
Byan
"Jadi, apa kata Rora? dia mau kesini kan?" Mommy mengekornya yang baru saja menutup panggilan telepon.
"Gak bisa mom, bukan Rora yang angkat, tapi ibu mertuanya. Rora nya sakit."
"Hah..Sakit? sakit gimana maksud kamu?"
"Yah gak tau, aku gak nanya tadi."
"Aihh, kamu ini. Ditanya dong, Roranya sakit apa. Ayo kita jenguk ke sana."
"Jangan mom, gak enak nanti sama keluarga suaminya."
"Apanya yang gak enak, mommy mau jenguk cucu mommy, jangan larang, cepat siapkan mobil." Mommy berjalan tergesa ke arah kamar.
"Mom, aku ada meeting dua jam lagi." Decaknya sambil menyusul mommy.
"Meeting berapa jam? mommy ikut ke kantor, mommy tunggu."
Matanya terbelalak sempurna menanggapi perkataan mommy, yang benar saja, mommy mau ikut ke kantor, gila.
"Mommy tunggu di sini dulu, nanti abis meeting aku jemput. Soalnya aku gak tau selesainya jam berapa." Ia memijit pangkal hidung.
Seperti biasa, mommy menaikkan alisnya tinggi-tinggi, "Janji?"
"Janji, aku langsung balik kalau udah beres." Angguknya cepat.
"Ya sudah, mommy tunggu."
.
.
.
Ia memarkirkan mobilnya tergesa saat telah sampai di kantor. Bery telah menunggunya di ruangan bersama Lola dan beberapa junior attorney lainnya.
"Sorry telat, kita mulai." Ucapnya tegas.
Namun baru saja ingin menutup pintu ruangan, bang Tanjung tergesa menghampirinya, membuatnya terhenti memegang hendle pintu.
"By, kemaren minta sekretaris kan?"
"Ya."
"Udah ada calon dari HR, kamu wawancara nanti ya, takutnya gak cocok sama kamu, kalau di abang sih udah oke tuh anak, cewek sih, lulusan S2 Amrik, bingung juga kenapa mau melamar jadi sekretaris disini. Katanya mau cari pengalaman dulu, ngikut lawyer sambil bisa belajar." Ujar bang Tanjung antusias.
"Yah kalau dari HRD oke, terus di abang udah acc, aku gak perlu wawancara dia lagi dong." Kernyitkan dahinya heran.
__ADS_1
"Gak bisa, dia kan bakalan kerja langsung sama kamu, takutnya oke di abang, gak oke di kamu."
"Oh ya udah, bilangin besok aja. Soalnya abis meeting, aku mau balik, ada urusan."
Bang Tanjung mengangguk setuju dan ia menutup pintu ruangan saat punggung bang Tanjung sudah terlihat menjauh.
.
.
.
Tepat pukul dua siang ia kembali ke apartemen, seperti dugaannya, mommy telah menunggu dengan tote bag berisi berbagai macam makanan dan vitamin.
"Ayo By, langsung aja. Kamu udah makan siang kan?" Mommy sudah lebih dulu keluar bahkan sebelum ia benar-benar masuk ke apartemen. Dan ia hanya bisa menggelengkan kepala mengekori mommy dari belakang.
"Mom, aku belum bilang ke Rora kita mau kesana." Liriknya dari balik bulu matanya kearah mommy yang duduk persis disebelah.
"Gak perlu, jenguk cucu juga, itu cucu mommy loh."
Ya Tuhan mommy!! bukan cucu mommy seorang, tapi ada calon neneknya yang lain juga disana nanti.
Ia hanya bisa pasrah saat mobil mereka telah memasuki pekarangan rumah Rora, dari teras tampak sepasang suami istri yang ia tebak adalah mertua Rora sedang mensinyalir keberadaan mereka disana.
Mommy lebih dulu membuka pintu mobil, sambil sibuk mengangkat tote bag ditangan kirinya, namun detik berikutnya mommy berteriak histeris.
"Dimaaas?!"
"Ya Tuhan, apa kabar?" Mommy tergopoh mendekati pria itu dan menepuk- nepuk punggung pria yang baru ia ketahui adalah papa mertua Rora.
"Baik, kamu? sudah lama tidak ketemu sama si jurnalis ceriwis yang hobi ngobrak-abrik Polsek nih, kok bisa kesini?"
Mommy tertawa,"Kami tinggal di Zurich sejak Galtron pensiun."
"Wah agen FBI sudah pensiun ternyata, mana Galtron?"
"Dia tidak ikut, eh iya kenalkan ini salah satu kembar ku, Byan." Mommy merangkulnya, dan ia dengan gesit menyalami om Dimas dan sang istri.
"Jadi ini Byan yang nelpon Rora pagi tadi?" ujar wanita itu menatapnya.
"I-ya, tan." Cengirnya sambil mengusap tengkuk.
"Rora?" Om Dimas menaikkan alisnya menatap sang istri dan ia bergantian.
"Ayo masuk dulu, ngobrol2 di dalam." tante itu mengajak mereka masuk.
Setelah duduk di dalam, barulah ia menceritakan semuanya pada om Dimas dan tante Sonia, menceritakan tentang Abi dan Rora, tak ada yang terlewat sedikitpun. Sampai pada niat mereka untuk menjenguk cucu mommy.
Dan lagi- lagi mommy menangis, saat ceritanya sampai pada insiden kecelakaan pesawat Abi, tante Sonia bahkan harus memeluk mommy untuk menenangkan. Dan berikutnya, mommy sudah ceria lagi ketika om Dimas menggiring obrolan pada nostalgia mereka dulu, yang baru diketahuinya bahwa mommy dan om Dimas bersahabat. Mommy adalah teman baik dari almarhumah istri om Dimas yang pertama, ibu nya mbak Ara.
__ADS_1
"Rora nya mana?" Celetuk mommy kemudian.
"Ada dikamar, dari pagi tadi belum ada bangun. Diajak ke Rumah Sakit gak mau, katanya mau nunggu Fatih dulu." Tante Sonia mengajak mommy ikut masuk ke dalam kamar yang masih berada di lantai satu itu.
.
.
.
Aurora
Ia kaget bukan kepalang saat ada mommy Byan berada di dalam kamarnya. Tapi sumpah demi apa, tubuhnya sama sekali tidak bisa diajak kompromi, seperti ada batu besar yang menindih setiap sendi-sendi nya, hingga ia tidak bisa bergerak sedikitpun walaupun sekedar duduk untuk menyambut kedatangan mommy.
"Kenapa sayang?" Mommy mencium keningnya pelan.
"Kamu pucat sekali, kita ke Rumah Sakit ya."
Dan ia menggeleng," Mau nunggu Fatih dulu mom."
"Tapi sudah pucat begini, Fatih kapan pulang?"
"Tadi sudah telpon, jadwalnya bisa dipercepat soalnya sekarang dia lagi di Bangkok, kemungkinan lusa sudah di Jakarta." mama Sonia menjawab, dan mommy mengangguk lembut, kemudian beralih padanya lagi.
"Mommy udah buat bubur, dimakan ya." Mommy dengan gesit membuka wadah berisi bubur yang ia bawa, sedang mama Sonia membantunya berada pada posisi semi fowler, setengah duduk dengan ditopang beberapa bantal di bagian punggung.
Sebenarnya perutnya dengan tegas menolak saat bubur yang disuap mommy masuk ke mulut, tapi melihat mommy dan mama Sonia begitu semangat dan telaten merawatnya membuatnya tidak tega memuntahkan lagi apa yang sudah berada di lambung.
Tak lama, terdengar suara mama dari arah luar. Ia menoleh ke mama Sonia, mama mertuanya tersenyum salah tingkah,"Mama panggil Galih sama Audrey kesini, mama khawatir, kamu sudah pucat begini, dibawa ke dokter gak mau."
Pintu kamar terbuka, memunculkan mama dan papanya dari sana. Agaknya papa dan mama mungkin sudah diberitahu hingga mereka tak terkejut lagi ketika melihat keberadaan mommy Byan disini.
"Kamu kenapa kak?" papa dan mama mendekatinya, papa yang memang sudah membawa alat tempur dari rumah, langsung memeriksa tanda-tanda vitalnya, memeriksa mata serta mulutnya dan terakhir beralih ke arah perutnya.
"Sejak kapan seperti ini?" Papa bicara getir.
"Semingguan pa."
"Seminggu dan kamu masih santai, belum cek labor?"
"Sudah Konsul sama teman di bagian onkologi."
Dapat ia lihat papa menghela nafas frustasi sambil menatap nanar padanya.
"Non- hodgkin's Lympoma, baru dugaan awal berdasarkan temuan subjektif, tapi kan belum ngirim sampel darah, jadi jelas saja diagnosis masih ambigu." Jelasnya hambar pada papa.
"Kamu seorang dokter, biasakan jangan pernah menegakkan diagnosa tanpa memegang data pemeriksaan diagnostik dan data penunjang lainnya. Kita ke Rumah Sakit sekarang." Papa berdiri tegang.
To be continue
__ADS_1
Happy reading yaaa....