akan bicarakan ini. Mommy tetap bisa mendapatkan cucu mommy, ya."


"Bawa Rora kesini, mommy ingin bicara."


Dan ia mengangguk setuju, setidaknya mommy bisa menerima bahwa Abi dan Rora tidak pernah terikat hubungan apa-apa selain dari sebuah kesalahan.


To be continue


Happy reading ya readers tersayang

__ADS_1


Sehat sehat selalu di manapun kalian berada....


__ADS_2