The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Your promise to flying with me...


__ADS_3

Aurora


Suasana mendadak kaku saat sosok Fatih muncul dari balik pintu, ia sempat menoleh sekilas kemudian sepertinya pria itu bisa mengendalikan suasana. Fatih tersenyum lebar berjalan mendekatinya.


Namun tidak dengannya, seketika kegugupan bercampur malu melanda, ia mundur selangkah mencari perlindungan di balik tubuh tinggi menjulang milik Abi. Ia menarik nafas panjang.What did you do Rora??


"Hai...Bro..?!" Abi langsung merangkul Fatih hangat.


"Heii.. How are you?" makin cakep aja." Suara Fatih namun sempat meliriknya sekilas.


"Kok bisa berdua?" Fatih jelas penasaran melihat Abi bersamanya.


"Ohh... ketemu Rora waktu di Boarding room waktu flight delay , dan ternyata tujuan kita sama, I'm her pilot. Ya kan Ra?" Toleh Abi padanya dan seketika itu pula tatapannya tertohok pada mata tajam Fatih yang sedang melihatnya.


"Oh i-ya, iya."


Come on Rora, santai...


Lihat, Fatih aja biasa-biasa saja ketemu kamu, lupakan kisah lalu. Anggap tidak pernah terjadi. Yap...mari kita lupakan.


"Ya ampuun Roraa, udah mama tunggu dari kemarin ini." Mama Sonia langsung memeluknya erat, membawanya ke ruangan lain disusul mbak Ara yang juga tampak antusias bertemu dengannya.


Dan ia selamat, menghembuskan nafas lega sebab bisa menjauh dari Fatih yang kini asyik mengobrol bersama Abi.


Dari tempat ia duduk, ia bisa melihat sebuah foto besar terpampang di dinding, foto Fatih mengenakan seragam pilot, gagah sekali dan yah tampan maksimal, sama seperti dulu dan akan tetap sama.


Tidak bisa dipungkiri bahwa pria berseragam akan terlihat jauh lebih menarik dimata perempuan. Bahkan teman seprofesinya di RS yang memiliki suami seorang pilot pernah berkata seperti itu. Melihat sang suami dibalik seragam pilot membuatnya turn on katanya. Hahaaaa ada- ada saja.


"Jadi gak ada niat buat balik ke Jakarta Ra?" Toleh mbak Ara padanya hingga membuat lamunannya buyar.


"Belum ada niat mbak, belum kepikiran."


"About time sampai akhirnya kamu pulang lagi. Sudah berapa tahun? Empat?" Mbak Ara menekuk jari, berusaha mencari jawaban atas pertanyaan yang dibuat sendiri oleh sosok manis itu.


Meski tidak menjawab, dalam hati ia tahu jawabannya. Lima tahun adalah jawaban yang pas. Lima tahun ia berhasil menghindar dari Jakarta. Namun tidak selamanya bisa menghindar bukan.

__ADS_1


Lepas sore hari, setelah bantu ini itu, dan yah selama hampir enam jam disana, dia masih bisa menghindar dari Fatih. Sukses membuatnya sangat sibuk hingga tidak sempat menyapa lama apalagi mengobrol.


Ponselnya berdering saat ia menyusun souvenir ke dalam keranjang. Abi...?!


"Ya?" Ia menjepit ponsel diantara bahu dan telinga.


"Udah mau pulang belum?"


"Kamu udah mau pulang?" Ia balik bertanya.


"Nungguin kamu."


"Ya udah yuk pulang." Ia berdiri setelah menyelesaikan pekerjaannya. Sebenarnya masih banyak yang harus dikerjakan, tapi jika tidak pulang bersama Abi saat ini, otomatis nanti mama Sonia akan menyuruh Fatih untuk mengantarnya pulang, dan itu bukanlah sesuatu yang ia inginkan.


.


.


.


Abi banyak bercerita padanya about his job. Ternyata pria itu memiliki hobi memotret langit, sky wanderer, istilah yang dibuat Abi sendiri.


"Langitnya bagus banget. Ini menjelang senja bukan?"


Abi mengangguk, sambil mengacak rambutnya. Sementara ia tidak menyadari bahwa tangan pria asing telah menyentuh rambutnya, belum ada yang melakukan itu selain papa.


Namun tatapannya masih terpaku pada layar ponsel yang memperlihatkan video langit sore saat pesawat yang dibawa Abi melintasi awan-awan.


"Video ini kuambil sewaktu penerbangan dari Jakarta ke Bali, beberapa menit sebelum memasuki Bali."


"Dilihat dari samping aja bagus banget. Apalagi dari depan begini?"


"Apalagi kalau dilihat langsung. Unlimited frame per second."


Ia mengangkat wajah, dan baru menyadari bahwa jaraknya sudah begitu dekat dengan Abi. Detik berikutnya tangan Abi sudah menyentuh pipinya, membuatnya menahan nafas sesaat.

__ADS_1


"Kamu harus lihat ini." Abi membuka video lain yang tersimpan di galeri ponsel. Video itu memperlihatkan kilat yang menyambar, bahkan menempel di kaca pesawat. " Ini disebut St. Elmo's Fire. Amazing, isn't it?"


"You love your job, right?"


Abi mengangguk. Sejak umur lima tahun, menjadi pilot adalah cita-citaku.


Dan pernyataan Abi sontak mengingatkannya pada Fatih. Pria itu yang selalu menggambar pesawat sedari di bangku TK.


Saat aku benar-benar jadi pilot nanti, kamu mau terbang bersamaku, kita bersama melihat awan dari kokpit? Itu ucapan Fatih waktu kami menginjak SMP, tepatnya kelas dua SMP, dan ia dengan antusias mengangguk.


Dan tentu saja pria itu berhutang janji padanya sampai saat ini, membuatnya harus tersenyum getir sebab janji itu takkan pernah terwujud.


"And than, tell me about your job?" Abi membuyarkan lamunannya.


"Pekerjaanku? I'm a doctor."


"Tidak ada yang menarik, mengurusi pasien setiap hari."Ia mengedikkan bahu.


"Waktu pertama kali lihat, kukira kamu seorang model." Abi terkekeh.


"Model?"


"Hmmm..lebih mirip model ketimbang dokter, sexy nilai 85."


"Dan penilaianku bisa berubah sewaktu-waktu."


"Ishhh..."Ia memutar bola mata jengah mendengar penuturan Abi.


"Nah lho, naik 87 kalau seperti itu hahaa."


"Apaan?!" Ia memukul lengan pria itu kuat.


To be continue


happy reading yaaa

__ADS_1


__ADS_2