The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Butiran Debu


__ADS_3

Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi


Aku tenggelam dalam lautan luka dalam


Aku tersesat dan tak tau arah jalan pulang


....


(Butiran debu-Rumor)


***


Audrey


Apa yang lebih menyedihkan dari penyesalan tak berujung, selain berandai-andai semua tak pernah terjadi. Andai ia tak mengikuti nafsu, andai ia lebih bersabar pada keadaan, andai ia menuruti ibu dan pasrah pada nasib untuk berhenti kuliah, andai ia tidak pergi ke hotel itu.


Namun semua hanya andai- andai, karena jelas waktu tak pernah bisa berbalik dan diulang. Ibarat pepatah dulu, nasi telah menjadi bubur. Ia masih menunduk menahan tangis yang sejati nya sudah pecah sejak tadi. Sekarang, ia benar-benar merasa sendiri, terdampar bersama seorang pria yang baru dikenalnya beberapa minggu belakangan ini.


Pikiran nya berkelana kemana-mana, bagaimana kalau ia ditetapkan menjadi tersangka nanti, ia akan mendekam di penjara, mengubur semua asa dan cita-cita yang telah dirajut sempurna. Usianya masih muda, bagaimana bisa semua berakhir seperti ini, ia kembali menangis dalam.


"All is well, all is well okay." Dokter Galih tersenyum padanya, seolah mengaliri energi tak kasat mata untuk sekedar membuat nya kuat.


Tak lama pintu apartemen terbuka, muncullah seorang pria yang sempat ia lihat tadi malam bersama dokter Galih, membuatnya beringsut ketakutan kala netranya tak sengaja melihat pistol di balik belakang celana pria itu, jujur dia paling takut dengan polisi.


Tubuhnya sudah gemetar, tanpa sadar ia bergelayut di lengan dokter Galih, ketakutan.


"Drey, ini teman saya, IPTU Dimas Prayoga, dia bekerja di Polsek Menteng, dan sekarang sedang menangani kasus kamu." Dokter Galih mencoba membuatnya rileks dengan mengenalkan pria itu padanya.


Walaupun pria itu mencoba tersenyum, namun tidak sedikitpun membuat ketakutannya berkurang, ia makin bergetar hebat.


"Apa saya akan dipenjara? saya tidak membunuhnya, saya tidak tau apa-apa." Ia bergumam sendiri.


"Hai Audrey, saya Dimas, temannya Galih." Polisi tampan itu mendekat yang sontak membuatnya merapat pada dokter Galih.


"Jangan takut, saya menjemput mu cuma ingin konfirmasi kejadian yang sebenarnya, karena cuma kamu yang ada di TKP saat peristiwa terjadi, jadi mohon kerjasama nya."


Ia sempat menoleh pada dokter Galih sebentar, dokter itu mengangguk pelan. Kemudian netra nya beralih pada polisi di depannya, pak polisi tampan itu masih mempertahankan senyum nya.

__ADS_1


Pelan Audrey mengangguk, menyambut tangan pak polisi tampan yang mengulur padanya itu. Keduanya berjalan beriringan keluar dari unit apartemen, ia sempat menoleh sebentar pada dokter Galih. Dokter itu tersenyum lalu mengangguk.


Ia menghela nafas pelan lalu berjalan menuju lift dengan tangan terus digenggam oleh polisi yang bernama Dimas itu. Mereka sudah memasuki lift, keringat nya terus mengalir deras hingga membuat telapak tangan nya basah.


"Kamu berkeringat?" Dimas melepas genggaman tangannya lalu mengambil sapu tangan dari kantong celana dan menyerahkan nya ke Audrey.


"Siapa namamu tadi?"


"Audrey pak." jawabnya masih menunduk.


"Kenal Galih dari mana? kalian pacaran?"


"Tidak pak, dokter Galih yang nolong saya waktu saya berusaha lari dari hotel, beliau dokter di RS tempat saya magang."


"Ohh, kamu mahasiswi?"


"Iya pak."


"Perawat atau bidan?"


"Perawat pak."


"Tenang, tidak apa-apa." Dimas merangkul bahunya dan menggiringnya masuk ke dalam mobil.


Dengan posisi duduk ditengah, diapit oleh dua pria berpistol membuatnya hampir tidak bisa bernafas, ia ingin menangis, ya Tuhan, ia benar-benar sudah tenggelam, sudah menjadi butiran debu yang tak berharga sama sekali.


.


.


.


Bayu


Ia sudah sampai dirumahnya sejak tadi. Beberapa kerabat juga telah berkumpul disana. Berita kematian papa yang fenomenal sungguh telah menampar muka keluarga besar mereka, tentu saja karena papa adalah seorang wakil rakyat yang seharusnya memberi contoh yang baik pada masyarakat.


Berita masih simpang-siur, beberapa mengatakan papa dibunuh seorang pelacur, ada yang bilang overdosis obat kuat, ada juga yang berasumsi papa terkena serangan jantung, namun dari sekian banyak cerita, satu hal yang dapat ditangkap oleh nya, bahwa papa mati dalam keadaan yang su'ul khatimah (mati dalam keadaan buruk).

__ADS_1


Walau jenazah papa masih berada di ruang forensik Rumah Sakit Bhayangkara guna keperluan autopsi , keluarga tetap mengadakan yasinan dirumah dengan dihadiri kerabat dan tetangga sekitar rumah.


Sudah pukul 10 malam, beberapa kerabat sudah pulang, Bayu memilih beristirahat dikamarnya, meraih ponsel. Dilihatnya belum ada balasan dari Audrey, sang kekasih. Nomor nya juga tidak aktif, membuat pikirannya bertambah.


Audrey kemana kamu, honey...


Ia ingin menumpahkan segala-galanya pada kekasih hati, rasa malu akibat ulah sang papa, rasa sedih, rasa marah, semuanya, namun Audrey bak hilang ditelan bumi, beberapa teman sudah ia hubungi tapi tak satupun yang tau keberadaan gadis itu.


Baru saja ingin memejamkan mata, pintu kamar terbuka. Mama muncul dari balik pintu.


"Yu, belum tidur?"


"Baru mau tidur, ada apa ma?"


"Mama baru dapat info dari om Rudi, pelacur yang bersama papamu malam itu sudah ditangkap."


"Baguslah." Ucapnya malas.


"Temani mama ke Polsek Menteng besok, mama mau lihat rupa wanita iblis itu seperti apa." Mama berapi-api, yang membuat ia terheran, seharusnya ia marah pada suaminya yang jelas-jelas menodai cinta suci pernikahan mereka, tapi tetap mama selalu membela papa.


"Untuk apa ma? yang ada mama nambah sakit nanti."


"Tidak, mama harus lihat."


"Biarkan proses hukum kita serahkan pada yang berwajib ma, lagi pula belum tentu papa dibunuh, hasil forensiknya belum keluar."


"Temani mama besok, titik!" membuatnya terperangah sebab mama terlihat begitu arogan.


***To be continue...


like like like


komen komen komen


Eh sekalian othor mau promo nih, kali aja ada yang mau beli, novel othor Ketika Senja Berlalu sudah tersedia dalam bentuk buku fisik


Harga 50.000,-

__ADS_1


Hubungi 082269847202 untuk info pemesanan yah***



__ADS_2