
Aurora
Pengumuman terakhir yang menyuruhku untuk segera masuk ke dalam pesawat membuat drama tangis-tangisan berdua mama terhenti.
"Hati-hati sayang..." Sekali lagi mama memelukku erat. Akhirnya aku bisa kembali pulang ke Sapporo, Hokkaido diiringi lambaian tangan mama dan senyum terkembang papa, tak lupa cubitan kecil dipipi untuk Abel.
Dengan satu tarikan napas, aku mengambil tote bag dan bangkit berdiri, menuju pesawat yang siap mengangkutku pulang.
Aku menatap pesawat di hadapanku sambil berjalan di garbarata. Kembali rasa takut itu menghantuiku.
Sebuah rasa takut yang tidak beralasan setiap kali menaiki pesawat. Yah, aku benci menggantungkan hidupku pada seorang pilot dalam beberapa jam kedepan.
Di pintu masuk, aku berpapasan dengan pramugari cantik yang tersenyum lebar. Menginjakkan kaki di sini membuatku teringat si Pilot dengan senyum hangatnya, siapa lagi kalau bukan Abi.
"I can't promise you anything but I'm sure you are in good hands."
Ucapan Abi terngiang di telingaku sebelum ia berpamitan pulang di malam party nya mbak Ara waktu itu. Sambil menuju tempat dudukku, aku tidak kuasa menahan diri untuk tidak tersenyum.
"Ladies and gentlemen, this is Ginny Weasley and I'm your chief flight attendant. On behalf of Captain Abimanyu Syailendra and entire crew, welcome aboard to Skyline, airline flight number SA 00543 from Jakarta to Sapporo, Hokkaido…."
Tunggu, apa katanya?
Abimanyu Syailendra... Abi???
Abi di Jakarta lagi? dan sekarang jadi pilotnya menuju Sapporo.
Tiba-tiba ide konyol terlintas dipikirannya, ia memanggil pramugari yang kebetulan melintasi kursinya.
"Excuse me...Miss..."
"Yeah.." Pramugari itu tersenyum hangat.
"Mr. Abimanyu Syailendra, dia pilot penerbangan ini, kan?" tanyaku, yang dijawab pramugari itu dengan anggukan. "Tell him bahwa aku mempercayakan penerbangan ini padanya, in his good hands."
.
.
.
Abi
"Morning, capt."
"Captain, the skyline is ready to fly. There's nothing to worry. Have a safe flight."
Aku berbalik dan menghadap Jack, engineer yang bertugas memastikan pesawat ini dalam keadaan aman dan siap sebelum lepas landas.
Jack menyodorkan tangannya yang terkepal, dan kusambut dengan kepalan tanganku. Dia juga melakukan hal yang sama kepada co-pilot, sebelum kemudian menghilang dari kokpit.
"Alright, everything under control?"
"Yup. Everything's fine."
Sekarang tinggal menunggu para penumpang itu masuk ke dalam pesawat sambil fokus pada panel-panel dihadapan ku.
"Ckkkk....Dasar player cap kodok..?!" Bian, salah satu pramugari penerbangan ini berkacak pinggang di pintu masuk kokpit yang membuat aku dan co-pilot serentak menoleh.
"Mr. Abimanyu Syailendra, dia pilot penerbangan ini, kan?"
"Tell him bahwa aku mempercayakan penerbangan ini padanya, in his good hands."
"Gadis mana yang kamu goda sebelum masuk ke pesawat sampai ia menitip pesan seperti itu padaku?" Geleng kepala Bian setengah tertawa menatapku.
"Apa maksudmu?"
"Penumpang seorang wanita cantik menitip pesan tadi, tolong sampaikan padamu."
__ADS_1
"Who..?" Kernyitkan dahiku heran sebab merasa tidak bicara pada gadis manapun sejak kemarin.
"Her seat number, please.."
"Bangku nomor 32..." Bian berbalik meninggalkan kami, detik itu juga aku memanggil Gea dan meminta daftar nama penumpang.
"Aurora...?!"
Aku tersenyum simpul, gadis itu...dan entah mengapa melihat daftar nama Aurora dalam pesawatku membuat semangat ku bertambah berkali lipat.
Come on, here we fly...
.
.
.
"Hai..." Aku tak kuasa menyapa Aurora saat menemukan gadis itu berjalan di garbarata.
Aurora tersenyum hangat, "Thanks... penerbangan yang bagus."
Aku mengangguk singkat, "Langsung pulang?"
"Ya..."
"Tinggal dimana?"
"Di Sapporo selatan."
"Apartemen, Mess atau apa?" Aku mensejajarkan langkahku disamping Rora.
"Apartemen."
"Boleh ikut?"
"Kalau tidak keberatan, biasanya aku langsung ke hotel. Tapi sekarang sudah ada teman di Sapporo jadi boleh ikut mampir ke apartemen kamu dong, numpang ngopi."
Lipatan dahi Rora makin dalam, membuatku akhirnya terbahak, aku yakin 100 persen, gadis ini tidak pernah mengajak pria masuk ke dalam apartemennya.
"Boleh?" Sengaja aku menaik-turunkan alisku menatap Rora yang tampak berfikir.
"Oke baiklah, just coffe."
"yeahh just coffe, and eat something, and a few minutes of sleeping."
Mata Rora membulat sempurna menatap tajam ke arahku, "Hanya bercanda, just coffe, oke." Aku terkekeh.
.
.
.
Aurora
Mengajak Abi ke apartemen ternyata sungguh keputusan yang salah. Tapi nasi sudah jadi bubur ayam. Sekarang Abi telah berdiri diambang pintu apartemennya.
Dan tepat saat pintu terbuka, ia baru menyadari bahwa ia belum sempat beres-beres sebelum meninggalkan apartemen beberapa waktu lalu. Sehingga membuatnya kelabakan mengambil dan meraih apa saja yang tampak terserak di sofa, lantai dan beberapa tempat yang ia lewati.
"Silahkan duduk dulu."
Abi mengangguk singkat, mendaratkan bokong di sofa miliknya, namun detik berikutnya, ia harus menahan nafas.
Ada bra hitamnya di bawah sofa, tepat dimana kaki pria itu menapak, ya Tuhan...
Kenapa bisa ada disana?
__ADS_1
Ia ingat, itu sebab ia tidur disofa malam sebelum berangkat ke Indonesia, ia kebiasaan tidur tidak memakai bra dan melepaskannya disana.
Bagaimana ini?...
"Kenapa?" Toleh Abi padanya yang mematung di sisi sofa.
"Tidak, tidak. Sorry apartemennya kecil dan berantakan, aku tidak sempat beres-beres sebelum pergi." Ia setengah tertawa.
"Never mind... kamu sangat sibuk sepertinya, sampai benda ini saja ada disini." Dengan gerakan cepat Abi sudah mengambil bra di bawah sofa menggunakan satu tangan.
"Whoaaaaaaaa.... Kembalikan?!"
"Hahahaaaaa.... size 32 B, it's small *****." Abi terbahak setelah benda sialan itu telah berhasil ia rampas.
Wajahnya tidak tahu sudah semerah apa, menahan malu luar biasa. Tapi tampaknya pria itu biasa-biasa saja.
Cepat-cepat ia beranjak dari sana, membawa bra menggenaskan itu dan melemparnya ke dalam keranjang cucian. Kemudian beralih ke pantry, membuatkan secangkir kopi untuk tamu tak diundang, si Abimanyu Syailendra.
.
.
.
Abi
Ia masih tersenyum-senyum sendiri sambil menelisik setiap sudut apartemen Rora. Tidak terlalu besar, hanya ada satu kamar, satu ruang tamu yang merangkap juga sebagai ruang nonton, dapur, kamar mandi dan balkon. Cukup untuk ditinggali oleh satu orang.
"Sudah lama tinggal disini?" Tolehnya pada Rora yang berjalan dengan secangkir kopi panas ditangan.
"Satu tahun, lepas pengabdian langsung dapat kontrak di Sapporo, sebelumnya tinggal di Penang, Malaysia."
"Kuliah di Malaysia, kerja di Sapporo. Padahal orangtua punya Rumah Sakit di Indonesia. Why..?"
Dilihatnya Rora hanya mengedikkan bahu pelan. Ia menyesap kopi pemberian gadis itu.
"Kamu sendiri? dimana tempat tinggal?" Rora balik bertanya.
"Aku..?" Ia diam sejenak. Dulu sekali, ia pernah bermimpi, memiliki tempat tinggal dimana keluarga akan menanti kepulangannya, istri tercinta yang akan menyambut di daun pintu sambil tersenyum hangat. Membuatnya ingin cepat-cepat menyelesaikan misi penerbangan dalam satu rute.
Tapi itu dulu, mimpi itu telah lama menjauh, sudah terhapus dari memori nya dan tak ingin ia ingat lagi. Tapi anehnya saat melihat Rora tersenyum tepat dihadapannya, ia kembali mengingat mimpi itu.
"Aku tidak ada tempat tinggal." Jawabnya pelan hampir tak terdengar.
"Ahh mana mungkin. Orang tua dimana?" Rora kembali menatapnya.
"Daddy and Mommy menetap di Zurich setelah pensiun dari FBI."
"Wow keren, papa mu anggota FBI, kenapa kamu jadi pilot?" Mata Rora membulat sempurna tak bisa menyembunyikan takjub.
"Sudah kukatakan, ini cita-citaku sejak umur lima tahun, you know. Lagian aku tidak terlalu suka pekerjaan yang menantang maut dan darah."
"Hei... pekerjaanmu sekarang juga menantang maut, bukan? terbang di ketinggian ribuan kaki dari permukaan laut dengan burung besi yang kapanpun bisa terjatuh."
"Kamu keberatan jika memiliki pasangan dengan pekerjaan sepertiku?" Entah mengapa tiba-tiba saja pertanyaan seperti itu lolos dari bibirnya.
"Hah..?" Rora berjengit.
"Kurasa tidak, sebab aku mempercayai takdir." Gadis itu tersenyum dan anehnya membuat sesuatu terbuka dari dirinya, sesuatu yang telah lama ditutupnya rapat-rapat, ia merasakan kembali.
Sudah sangat lama ia tidak merasakan debaran jantung yang begitu dahsyat seperti ini dan rasanya bagaikan ada ribuan kupu-kupu menari di dalam hatinya walau dengan hanya menatap senyum gadis itu sesaat.
Rora berbeda, gadis ini berbeda. Gadis ini pastilah seorang penyihir...
To be continue
happy reading yaaa...
__ADS_1