
Jika teringat tentang dikau
Jauh dimata dekat di hati
Sempat terfikir tuk kembali
Walau beda akan kujalani
Tak ada niat untuk berpisah dengan mu..
....
Kita masih muda dalam mencari keputusan, maafkan aku ingin kembali seumpama ada jalan tuk kembali.
(Diambil dari lirik lagu JIKA - Melly Goeslaw feat Ari Lasso)
***
Bandung
Pukul 17.00 wib
Bayu
"Berangkat sore ini Yu?" Oma membuka pintu kamarnya yang terbuka setengah.
"Iya ma." Jawabnya tanpa menoleh, masih sibuk mengemasi barang, memasukkan beberapa lembar gulungan kaos ke dalam tas ranselnya.
Entahlah, ia lebih memilih pulang ke Jakarta ketimbang ikut menjadi panitia ospek MABA (Mahasiswa Baru). Padahal menurut Dika, sang ketua panitia, inilah kesempatan mencari gecengan untuk jomblo seperti dirinya sebab akan ada banyak adik tingkat dari berbagai fakultas yang cantik-cantik.
Enam purnama telah berlalu, ia pikir sudah cukup untuknya bisa melupakan Audrey, tapi ternyata ia salah. Gadis itu, entahlah, ia ingin membenci tapi hati ini tidak pernah bisa untuk sekedar membuang semua kenangannya bersama Audrey, senyumnya, tawanya, candaannya, kesemua itu membuatnya makin tersiksa.
Dan disinilah akhirnya ia berada, setelah menempuh perjalan Bandung- Jakarta dengan mengendarai motornya, ia berbaring dikamar. Libur dua minggu sudah cukup untuk bermalas-malasan di rumah.
Biasanya akan ada seseorang yang menantikan kepulangannya ke Jakarta, siapa lagi kalau bukan Audrey, tapi kali ini tidak. Perpisahan mereka bahkan masih terasa sampai saat ini, ia yang mengambil keputusan bukan Audrey.
Ia yang meninggalkan gadis itu, memutuskan hubungan mereka. Ia bahkan tidak memberi Audrey kesempatan untuk bicara, ia hanya terlalu emosi saat itu.
***
Mungkin sudah ditakdirkan semesta, siang ini padahal ia sudah berencana untuk menjatuhkan harga dirinya dengan mendatangi kosan Audrey, tapi belum sempat ia kesana, gadis itu entah datang darimana sudah ada di hadapannya ketika ia ingin membeli sesuatu.
"Audrey."
__ADS_1
Audrey menoleh, tampak terkejut dan salah tingkah saat ia memandang lekat pada wajah gadis itu.
"Apa kabar?"
"Baik, kamu?"
"Baik."
"Sudah bisa bawa motor sekarang?" Tatapnya pada motor yang baru saja diparkirkan oleh gadis itu.
"As you see "
Ia sempat terkekeh pelan, mengingat betapa dulu takutnya Audrey belajar motor sampai menabrak tembok pembatas jalan, kemudian kapok dan tak berani lagi walau hanya sekedar memegang stang nya.
"Aku duluan ya, mau ambil barang." Audrey mengangguk pelan dan melangkah masuk ke sebuah toko dan service alat-alat komputer, semua terasa kaku.
Ayolah Bayu, bukan kah kamu sendiri yang meminta, jika suatu saat bertemu maka jadilah orang asing satu sama lain, begitu kan ucapan mu pada Audrey, dan kau sudah menjilat ludahmu sendiri dengan menyapanya, gadis itu masih mengingat nya, dan akan selalu ingat sebab wanita adalah mesin pengingat nomor wahid di dunia.
Lama ia hanya mematung tak jelas disisi jalan, hingga siluet Audrey tampak keluar lagi dari toko.
"Loh kok masih disini?" Audrey berjengit heran.
"Nungguin kamu." Dapat ia lihat air wajah Audrey langsung berubah cemas.
"Bisa ngobrol bentar gak?"
"Mau ngomongin apa?" Gadis itu tampak gelisah.
"Ada banyak, terakhir berpisah, aku baru nyadar kalau ternyata kita perlu ngobrol lebih sebenarnya."
Dan ia menunggu, menunggu reaksi Audrey sambil menggenggam erat kunci motor yang tengah ia pegang. Dan akhirnya ia bisa bernafas lega sebab gadis itu mengangguk pelan.
"Cari tempat makan enak?" Tawarnya
"Tidak perlu, disana saja." Audrey menunjuk sebuah cafe kecil persis disamping toko komputer.Keduanya berjalan bersisian menuju cafe.
"Mau minum apa?" Tanyanya pada gadis yang sejak tadi nampak gelisah itu.
"Apa saja." Jawab Audrey cepat.
Ia akhirnya memilih jus buah sebagai pelega tenggorokan siang itu dan mulai memesan.
"Jadi mau ngomongin apa?" Jelas terpampang ketidaknyamanan Audrey duduk berdua dengannya, membuat hatinya berdenyut pilu, ternyata waktu telah banyak mengubah gadis ini.
__ADS_1
"Maaf, karena terakhir kita bertemu aku egois, bahkan tidak mendengarkan dari sudut pandang mu."
"Aku minta maaf Drey." Ucapnya melirih.
Gadis itu tersenyum, manis sama seperti dulu.
"Aku juga minta maaf, aku yang salah telah menyakitimu. Aku sama sekali tidak tau kalau oom itu adalah papamu. Tapi satu hal yang perlu kamu tau, aku tidak pernah disentuh oleh papamu. Aku berubah pikiran dan melarikan diri malam itu."
Nafasnya tercekat mendengar penuturan Audrey, sejak awal seharusnya ia meminta penjelasan dari gadis itu sebelum memutuskan sesuatu.
"Yang berlalu biarlah berlalu, kita tidak bisa mengulang waktu bukan." Audrey kembali tersenyum.
"Aku, aku hanya terlalu emosi waktu itu, I'm sorry Drey."
"Drey, bisakah kita kembali, maksudku, maafkan aku, can I gonna be you, kita seperti dulu."Jelas suara nya terdengar seperti gumaman memalukan, tapi apapun itu, saat ini ia hanya ingin Audrey.
Hening untuk beberapa saat hingga gadis itu berucap.
"Ada banyak kejadian setelah kita berpisah Yu, semua tak lagi sama dan aku sudah mencintai orang lain, aku sangat mencintainya, kami akan menikah."
DUARRRRR....
Ucapan Audrey seperti bom molotov meledak dihatinya, meluluhlantakkan tatanan kehidupan yang ada disana, baru saja enam bulan dan gadis itu sudah bisa melupakan nya dengan mudah, apa katanya tadi, ingin menikah?
Ia tersenyum getir sembari mengangguk pelan, yah benar kata Audrey, semua tak lagi sama. Dan ia harus menerima itu dengan lapang dada bukan.
"Siapa? maksudku siapa pria itu?" Dengan tak tau malunya ia bertanya.
"Dia dokter ditempatku bekerja, dia yang menolongku malam itu, saat lari dari hotel, dia yang memberiku tumpangan saat aku sudah tidak sanggup membayar sewa kost, dia yang memberiku pekerjaan hingga aku terbebas dari lilitan hutang, dia yang memberiku semangat saat ibuku saja bahkan menyuruhku untuk berhenti kuliah karena tak ada biaya, dia..."
"Cukup." Ia menghentikan gadis itu, setiap perkataan Audrey makin menusuknya, bahwa ia yang sama sekali tak tau apa-apa tentang sang kekasih, bahwa ia yang hanya bisa menyalahkan gadis itu tanpa mau tau mengapa Audrey sampai memutuskan untuk berada dihotel malam itu, ia benar-benar malu.
"Maafkan aku, aku mencintainya, bukan hanya sekedar balas budi atas kebaikan kak Galih padaku, tapi lebih dari itu. Dia yang sudah menggenggam ku saat aku dicampakkan olehmu dulu. Aku sangat mencintainya lebih dari apapun, maafkan aku." Audrey berdiri dan keluar meninggalkannya yang masih termangu.
To be Continue...
Happy reading ya
nih othor orangnya mood mood gak jelasπππ emang...
lagi pengen nulis, ya nulis
lagi gak feel, yah kosong up seharian π€π€...Tapi yang jelas othor nulis karena hobi, kadang suka baca tulisan sendiri jadi othor tidak terlalu mempermasalahkan jumlah readers yang sedikit, tapi setiap hari othor selalu mendoakan setiap yang baca diberi kesehatan, lancar-lancar rezekinya, dipermudah urusannya dan makasih banyak yang udah ngasih bunga yaπππβ€οΈβ€οΈβ€οΈ, yang nge like, yang komen, ah kalian ππππ...
__ADS_1
Tetap saling mendoakan dalam kebaikan