
Dimas
"SONIAAAAA!!! Sayang!!"
Ia tertegun, terpaku, tercengang entah apalagi ekspresi yang harus digambarkan kala melihat sosok itu, sosok gadis yang dicintainya meringkuk di lantai, seperti ketakutan.
Wajah cantik itu pucat, dengan mata sembab serta bekas air mata yang telah mengering nampak jelas di sana, masih mengenakan pakaian wisudanya, sangat berantakan.
"Maafkan kakak, maafkan kakak sayang." Ia meraih tubuh Sonia dan memasukkannya erat kedalam dekapan kedua lengan kokohnya.
Sonia menggenggam sesuatu, tatapan gadis itu kosong, diraihnya sebuah botol kecil dalam genggaman sang istri, obat segolongan anti depresan. Nafasnya tercekat, sebegitu tertekannya gadis ini hingga harus mengonsumsi obat-obat seperti ini.
"Son, So-nia sayang, kamu tidak apa-apa?"
Please, jangan seperti ini...
Ia menggendong tubuh Sonia, menaikkan nya pelan keatas ranjang. Ia benar-benar tertampar keras melihat kondisi Sonia, hatinya teriris, jantungnya berpacu seperti teremas. Gadis ini menderita, lebih tepatnya menderita hidup bersamanya.
Ia kira semua baik-baik saja. Sonia bahkan tak pernah sedikitpun mengeluh, selalu tersenyum didepannya, tampak bahagia, tak pernah tau sampai detik ini jika sang istri menyimpan segudang kecewa.
Sayang, tidaak.... kenapa? ada apa dengan mu? please jangan seperti ini...
Ia tak ubah seperti seorang pecundang. diraihnya botol kaca kecil berisi obat anti depresi itu dengan tangan bergetar.
PRAANNGGGG...!!!
Botol itu pecah seribu terserak kelantai, sebab ia lempar ke dinding kamar dengan hati mendidih, the hell done!!! f u ck you Dimas!! kau menyakiti gadismu.
Argggghh....
Ia menjambak rambutnya sendiri, ditatapnya Sonia yang memejamkan mata terpaksa. Lagi, ia harus menampakkan sifat aslinya pada gadis berhati selembut kapas ini.
Sonia beringsut ketakutan, menampakkan tangis yang tertahan, tubuh wanita itu bergetar hebat dengan mata yang terus terpejam.
"Sayang... kakak tidak marah, tidak...." Ia ikut berbaring dan memeluk sang istri, rahangnya mengeras dengan mata memanas, sungguh benci pada dirinya sendiri.
"Sayang...kakak tak pernah sedikitpun berniat mengabaikan mu, tidak... kakak sangat mencintaimu, please Son. I'm never leave you, I love you, really love you."
Hening.., ia terdiam lama... Hingga suara terdengar,
"Aku juga mencintaimu kak." Akhirnya bisikan lembut pertama keluar dari bibir gadis itu yang bergetar. Mata mereka bertemu, ada air mata di pipi Sonia, ia menghapus air mata itu dengan bibir nya, itu sentuhan paling lembut yang pernah ia berikan seumur hidup.
"Maafkan kakak." Ia menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah sang istri, menyatukan dahi mereka. Mata Sonia terpejam, ia menunggu, namun mata indah itu tak terbuka lagi.
__ADS_1
Cukup lama hingga akhirnya ia mendengar dengkuran halus, Sonia benar-benar terlelap. Di luar hujan turun dengan lebatnya, dan angin terdengar dingin. Ia berbaring sambil mendesah, pikirannya kalut.
Setelah beberapa saat, tubuh Sonia yang hangat merapat padanya, membuatnya melupakan semuanya. Ia memejamkan mata sambil merengkuh tubuh gadisnya. Lalu tertidur.
.
.
.
Hari telah pagi ketika ia membuka mata, dirabanya kasur disebelah, kosong, tak ada tubuh sang istri.
"Son, Sonia?" Cepat-cepat ia berdiri, melongok ke arah kamar mandi, tidak ada. Hampir melompat ia keluar dari kamar mencari keberadaan Sonia.
"Sudah bangun?" Toleh gadis itu aneh ketika melihatnya dengan nafas memburu.
Sonia sudah rapi, cantik seperti biasa. Memakai apron, dengan rambut dikuncir tinggi, sibuk berkutat di depan kompor. Ia memeluk gadis itu dari belakang, membenamkan wajahnya diceruk leher sang istri.
"Maafkan kakak..." Lirihnya beralih ke telinga Sonia dan menggigit pelan disana. Sonia berbalik menatapnya lekat-lekat.
"Aku juga minta maaf, a- aku tidak bisa mengimbangi mu kak." Gadis itu menunduk.
"Aku tidak bisa, aku tidak tahan banting, aku tidak bisa berdiri sejajar denganmu, aku..."
"Kakak yang tak bisa mengerti kamu sayang, maafkan kakak... Mulai saat ini mari kita saling memahami satu sama lain."
"Aku tidak ingin diabaikan lagi..." Pelan gadis itu bicara sambil menunduk.
"Kakak janji, mulai detik ini, sesibuk apapun tak kan pernah mengabaikan mu, tak kan pernah." Dan ia sungguh-sungguh dalam berucap, tulus dari hatinya yang terdalam, segenap jiwanya.
Cukuplah kejadian kemarin menjadi tamparan telak untuknya bahwa ia sama sekali tak becus menjadi seorang suami, itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya, dan tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Tak kan pernah lagi, dan ini pelajaran berharga baginya yang akan ia ingat sepanjang usianya.
Sonia berbeda, wanita ini bukanlah seperti wanita kebanyakan yang hobi melampiaskan emosi lewat vokal, gadis ini memiliki kepribadian introvert, yang tidak mudah untuk membuka diri pada orang lain. Semua masalah ditampungnya sendiri di dalam hatinya yang mungil, seharusnya ia menyadarinya sejak awal.
"Selamat..." Bisiknya serak masih memeluk sang istri.
Sonia mengerutkan dahi, "Selamat apa?"
"Sudah jadi sarjana, maaf untuk yang kemarin. Kita rayakan hari ini."
"Kakak tidak ke kantor?"
"Tidak, hari ini khusus untukmu sayang...Kita akan melakukan banyak hal dirumah, berdua." Kerlingkannya mata jahil pada Sonia, membuat gadis itu tersipu.
__ADS_1
"Kita akan melakukan apa yang belum pernah kita lakukan, seperti mandi bersama, saling menggosok punggung, bercinta seharian, mungkin kita bisa mencoba di banyak tempat, di sofa, di dapur, dikamar mandi..." Kekehnya sambil mengecup kedua mata Sonia, beralih ke hidung dan,
"Bau apa ini?" Keduanya saling pandang...
"Ya Tuhan, gosoongg!!!!" Sonia panik segera mematikan kompor, menatap nanar pada telur dadar yang tampak mengerikan itu.
"Kamu duduk saja, biar kakak selesaikan." Ia mengambil alih, mencengkeram bahu Sonia lembut dan menuntun gadis itu duduk di kursi.
.
.
.
Sonia
Ia memperhatikan kak Dimas yang berkutat di depan kompor dengan gerakan yang menurutnya sangat seksi itu.
Tatapannya fokus, ia senang kak Dimas akan dirumah seharian, walau sangat malu, pria itu mendapatinya berada pada titik nadir semalam. Semula ia ketakutan sebab sang suami memergokinya mengonsumsi obat anti depresi, apakah pria ini berpikiran bahwa dia gila?...
Yah, dia hampir saja gila. Terkadang jantung nya berdegup sangat kencang, frustasi, serta tidak bisa tidur jika terlalu banyak yang dipikirkan. Dan itu terus berlangsung, hingga membuatnya harus datang ke dokter spesialis jiwa beberapa hari lalu.
"Siaap." Suara kak Dimas memecah lamunannya. Laki-laki itu meletakkan telur diatas nasi goreng yang sudah ia buat. Mereka makan dalam diam, sesekali kak Dimas meliriknya dan tersenyum simpul.
"Obat yang malam tadi..."
"Ya?" Tolehnya gugup.
"Kamu dapat dari mana? itu sejenis obat penenang kan? ada kandungan psikotropika nya, tidak sembarang bisa didapat."
"Dari dokter Sp. Jiwa di Rumah Sakit." Entah mengapa mulutnya terasa kelu mengucapkan itu.
"Kamu...?"
"Hanya konsul..." Jawabnya cepat.
"Ya Tuhan..." Ia bisa melihat kak Dimas mendesah tak percaya, laki-laki itu mendekati nya dan langsung memeluknya erat.
"Maafkan kakak, aku suami tidak berguna, suami terburuk yang pernah ada!!" Laki-laki itu memeluknya makin erat membuatnya kesulitan bernafas, dan dapat ia dengar isakan pelan dari kak Dimas.
"Aku yang salah, mungkin kedepan aku akan belajar lebih terbuka." Ucapnya pelan nyaris tak terdengar.
To be Continue
__ADS_1
Happy reading...