
Dimas
"Ma-afkan Fatih pa, Rora sedang mengandung anak Fatih."
Hening...
Butuh waktu lebih dari bilangan detik untuk mencerna ucapan anak laki-laki nya itu. Sementara Fatih tetap betah berlutut sembari menunduk dalam.
Ia masih belum bisa mengerti sampai Galih meraih amplop coklat yang dipegang Fatih. Membukanya dengan tangan bergetar, sampai disini ia terus berusaha mencerna keadaan.
"Rora hamil." Galih bergumam berat. Dan saat itulah ia paham ucapan Fatih barusan.
Matanya nyalang menatap anak laki-laki nya itu.
"Jelaskan ke papa!" Ia meraih tubuh Fatih hingga berdiri sejajar dengannya.
"Maaf pa..."
Permintaan maaf Fatih sudah cukup mewakili apa yang sesungguhnya telah terjadi.
BUGH..
"Papa besarin kamu bukan untuk jadi pecundang!"
Fatih terhuyung ke belakang sebab pukulan mematikan yang ia layangkan.
"Rora sudah seperti saudaramu sendiri, seharusnya kamu jaga, bukan seperti ini!"
BUGH..
BUGHH...
BUGH...
Fatih hanya diam menerima hantaman bertubi-tubi yang tak kenal ampun itu, tidak mengelak sama sekali. Wajah Fatih sudah babak belur hanya dengan tiga kali pukulan dengan hidung yang mengeluarkan darah segar, namun anaknya tak bergeming.
Ia tak pernah sekalipun memakai cara kekerasan dalam mendidik anak-anak, ini kali pertama Fatih mendapat pukulan darinya. Anak itu tetap diam walau bibirnya sudah pecah entah sejak kapan.
Ia sama sekali tidak menyangka Fatih bisa berbuat seperti itu. Sedari kecil Fatih ia didik dengan disiplin serta tanggungjawab yang tinggi ditambah bekal ilmu agama dari Sonia. Tak pernah Fatih mengecewakan nya sekalipun.
Ia mengerti gairah anak muda terkadang sering menggebu, menyukai serta menjalin hubungan dengan lawan jenis di usia Fatih yang sudah menginjak dewasa adalah hal lumrah, tapi ia tidak menyangka pergaulannya akan sejauh itu sampai menghamili seorang perempuan, terlebih itu adalah Aurora.
"Papa benar- benar kecewa sama kamu!" Geramnya murka dengan rahang mengeras sempurna.
Tepat saat ia akan melakukan pukulan terakhir, Sonia dan Audrey berlari panik ke teras sebab mendengar keributan yang ia buat dari luar.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Fatih, kenapa?" Sonia langsung menghambur menghampiri anak mereka.
"Fatih!" Audrey menjerit, ikut membantu Fatih berdiri dan mempobong anaknya itu kedalam rumah.
Sementara Galih masih terdiam tanpa ekspresi, ia sungguh tak enak hati menghadapi fakta bahwa anak gadis kesayangan Galih sudah dirusak oleh Fatih, terlepas dari keduanya saling menyukai atau tidak.
"Kita akan menikahkan mereka segera." Ucapan itu mencuri keluar dari mulut Galih.
"Kita kecolongan, aku tidak tahu sama sekali bahwa mereka punya hubungan. Kita telah gagal mendidik mereka." Toleh Galih padanya dengan wajah mendung.
"Fatih akan bertanggungjawab, dia akan menikahi Rora secepatnya."
.
.
.
Aurora
Tubuhnya menggigil ketakutan, meremas kuat pinggiran seprai tempat tidur dengan wajah pucat, sepucat mayat dan keringat mengalir deras dari pelipis. Meski berkali-kali Abel mencoba mengaliri perasaan hangat padanya lewat genggaman tangan yang erat, namun sama sekali tak membantu.
Ia hamil, dan papa sudah mencurigainya dengan mengambil sampel darahnya tadi saat ia pingsan, lemah tak berdaya. Sekarang, keluarganya sudah tahu, ia harus bagaimana...
Fatih...
Hanya satu kalimat yang dapat ia curi dengar dari dalam kamar sambil menangis.
"Fatih akan menikahi Rora pa."
Itu suara Fatih, terdengar tegas, membuat nafasnya tercekat. Kenapa Fatih?
Abel yang tadinya hanya menggenggam tangannya, kini telah beralih memeluknya erat tanpa suara. Sekarang, ia hanya bisa pasrah. Menyesal sudah jauh hari ia lakukan, bahkan ia sudah tidak memilki muka lagi dihadapan keluarga nya.
Papa jelas kecewa padanya, mama... mama pasti akan sangat sedih. Tapi mengapa Fatih juga ikut terlibat disini, Fatih tidak bersalah. Tidak bisa, cukup ia saja yang menanggungnya. Fatih tidak boleh ikut-ikutan terbawa.
Tepat saat ia mengurai pelukan Abel dan berniat keluar. Mama dan mama Sonia masuk ke dalam kamar. Ia tahu mama sangat kecewa padanya, tapi alih-alih memarahi atau mencacinya, mama justru memeluknya erat.
"Maafkan Rora ma..." Cicitnya serak.
Dan mama hanya mengangguk pelan dari celah punggungnya, tanpa suara. Mungkin mama begitu marah padanya sampai tidak bisa menemukan kata-kata lagi untuk diucapkan.
"Maafkan Fatih, sayang." Mama Sonia ikut merangkulnya dari belakang sembari menangis.
"Fatih..?" Sungguh ia ingin menyuarakan protes, tapi bibirnya terlalu kelu untuk bertanya saat ini.
__ADS_1
Cukup lama, tak terdengar lagi suara keributan dari luar. Mama keluar, ada yang mereka bicarakan tanpa sepengetahuannya. Namun mama Sonia tetap menemaninya di dalam kamar.
"Sudah berapa bulan?" Tatap sendu wanita itu mengarah pada perutnya.
Sontak ia menoleh pada perutnya sendiri, belum tampak menonjol. "Masuk tiga bulan ma."
Dapat ia lihat, mama Sonia menghela nafas pelan, mengelus punggung tangannya dan menyelipkan beberapa anak rambut ke belakang telinganya.
"Jaga kesehatan ya sayang, ibu hamil tidak boleh banyak pikiran." Senyum mama Sonia yang tulus padanya, entah mengapa langsung membuat hatinya menghangat seketika.
"Rora akan jadi ibu yang hebat, apa bayinya merepotkan?"
Ia menggeleng pelan
"Mama dulu waktu hamil Fatih juga tidak repot. Anak itu sama sekali tidak merepotkan mama. Mungkin bayinya juga mirip sama Fatih."
Dan ucapan terakhir mama Sonia seolah menyambarnya bak petir yang datang tanpa kilat. Nafasnya tercekat, ia sudah hampir menangis lagi saat sosok Fatih muncul dari balik pintu.
"Kalian bisa bicara berdua, mama tinggal keluar." Mama Sonia beranjak dari sana meninggalkan Fatih yang masih mematung dengan wajah yang sangat berantakan.
Fatih menghampirinya dengan ikut duduk di sisi ranjang sesaat setelah mama Sonia menghilang.
Pria itu mencoba tersenyum, meraih tangannya yang bergetar tergeletak lemas di sisi tubuh. Ia benar-benar sudah tidak punya muka lagi dihadapan Fatih, hidupnya hancur.
"Kenapa?"
"Kenapa kamu lakukan ini? tidak perlu Fatih...ini kesalahanku, biar aku sendiri yang akan menanggungnya.... Lihatlah, kamu mengecewakan orang tuamu!"
"Aku akan katakan, bukan kamu orangnya."
Tepat saat ia menyibak selimut, Fatih menarik tubuhnya dan memasukkannya ke dalam pelukan." Kamu mau bilang apa ke mereka? mau bilang kalau kamu mabuk terus tidur dengan laki-laki yang jasadnya saja sudah terkubur di tanah saat ini?"
"Look at me Rora, semua sudah terjadi. Biarkan seperti ini.Kita akan menikah besok." Fatih memeluknya erat membuatnya menangis lagi dalam pelukan pria itu.
Fatih seharusnya bahagia bersama Kikan atau siapapun wanita pilihan laki-laki itu , bukan malah terjebak pernikahan konyol dengannya. Fatih tidak seharusnya ikut menanggung kesalahan yang ia buat. Fatih tidak perlu berbuat sejauh itu.
"Wajahmu...?" Ia menelusuri wajah tampan Fatih yang sudah berantakan, dengan sudut bibir yang pecah, memar di sepanjang tulang pipi, serta bekas darah di bawah hidung.
"Maafkan aku..." Lirihnya pelan, "Pasti sakit, apa papaku juga memukul mu?"
"Maunya begitu, tapi beliau bilang sudah tidak ada tempat lagi." Kekeh Fatih yang masih sempat-sempatnya tertawa.
To be Continue
Happy reading yaaa...
__ADS_1