
Aurora
Ia memilih bersandar sambil memejamkan mata menikmati penerbangan menuju Jakarta. Tapi pilihan memejamkan mata ternyata bukan pilihan yang tepat.
Kalau Fatih tetap kekeuh di flight domestik, gak bisa jauh dari Kikan katanya.
Shhitt... Suara pria bernama Abi itu terngiang-ngiang ditelinganya. Membuatnya mual bukan kepalang. Dia yang masih saja berharap pada sosok Fatih, sementara pria itu bahkan sudah memiliki kekasih. Fix, dia hanya dianggap sebagai seorang sepupu, saudara perempuan atau apalah you name it. Yang jelas dimata Fatih, dia bukan wanita yang harus dicintai.
"Hai..Bagaimana penerbangannya?" Tiba-tiba saja Abi, entah datang darimana telah berdiri disampingnya.
"Not bad... Sebenarnya aku tidak terlalu suka menggantungkan nasibku pada seseorang, tapi saat dipesawat aku harus menggantungkan nasib pada Pilot." Kedikkan bahunya malas sambil melirik Abi.
Abi terkekeh pelan, "Suatu saat pandanganmu terhadap sebuah penerbangan akan berubah, by the way, dijemput?"
"Iya..Tuh.." Ia melambaikan tangan pada mamanya yang berjalan tergesa kearahnya.
"Oke...sampai jumpa lagi."
Dan ia mengangguk pelan, namun belum sempat melangkah, Abi menghentikannya.
"Bisa minta no ponselmu?"
"Untuk?" Kernyitkan dahinya lugu kearah Abi, pria itu mengulum senyum.
"Come on, aku tida ada teman selagi di Jakarta, temanku cuma Fatih, dan mungkin dia akan sibuk dengan Kikan."
Ia memanas mendengar nama perempuan yang bahkan belum pernah ia lihat itu, dengan cepat ia meraih ponsel Abi, mengetikkan beberapa angka disana.
"Kamu bisa menghubungiku kapanpun selagi di Jakarta." Ucapnya sebelum berbalik dan berjalan menyambut sambutan sang mama.
"Siapa?" Mama yang sempat melihat interaksinya bersama Abi sontak bertanya kepo sambil melempar senyum pada pria itu di kejauhan.
"Temannya Fatih, satu batch sama Fatih waktu di sekolah penerbangan dulu."
"Ohhh, kirain mama gebetannya kakak." Mama tertawa sambil merangkul pundaknya membuatnya harus memutar bola mata malas.
"Yuk, papa sama Abel udah nungguin."
Dan benar saja, pelukan demi pelukan datang menghantamnya bertubi-tubi, dari Abrela alias Abel sang adik perempuan satu-satunya yang baru saja mendapatkan menstruasi pertama bulan kemarin dan papaaaa, ya Tuhan papa tambah guanteeeng aja diusianya yang kelebihan matang itu hahaaaa.
Mereka menyambutnya dengan pesta kecil-kecilan di rumah. Mama memasak banyak makanan yang yah dengan rasa pas-pasan pastinya, you know that. Mama tak pernah benar jika itu tentang memasak. Tapi anehnya papa selalu memakannya dengan suka cita, tak pernah komentar tentang hasil masakan mama yang super payah itu.
Pernah dengar istilah 'Kalau sudah cinta, tai kucing jadi rasa coklat?' nah kira-kira seperti itulah analoginya.
"Mau tambah kak?" Mama menawarkan soto daging padanya, yang menurutnya lebih mirip daging direbus terus ditarok bumbu masako ketimbang Soto.
"Tidak, cukup..." Ia tersenyum sumringah demi menghargai semangat mama dalam menyambut kedatangannya.
"Mulai besok langsung ke rumah mama Sonia kak, dari kemaren dia nanyain kakak." Suara mama ketika mereka telah berkumpul diruang keluarga.
__ADS_1
"Hmmm..."
"Gak usah balik lagi ke Jepang kak, bantuin papa di klinik aja ya." Acak papa pada rambutnya, hingga yah jadi berantakan. Papa selalu begitu, dia sudah dewasa muda helooow, bukan gadis papa yang ingusan lagi. Tapi tetap saja papa memperlakukannya seperti gadis kecil.
"Mau lanjut spesialis dulu pa."
"Ambil SpOg aja, tertarik gak?"
"Maunya spesialis bedah saraf." Tolehnya pada papa.
"Nikah dulu kak, nanti keenakan sekolah, umur dah tua." Mama ikut nimbrung.
"Banyak lho yang kayak gitu, laki kalau udah lihat perempuannya dah ketinggian sering takut ngelamar."
"Mama dulu nikah umur berapa emang?"
Sontak mama cekikikan, menutup mulut dengan kedua tangan sambil melirik kearah papa, "Mama belum tamat kuliah dah nikah, kalau gak salah umur 21 apa 22 gitu."
"Wooowww hahaaaa... kereen, aku juga mau kalau ada yang ngelamar."
"Belum ada calon kak? atau mau papa carikan, banyak tuh anak intershif yang lagi magang di RS, cakep-cakep lagi." Papa mengerling ke arahnya.
"Gak ah, mau cari sendiri aja. Gak mau yang seprofesi, gak ada tantangan."
"Selagi baik, sayang sama kakak. Mama dan papa pasti setuju." Mama tersenyum penuh arti padanya.
.
.
.
Tepat saat ia berguling-guling nyaman, ponselnya berdering. Panggilan nomor baru tak dikenal, ia abaikan.
Satu kali, dua kali, tiga, empat, tepat panggilan kelima ia angkat...
"Halloo.."
"Kok lama?" Suara Abi terdengar diujung telpon.
"Ohh nomor kamu, aku kira siapa."
"Tadi bilangnya bisa dihubungi kapanpun kan."
"Sudah malam, kira-kira doong kalau mau telpon." Dengusnya malas.
"Besok jalan yuk."
"Aku mau kerumah Fatih, bantu-bantu disana."
__ADS_1
"Ya udah, aku ikut, abis itu kita jalan, mau?"
Ia diam, pergi dengan orang asing yang baru dikenal sungguh bukan dia sama sekali, tapi...
"Mau ya? mau doong."
"Lihat besok deh."Hembuskannya nafas pelan sambil telentang menatap langit-langit kamar.
"Siip... Good night, nice dream ya."
.
.
.
Fatih
Suasana mulai ramai dirumah, ia yang sudah dua hari mengambil cuti ikut membantu papa membereskan gudang belakang. Berhubung rumah mereka luas dengan taman belakang serta kolam renang yang didesain unik. Mbak Ara ingin resepsi tema Gardening di taman belakang rumah.
Peluhnya mengalir, dengan gerakan gesit ia meraih botol minum diatas meja. Sampai terdengar sayup-sayup suara mbak Ara berteriak histeris.
"Yeaayyy Maaaa..... ada Roraaaaa...."
Ia hampir tersedak minumnya sendiri, alhasil air masuk kedalam saluran hidung dan itu sangat menyakitkan.
Sejak lulus sekolah, ia bahkan tidak pernah melihat gadis itu lagi, tepatnya setelah penembakan yang dilakukan Rora di belakang panggung perpisahan sekolah waktu itu.
Gadis itu dengan kepercayaan tingkat dewa, menarik tangannya untuk ikut ke belakang panggung.
Dengan wajah cantiknya, hiasan make up ala-ala girlband korea, membuatnya mirip Lisa blackpink kala itu, tersenyum antusias.
"Fatih, aku suka kamu. Kita pacaran yuk."
Whaat? Ia ingin tertawa. Rora ada-ada saja. Ia sudah menganggap Rora seperti saudara sendiri, ia tidak melihat Rora sebagai wanita, tapi sebagai saudara perempuannya yang manis dan cantik luar biasa. Sayangnya pada Rora seperti sayangnya pada mbak Ara.
Dari kecil mereka selalu bersama, main, belajar bahkan pernah tidur di kasur yang sama. Ia sudah menganggap Rora seperti saudara sendiri, bahkan lebih dari itu.
Ungkapan cinta yang dilontarkan gadis itu tentu saja membuatnya syok, pelan dan hati-hati ia menggenggam tangan Rora..
Maafkan aku Rora... tidak seharusnya jadi begini, kamu udah aku anggap seperti saudara sendiri, sama seperti mbak Ara. Begitulah kamu dimataku.
Dan sejak peristiwa itu, Rora selalu menghindar darinya. Ia sangat tau, gadis itu memilih kuliah di Malaysia agar tidak harus bertemu dengannya, memilih menetap di Jepang saat ini. Dan sekarang she's come back... Ada sisi hatinya yang lain berteriak gembira, tak sabar melihat rupa Rora seperti apa.
Katakanlah bahwa ia rindu ingin bertemu, yeah dengan langkah cepat ia berjalan kearah rumah dan berhenti saat menemukan sosok dangerous boy disisi gadis cantik bernama Aurora.
Abi...?!
To be Continue...
__ADS_1
Happy reading yaaaaa...
Jaga kesehatan selalu readers tersayang