
Audrey
Dia baru saja mengunci pintu kosan ingin pergi keluar ketika Bu cik Dariyah menghampirinya dengan sedikit tergesa, dan dia sudah bisa menebak wanita asal Palembang itu hendak menagih sewa kosan yang sudah menunggak tiga bulan.
Me ngu lum bibir kuat, dia memikirkan alasan apalagi untuk mengelak kali ini, mulai dari alasan belum dapat kiriman, sampai uangnya kepake, tunggu satu minggu lagi dibayar, nyatanya sampai saat ini semua hanya janji-janji semu.
Sudah terlanjur tersudut Audrey hanya bisa menghela nafas sembari menelan liur yang rasanya seperti biji salak tersangkut di kerongkongan.
Satu...
Dua...
Tiga...
"Audrey, nak kemano kau?"
(Audrey, mau kemana kamu?)
"Baru nak pai ke Rumah Sakit Bu cik."
(Baru mau berangkat ke Rumah Sakit Bu cik)
"Mak Mano cerito kau nih Drey, duit kosan tuh kapan nak dibayar, dak katek duit terus, men dak tebayar lagi, wong lain ado nak nunggu nyo."
(Gimana ceritanya kamu ini Drey, uang kosan kapan mau dibayar, kalau gak bisa bayar lagi, orang lain ada yang mau ngekost disini)
"Iyo Bu cik, tunggulah sampai akhir bulan koh yo, Audrey lagi usaha cari duitnyo.
(iya Bu cik, tunggu sampai akhir bulan ini, Audrey sedang usaha mencari uangnya)
"Nian yo, dak katek alasan lagi pokoknyo (Serius ya, pokoknya gak ada ada alasan-alasan lagi)
Dia hanya mengangguk, meski tak sepenuhnya yakin bisa mendapatkan uang secepatnya dan kepalanya bertambah pening sebab disaat yang sama, ponselnya berbunyi.
"Hallo Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Drey ini aku Fitri."
"Iya Fit?" sambil mengangguk memberi kode pada Bu cik Dariyah untuk pamit dari sana.
"Gimana uang yang kamu pake kemarin? udah ada belum? soalnya aku lagi butuh banget buat bayar kredit motor bulan ini, maaf ya Drey, sebenarnya gak enak aku nagih- nagih kayak gini, cuma lagi kepepet Drey."
Dia memejamkan mata sebentar, memijit pangkal hidung dan berjalan menuju tukang ojek pengkolan.
"Fit, tunggu tiga hari lagi ya, aku usahakan tiga hari lagi, please."
"Beneran tiga hari lagi ya Drey, takutnya kena denda kalau kelewatan bayar cicilan motor ntuh."
"Iya, aku usahakan."
__ADS_1
Telpon terputus, lagi, dia merasakan beban hidupnya menghimpit bagai godam raksasa tepat di area dada, sesak, oh my ...
Gali lobang tutup lobang
Pinjam uang bayar hutang
(Rhoma Irama)
Lagu bang Rhoma seolah mengiang ditelinganya bagai kaset kusut yang diputar berulang-ulang, membuat kepalanya seolah ingin meledak.
.
.
.
Dikiranya dengan sibuk di Rumah Sakit, sedikit meredakan pening kepala yang semakin menjadi, tapi nyatanya obrolan mahasiswa di ruang jaga perawat sukses membuat nya ingin meneguk racun rumput bermerek Gramaxon.
Ouuchh shitt !!!
"Eh, udah baca pengumuman kampus belum? di depan ruang akademik?" Robi sang ketua HIMA mendaratkan bokongnya di kursi kayu panjang tepat disebelah Audrey yang pura-pura sibuk membaca laporan.
"Oh yang magang di RSJ itu kan?" suara Anggun.
"Malaysia bro! kita bakalan magang di Rumah Sakit Jiwa Malaysia, keren kan."
"Abis magang di sini,langsung berangkat, kira-kira sebulan lagi."
"Berapa duit tuh bro?"
"Rincian biaya udah ada di lampiran pengumuman, udah di share di grup angkatan, batas akhir pembayaran minggu depan."
Anggun yang langsung membuka ponsel pintarnya , serius membaca file pengumuman yang telah diunduh.
"Total rincian biaya 20 juta."Gumam gadis itu pelan, yang naasnya masih bisa ditangkap telinga Audrey.
20 juta...
20 juta...
Kemana ia harus mencari uang sebanyak itu, oh my God...
Tubuhnya melemas, tulang-tulang nya entah sejak kapan telah berubah menjadi yupi, ia lebih memilih pergi keluar ruangan ketimbang mendengar obrolan seru teman-temannya.
Loony yang sejak tadi melihat perubahan aneh Audrey, menyusulnya yang telah berjalan ke arah kantin.
"*hei why...?"
"Nothing."
__ADS_1
"Come on, can you tell me*?"
Ia mendesah pelan, matanya berkaca menatap Loony.
"Aku berhenti kuliah."
"Apa karena tidak ada biaya?" Loony mengirinya berjalan ke kantin.
Ia memilih diam seribu bahasa, sampai mereka duduk di warung mie ayam menunggu pesanan.
"Ibu menyuruhku berhenti kuliah, beliau sudah tidak sanggup membiayai ku lagi."
"Tapi tinggal dua semester lagi Drey." Loony menatapnya iba.
"Ya... tapi aku sudah buntu, semua pintu sudah tertutup, bahkan jendela pun tak ada."
"Masih ada ventilasi." Keduanya bersitatap.
"Masih ada ventilasi kalau hanya sekedar untuk bernafas." senyum tersungging dari bibir Loony.
"Kerja."
Kuliah di kesehatan dengan jadwal tabrak lari tak beraturan seperti ini, kadang ke Rumah Sakit, kadang ke kampus dalam satu hari yang sama membuatnya sangat sulit mencari pekerjaan part time yang berjadwal.
Dan lagi pekerjaan apa yang bisa mendatangkan uang puluhan juta dalam waktu kurang dari satu minggu coba, ia mendesah entah untuk keberapa kalinya.
"Aku juga banting tulang hidup sendiri Drey, orang tuaku bercerai akhir tahun kemarin, I'm alone too." Loony menggenggam tangan Audrey.
"Kamu bisa hidup tenang tanpa himpitan, bagaimana bisa?" sontak ia tidak bisa menyembunyikan jiwa kepo nya yang diatas rata-rata itu.
"Aku bekerja."
"Bekerja?, selama ini kamu tidak pernah cerita?"
"Karena pekerjaan ku..." Suara Loony tercekat.
"*what?"
"What is your job*?"
"Aku..."
"Pekerjaan ku tidak baik Drey, kamu pasti..."
"Apa...apa pekerjaan mu?"
To be Continue
happy reading disela kesibukan persiapan lebaran ya reader tersayang...
__ADS_1