
Satu Bulan Kemudian...
Aurora
Ia mematut dirinya di cermin. Belum tampak perubahan berarti di tubuhnya. Beruntung ia memiliki tubuh kutilang ( Kurus, tinggi, langsing) hingga kandungan yang memasuki usia ke tiga bulan pun masih tertutupi.
Hari ini kali ke empat papa menelpon. Membuatnya harus memutar otak mencari alasan agar tidak pulang. Yah, seperti rencana awal sebelum Abi tau kehamilan nya dulu. Dia akan hidup sendiri. Setidaknya hingga bayi ini lahir, butuh waktu enam bulan lebih.
Berbekal tabungannya ia akan pergi dari Sapporo, menyingkir dari keluarga dan teman-teman untuk sementara waktu. Tapi papa sepertinya tidak bisa bernegosiasi lagi. Papa sudah tau ia telah mengakhiri kontrak kerja di Rumah Sakit Hokkaido.
"Papa tidak mau tau, pokoknya kakak harus pulang minggu ini." Gertak papa untuk terakhir kalinya.
Ia menelan Saliva, bagaimana. Mama pun ikut mendramatisir keadaan dengan menangis tersedu-sedu di telpon, "Setidaknya kakak pulang sebentar, Abel ulang tahun ke empat belas minggu besok, kita kumpul dulu. Setelah itu terserah kakak." Suara mama serak.
Ia menghembuskan nafas pelan. Yah, dia bisa pulang sebentar sebelum menghilangkan diri untuk setengah tahun kedepan. Akan ada banyak alasan nanti yang bisa dipikirkan agar tidak berjumpa keluarga selama proses kehamilan dan kelahiran anaknya.
"Baiklah ma, Rora pulang lusa..."
"Nah, ini baru anak mama, makasih kak.." Mama tak kuasa membendung bahagia. "Mama buatkan sup tulang iga spesial untuk kakak."
Sup tulang iga???...
Air mata mencuri lolos di pipinya. Abi... sup itu mengingatkan nya pada sosok Abi, pada ayah si bayi yang ada dalam rahimnya.
***
Tidak banyak barang yang ia bawa. Meski beresiko melakukan perjalanan jauh dengan pesawat saat hamil di trimester pertama, namun ia meyakinkan diri bahwa ia kuat, ia bisa melalui ini. Semua akan baik-baik saja, keluarga nya takkan tahu kalau ia tengah mengandung saat ini.
Outfit yang ia kenakan pun sangat membantu menyamarkan kehamilannya. blouse longgar dipadu celana denim. Semoga semua baik-baik saja.
Seperti biasa mama, papa dan Abel telah menyambutnya dengan sukacita di bandara. Dan ia pun sekuat tenaga berusaha tampil senormal dan sebaik mungkin dihadapan mereka.
.
.
.
Audrey
Mungkin ia orang paling bahagia saat kembali memeluk putri sulungnya itu. Tapi entah hanya firasat atau apa, Rora tampak berbeda.
"Muka kakak kok pucat kak?" Ucapnya saat melepaskan pelukan.
__ADS_1
"Kecapean aja ma."
Sepanjang perjalanan menuju rumah pun Rora tidak begitu banyak bicara, meski beberapa kali si Abel jelas mengajaknya bercanda.
Sesampai di rumah pun, setelah ngobrol dan makan, Rora langsung pamit ke kamar. Dan ia memaklumi, mungkin Rora masih jetlang dari penerbangan panjang. Dan ia membiarkan sang buah hati istirahat tanpa gangguan.
Paginya, ia dan Abel sibuk mempersiapkan pesta ulang tahun Abel, hanya pesta kecil-kecilan. Tentu saja uni Sonia yang akan memasak menu nya.
"Udah siap bahannya Drey." Uni muncul dari arah ruang tamu, disusul Fatih dibelakang.
"Udah ni, itu..."
"Lho, Fatih gak kerja?" Ucapnya beralih pada Fatih.
"Libur ma, abis flight dari Kuala Lumpur." Fatih menyalaminya lalu mengambil posisi duduk di kursi makan.
"Ada Rora diatas, mungkin masih jetlang dia."
Dilihatnya Fatih langsung berdiri dan berjalan menuju kamar Rora.
.
.
.
Aurora
Tubuhnya benar-benar tidak bisa diajak kompromi saat ini. Mual dengan kepala pening berputar-putar membuatnya tidak ingin beranjak dari tempat tidur. Sampai suara pintu kamar terbuka, membuatnya langsung memasang mode awas.
"Fatih?"
"Hei, kok gak ngasih kabar mau pulang?" Fatih berjalan masuk ke kamar dan mendaratkan bokong di sisi tempat tidur.
"Mendadak, papa maksa nyuruh pulang." Ia bersandar pada headboard tempat tidur.
"Kamu sakit? pucat banget."
"Kecapean aja, besok juga baikan." Senyumnya sekilas menyamarkan kebohongan di hadapan Fatih, dan pria itu mengangguk pelan.
Namun ternyata, keesokan harinya saat pesta berlangsung, bukannya membaik tubuhnya justru semakin menjadi. Please...ia mencoba menguat-nguatkan diri. Memakai makeup untuk menyamarkan pucat di wajah dan berkali-kali mengusap keringat dingin di dahi.
Sampai di penghujung acara, ia sudah tak kuat lagi dan akhirnya ambruk. Semua heboh melihatnya pingsan di dipangkal tangga tepat saat ia ingin berjalan menuju kamar.
__ADS_1
Papa langsung menggendong dan membaringkannya di kamar tamu, ruangan yang paling dekat dan berada di lantai satu.
.
.
.
Galih
Ia kaget bukan main, saat mendapati Rora pingsan. Sejak awal kedatangan, anaknya memang sedikit berbeda. Tapi ia memaklumi mungkin Rora capek, butuh istirahat. Hanya itu, tidak ada dugaan lain.
Namun saat ia memeriksa sang buah hati. Dugaannya malah mengarah ke sesuatu yang mustahil. Tidak mungkin, ia berusaha membuang jauh-jauh pikiran tersebut. Tapi akhirnya ia tak menampik, walau dengan tangan bergetar, ia tetap mengambil sampel darah Rora, mengecek kemungkinan terburuk yang ia pikirkan, apakah ada kandungan HCG dalam tubuh anaknya.
"Bawa ini ke labor Rumah Sakit papa, bilang ke petugas hasilnya ditunggu, cyto." Perintahnya ke Fatih dan diikuti anggukan cepat Fatih.
Rora sudah sadar dengan infus terpasang di lengan. Anaknya masih terlihat pucat dan kentara sekali takut menatap matanya. Ia tidak bisa menerka-nerka sampai hasil laboratorium keluar sambil terus berdoa semoga hasilnya tidak seperti yang ia bayangkan.
.
.
.
Fatih
Dengan setengah berlari ia membawa sampel darah dan pengantar dari papa Galih menuju Labor. Sesuai perintah papa Galih, ia menunggu hasilnya dengan perasaan was-was walau tidak tau pemeriksaan apa yang dilakukan itu.
Tidak sampai dua puluh menit, hasilnya keluar. Ia menerima selembar kertas yang dimasukkan kedalam amplop oleh petugas. Namun sebelum amplop benar-benar direkatkan, ia bertanya pada petugas tersebut.
"Maaf mbak, kalau boleh tau ini pemeriksaan apa?"
"Tes HCG mas, hasilnya positif."
"Jadi maksudnya?"
"Pasien hamil." Jawab petugas yang membuat seluruh persendiannya lemas seketika. Bergetar tangannya meraih amplop tersebut sambil berbalik menjauhi laboratorium.
"Rora... bagaimana... bagaimana bisa, ya Tuhan..?!"
To be Continue
Happy reading
__ADS_1
*Double up mumpung sempat nulis**😍😍😍*