The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Butterfly...


__ADS_3

Sonia


"Kamu siapa?"


Glekk...


Nafasnya tercekat, ia seperti baru saja disengat listrik bertegangan tinggi mendengar ucapan pertama yang keluar dari bibir kak Dimas.


Bagaimana bisa, tidak mungkin... Tadi jelas-jelas Audrey bilang kak Dimas sehat, tidak ada komplikasi yang begitu berarti. Bahkan pria ini sudah bisa ngobrol dan bercanda dengan kak Galih.


Ia menatap heran, berkali-kali menelan saliva demi menyamarkan kegugupan, tangannya berkeringat hebat, remasnya kuat-kuat pada ujung jilbabnya yang menjuntai.


"Kamu siapa?" ulang kak Dimas.


Dia benar-benar tidak mengingat ku?..


"Aku, a-ku Sonia. Kakak tidak ingat?" Ucapnya pelan sembari menggigit bibir bawah kuat.


Laki-laki itu menggeleng, yang membuatnya ingin menangis, matanya sudah berkaca, bagaimana mungkin ini terjadi. Kak Dimas lupa ingatan? laki-laki itu amnesia?


Dipandangnya wajah tampan kak Dimas yang sedikit pucat.


"Kakak benar-benar tidak ingat? ia memberanikan diri untuk memindai wajah itu, berusaha mencari kebohongan disana, ahh mana mungkin berbohong, laki-laki ini bahkan baru sadar bukan.


"Apa kita berteman sebelumnya?"


"Hah.."


"Kita berteman atau malah punya hubungan khusus?" Lagi-lagi ia harus menggigit bibir bawahnya kuat ditanyai seperti itu.


"Aku baru tau kalau punya teman seorang mahasiswi. Kamu masih kuliah kan?" Kak Dimas menatap seragam kuliahnya serta tas plastik berisi tumpukan kertas skripsi yang tergolek di bawah kursi.


Ia tidak menjawab, hanya menunduk gugup dengan tangan sedikit bergetar.


"Kesini sendirian?"


"Hah,, i- ya, sendiri." Terpaksa ia mendongak sebentar, sungguh ia berada di situasi yang sangat tidak nyaman, menyesal juga nekad langsung kesini tadi tanpa mengajak orang lain.


"Jangan-jangan dugaanku benar, kita punya hubungan khusus. Aku yang menyukaimu atau kamu yang menyukaiku? atau sama-sama suka?"


Degg...


Ia bertambah gugup, terus menunduk dan memandang nanar kebawah, tak berani melihat pria itu sama sekali.


"Ma-af, sebaiknya saya tunggu diluar saja." Ucapnya pelan dan mulai berdiri menggeser kursi.


.


.


.


Dimas


Sumpah demi semua koleksi kolor Avengers milik Galih yang tersimpan di apartemen, ia ingin terbahak. Ternyata masih ada gadis semenggemaskan seperti Sonia dimuka bumi ini.


"Apa kita berteman sebelumnya?"


"Hah.."


"Kita berteman atau malah punya hubungan khusus?" Dapat ia lihat gadis itu gugup setengah mati sampai harus menggigit bibir bawah kuat, whaat? menggigit bibir, ouuch shhitt, cepat-cepat ia mengalihkan pandangan dari hal yang begitu menggoda itu.


"Ma-af, sebaiknya saya tunggu diluar saja." Gadis itu bergetar, Sonia berdiri dan ingin keluar, bahkan sudah berbalik, meraih tas plastik yang selalu dijinjingnya kemana-mana itu.


"Tunggu Sonia..."


Sonia terhenti, kemudian berbalik mendekatinya.


"Kakak bilang apa barusan?"


"So- ni-a."

__ADS_1


"Apa kakak sedang mempermainkan ku?" gadis itu menatapnya lekat, tatapan yang tak pernah dilayangkan Sonia sebelum-sebelumnya.


"Kakak... kakak menyebut namaku barusan?"


"Kakak tidak amnesia? kakak hanya pura-pura?" Mata gadis itu berembun, kemudian berkaca-kaca, dalam hitungan ketiga pasti air mata itu jatuh.


Tiga... Dua... Satu...


"Huaaa... hiks... hiksss.. Kakak keterlaluan!"


"Sorry sorry, aku hanya bercanda." Ia memelas melihat wajah cantik didepannya berlinangan air mata.


"Ini tidak lucu sama sekali!!!"


"Kakak tau, aku sudah seperti orang gila menunggu saat- saat ini, ingin cepat-cepat melihat mata kakak terbuka, aku bahkan menangis setiap hari, takut kakak tertidur dan tidak bangun-bangun lagi, aku...aku." Seperti tersadar sebab telah mengungkapkan banyak perasaannya, gadis itu terdiam, lebih tepatnya tercekat sendiri.


"Maaf..." Ia mencoba menggapai Sonia lewat isyarat tangan. Gadis itu tak bergeming.


"Kakak minta maaf, oke, please..." Ia kembali memelas mengulurkan tangan. Dan sukses, Sonia mendekat.


"Jangan seperti ini lagi." lirih Sonia menyusut air matanya dengan punggung tangan.


"Kakak janji tidak lagi, maaf ya..." Senyum nya pada Sonia yang masih menetralisir emosi, wajah gadis itu bahkan memerah dengan bibir yang bergetar.


"Jadi ...?"


"Jadi apa?"


"Apa ini berarti kamu memilih ku?" Ia tak kuat menahan debaran jantung yang bergetar menggebu, apalagi kalau bukan definisi dari bahagia intensitas tinggi.


Sonia diam, penyakit malunya kambuh lagi, dapat ia lihat gadis itu kembali gugup dan tertunduk memandang ujung sepatunya.


Satu


Dua


Tiga


Lima menit...


"Diam artinya iya."


"Hmmm." Ia mengulum senyum, ingin rasanya cepat-cepat bisa berdiri agar ia dapat menggendong gadis itu ke KUA, minta cap halal secepatnya, yeah Dimas you are...


Sonia sempat menoleh sebentar, mata keduanya bertemu membentuk percikan api kecil, hingga sesuatu seperti arus listrik pendek mengalir dari jantung keseluruh tubuh...


Ketika waktu mendatangkan cinta


Aku putuskan memilih dirimu


Setitik rasa itu menetes


Dan semakin parah


Bisa kurasa getar jantungmu


Mencintaiku apa lagi aku


Jadikanlah diriku


Pilihan terakhir hatimu


Butterfly, terbanglah tinggi


Setinggi anganku untuk meraihmu


Memeluk batinmu yang sama kacau


Karena merindu


Butterfly fly away so high

__ADS_1


As high as hopes I pray


To come and reach for you


Rescuing your soul


That precious messed up


False me and you


Jalan ini jauh


Namun kita tempuh


Bagai bumi ini


Hanya milik berdua


Biar 'ku berlebihan


Mendekatimu


Namun kutunggu…


(Butterfly- Melly Goeslaw feat Andhika)


.


.


.


Suasana canggung pun terasa, sesekali ia melirik Sonia yang duduk disampingnya, gadis itu gelisah, mungkin tak nyaman berada berdua saja dengannya dalam satu ruangan yang sama.


"Kalau mau pulang tidak apa-apa." Ia bersuara.


Sonia menggeleng cepat, " Yang tadi disini.."


"Dia kakak tertuaku, bang Dean."


"Aku tunggu dia balik kesini dulu, baru pulang." Gadis itu sibuk memperhatikan apa-apa yang ada diruangan itu.


"Sonia..."


"Ya."


"Terimakasih... thanks for accepting me."


"Terimakasih juga." Ucap gadis itu lembut.


"for?"


"Karena telah mampu bertahan, karena hidup kembali, dan tidak Am-ne-sia." Sonia sengaja menekankan pada kata terakhir dan sukses membuatnya tertawa garing.


"Sonia.."


"Hmm." Sonia menoleh.


"Boleh kakak tanya sesuatu?"


"Ya.."


"Kenapa memilih ku?" Ia bertanya pelan, dan lagi membuat pipi gadis itu bersemu merah.


"Waktu kakak datang kerumah dan meminta pada amak, aku tau penilaian ku telah berubah."


Ia mengangguk pelan, "Kakak tidak sempurna, tapi jika bersama mu mungkin kita bisa menyempurnakan segala yang tak sempurna menjadi sempurna."


To be Continue...


Happy reading yaaa

__ADS_1


__ADS_2