
Audrey
Tubuhnya seketika melemas melihat angka yang tertera di lembar kuitansi itu, ingin rasanya dia berbalik ke ruangan dokter Galih dan mengkonfrontasi sang dokter sialan, tapi tidak mungkin karena jelas-jelas dia datang kesini tadi berperan sebagai pasien.
"Ini kuitansi nya mbak."
"Ya." Dia mengeluarkan pecahan uang birunya yang hanya tinggal empat lembar itu, ditambah pecahan dua puluh ribu selembar, puluhan ribu dua lembar dan terakhir lima ribuan dua lembar. Pas jumlahnya 250 ribu.
Now, uangnya bersisa lima belas ribu di dompet, dia hampir ingin menangis memandangi selembar kuitansi berwarna putih itu.
Dia sudah banting tulang, banting daging, banting apalagi untuk sekedar bertahan hidup sendiri, menanti kiriman ibunya yang mulai tak pasti, hutang telah menumpuk di sana-sini, belum lagi tugas seabrek yang memerlukan banyak biaya, terkadang dia membantu Bu cik Zainab, yang punya warung makan samping rental seberang jalan mencuci piring demi mendapatkan makan gratis.
Dan sekarang, dia kehilangan uang 250 ribu secara cuma-cuma, sama saja seperti kehilangan separuh dari jiwanya, Aaarrghhhhhh.
Berkali-kali dia menghela nafas panjang, mencoba mengikhlaskan uangnya yang sudah beralih ke tangan sang petugas loket pembayaran dan dipastikan sebentar lagi uang itu akan bertengger cantik di dalam laci.
"Ada yang bisa saya bantu lagi mbak?" Suara petugas memecah lamunannya yang masih mematung di depan loket.
"Ahh, tidak tidak, terimakasih." Dia berbalik dan melangkah pergi menjauhi klinik terkutuk itu.
.
.
.
Galih
Dia baru saja memarkirkan mobilnya di pelataran parkir Rumah Sakit pagi itu saat seorang gadis berseragam putih-putih mendekatinya.
"Kembalikan uang saya!" Sontak dia kaget bukan main kala gadis itu berbicara dengan nada tinggi dengan kekuatan beberapa desibell tepat di depan wajahnya.
Yah, gadis itu Audrey, satu-satunya mahasiswi yang dia hafal namanya lantaran bertingkah aneh beberapa hari lalu.
"Uang apa?" kernyitkan dahinya heran pada gadis absurd dihadapan nya itu.
"Uang yang saya keluarkan untuk konsultasi pada anda kemarin, kembalikan karena saya sama sekali tidak diperiksa."
Dia hampir tertawa, jadi kemarin Audrey masuk ke klinik sebagai pasien yang ingin berobat.
"Jangan tersenyum, cepat kembalikan!"
"Mungkin bagi anda yang berada di kasta ksatria, uang segitu tidak berarti apa-apa. Tapi bagi saya yang berkasta Sudra uang itu sangat besar, itu semua uang yang saya punya, saya harus puasa hari ini karena tidak punya uang lagi."
Hatinya sontak tercekat kala Audrey berbicara tentang kasta, ditatapnya mata bulat gadis itu, tidak ada kebohongan disana, susah payah dia menelan Saliva yang tiba-tiba terasa sakit.
__ADS_1
"Tidak apa jika dokter tidak berkenan mengganti kasus saya, tapi tolong kembalikan uang saya, saya benar-benar tidak punya uang lagi."
Dia sempat menghela nafas sebentar sebelum akhirnya mengeluarkan dompet dan menarik tiga lembar uang merah dan menyerahkan nya pada gadis itu.
"Saya tidak punya kembalian." Audrey melirik pecahan uang tiga ratus ribu ditangannya.
"Ambil saja semua."
Audrey me ngu lum bibirnya kuat, demi uang gadis itu nekat mencegat sang dokter di parkiran, menepis rasa malu yang kian menggunung dengan meminta kembali uangnya.
"Terimakasih." Audrey menggenggam uang itu dan berbalik pergi menjauh, sangat berharap setelah ini tak akan pernah bertemu dengan sang dokter lagi.
Entah perasaan apa ini, Dia hanya menggelengkan kepala pelan kala gadis itu berlalu, menampakkan punggung yang berjalan menjauh. Sepersekian detik, momen dimana mata mereka bertemu, dia merasakan sesuatu yang sama seperti saat dia melihat Donna remaja, mata penuh luka.
.
.
.
"Jadi bagaimana kemarin, kamu jadi ke klinik dokter Galih?" Loony memberondong Audrey kala gadis itu memasuki ruangan.
Audrey hanya mengangguk.
"Zonk."
"Dokter Galih tidak mau mengganti kasus nya?"
"Tidak."
"Terus kamu bagaimana? maksudku laporan mu nanti?"
"Entahlah." Hela nafas panjang Audrey sambil mendaratkan bokongnya di kursi plastik tepat di ujung meja jaga perawat.
Siangnya Bu Utit memanggil Audrey ke ruangan nya, mengabari bahwa kasusnya sudah diganti oleh dokter Galih.
"Drey, kasusmu sudah diganti sama dokter Galih."
"Serius Bu?" mata Audrey berbinar menatap bu Utit.
"Iya, tadi dokter Galih calling. Kamu dapat kasus Solusio Placenta, pasien nya ada di bangsal nomor 11."
Yap, thanks God...
Tidak menyia-nyiakan waktu, Audrey langsung mengambil start, menyiapkan lembar pengkajian nya dan memulai pembuatan Asuhan Keperawatan.
__ADS_1
[makasih dok] _ Audrey
sent to dokter Galih
[Untuk?] _ Dokter Galih
jiaah, tumben nih dokter cepat balas, kemarin aja gak dibalas.
[Cause of you change my case, thanks a lot of ] _ Audrey
tambahin emot senyum semanis mungkin.
[Emot senyum] _ Dokter Galih
Widiih nih dokter manis juga, ngirimin emot senyum, Audrey cekikikan sendiri.
"Ngapain cekikikan kayak orang kesurupan?" Loony mendaratkan bokongnya di kursi sebelah Audrey, sontak gadis itu segera memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Pasti lagi kirim-kiriman pesan sama Bayu sampe segitu bahagianya." Cibir Loony menyipitkan matanya yang memang sudah sipit.
"Nggak kok, Bayu lagi ada tugas kampus, rempong katanya jadi berapa hari ini gak bisa dihubungi."
"Terus cekikikan sama siapa dong?"
Audrey melirik ke kiri-kanan sebelum akhirnya berbisik pada Loony.
"Dokter Galih ngirimin emot senyum manissss buangget."
"Hahh? kok bisa?"
"Dia udah ganti kasus ku, terus aku ngirimin ucapan terimakasih gitu, dibalasnya sama emot senyum, so sweet kan?"
"Ckkkk, ingat Bayu Drey." Loony menoyor jidad Audrey yang mulai konslet.
"Ya iyalah say, the first love never die, Bayu always be my love."
"Kalau dokter Galih itu ibarat bulan purnama di langit Lon, tak kan pernah terjangkau, never ever, beda kelas, beda kufu, beda dunia, jangankan berharap, bermimpi pun tak berani daku eeeaaa."
"Lah kamu sama Bayu kan beda juga, secara dia anak anggota DPR buk, horang kaya, bermartabat pula."
"Tapi kan seenggaknya Bayu mahasiswa juga, kita sama, sama-sama berjuang dari awal, nanti suksesnya bareng." Audrey menyeringai diikuti cibiran Loony padanya.
To be Continue...
Happy reading yaaa
__ADS_1