
Fatih
Ia membuka mata pagi itu, terasa sangat berat. Seolah ada tumpukan bata di kelopak matanya. Tangannya meraba- raba kasur yang ada disebelahnya, masih dengan mata yang setengah tertutup, kosong. Tidak ada tanda- tanda keberadaan Rora disebelahnya.
Tiba- tiba ia terduduk, menelisik seluruh sudut kamar, ia sendiri, hanya sendiri. Jadi yang malam tadi hanya halusinasi? ia meraba tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang, hanya tertutup bed cover tebal, sementara pakaian yang ia kenakan semalam terserak di lantai, di tepi tempat tidur. Ya Tuhan, separah itukah dia?...
Kepalanya mendadak pening, cahaya matahari mencuri masuk dari sela- sela tirai yang masih tertutup, hatinya kembali mencelos, rasanya seperti ditusuk- tusuk pecahan kaca.
Ia beranjak menuju kamar mandi, entah berapa lama ia membiarkan tubuhnya diguyur air shower, sampai ujung- ujung jarinya mengkerut. Hanya dengan menggunakan boxer dan kaos tipis ia keluar, kepalanya sedikit ringan setelah disiram air dingin tadi.
Namun sekali lagi ia tercekat saat memasuki dapur. Sosok itu ada lagi, masih seperti malam tadi, rambut dikuncir tinggi dan memakai kemeja putihnya tanpa bawahan. Dia benar- benar gila sebentar lagi, halusinasinya sudah parah, complete jadi satu, halusinasi penglihatan, pendengaran dan perabaan. Bagaimana bisa sosok Rora terus menghantuinya seperti ini.
"Hai...Abang sudah bangun?"
Ia masih mematung, terpaku pada sosok yang ada di ujung kompor tanam listrik, sampai sosok itu mendekat.
"Abang kenapa?"
"Hah...eh..." Ia terkesiap lalu dengan sigap memasukkan gadis itu kedalam rengkuhannya, ia merasakan kulitnya yang bersentuhan dengan kulit Rora, nyata, ini nyata.
"Kamu benar- benar Rora? jadi yang semalam berarti nyata, bukan halusinasiku kan? ini nyata kan? kamu pulang sayang?" Berulang kali ia berucap antara percaya dan tidak.
"Abaang..."
Ia melerai pelukannya, menangkupkan telapak tangannya di pipi Rora,"Jangan pergi lagi, aku bisa gila kalau kamu pergi.. Aku tidak sanggup..sungguh.."
"Maafkan aku bang.."
Lama mereka berdiri sambil berpelukan, sampai sebuah suara mencuri keluar dari bibir Rora, " Mau sampai kapan kita seperti ini, kaki ku pegal berdiri bang."
Ia terkekeh, dengan satu kali gerakan, ia mengangkat tubuh Rora ke dalam gendongannya, "Abaang.." Gadis itu berteriak diudara sambil merangkulkan lengan ke lehernya sementara kaki Rora membelit pinggangnya. Ia membawa Rora berbaring di sofa depan.
Mereka sudah duduk disofa, sekali lagi ia memandangi wajah Rora, sungguh ia ingin menangis tak percaya bahwa gadis itu sudah ada disini, dihadapannya.,"Jangan seperti ini lagi." Bisiknya parau.
"Kalau saja kamu percaya padaku sepenuhnya, kejadian ini tidak perlu ada."
__ADS_1
"Semuanya terjadi begitu mendadak, Kikan datang menemuiku, bicara yang tidak- tidak tentang kalian. Besoknya Byan menemui papa, mengatakan segala- galanya. Sementara abang tidak ada."
"Abang pernah menolakku dulu, sampai aku merasa tersisih, aku merasa tidak diinginkan, kemudian abang pacaran sama Kikan. Jadi wajar aku berpikir aku hanya objek belas kasihan abang ketika abang mau menikahiku saat kondisiku seperti ini."
"Kenapa kamu punya pemikiran seperti itu?"
"Well, karena kita sahabat, sepupuan." Rora mengangkat bahu.
"Kamu gak pernah mikirin aku, ya?" Suaranya lirih, seolah ada bilah pisau yang menusuknya.
"Maksudnya?" Rora menaikkan alis menatapnya.
Ia beranjak mendekati Rora, membungkuk agar sejajar dengannya. Kedua tangannya memegang pundak Rora, memaksa gadis itu untuk menatapnya.
"I love you Rora. Now and all years ago. Since I was junior high school. Saat dilapangan basket, kamu bilang kita pura- pura pacaran, sebenarnya aku udah suka ke kamu. Saat kamu ulang tahun ke tujuh belas, aku sengaja cium pipi kamu dan ceburin kamu ke kolam, aku tuh udah suka ke kamu."
Ia sukses membuat Rora terperangah, mata gadis itu membulat sempurna, melongo menatapnya seperti orang bodoh.
"Tapi kenapa abang nolak waktu aku tembak?"
"Tapi ternyata aku salah, aku sudah membuang banyak waktu sia- sia." Ia menyatukan keningnya ke kening Rora.
"Sejak dulu perasaanku tidak berubah, aku cuma membungkam perasaan itu dan menyangkalnya. Aku bersikeras kalau kita hanya sepupu dan sudah seharusnya seperti itu."
"Jadi...Kikan?...Bagaimana dengan Kikan?" Rora sedikit menjauhkan diri.
"Itu juga salah satu bentuk penyangkalanku, aku tidak pernah benar- benar menyukainya, aku mencari cinta pada sosok Kikan, tapi sebenarnya cinta itu yah adanya di kamu." Ia mengecup bibir Rora sekilas sambil tersenyum.
"Jadi... Aurora Armevtia, mau jadi pacar aku?"
"Apaan?" Rora memukul dadanya yang langsung ditangkap olehnya.
"Aku nembak nih, diterima gak?" Ia menaikkan alis, menunggu.
Rora bersemu merah kemudian mengangguk pelan, "I love you abang."
__ADS_1
"I love you too." Ia kembali membenamkan bibirnya ke bibir Rora.
"Jadi bagaimana rasanya mencium saudara sendiri, ah tidak, bagaimana rasanya bercinta dengan sepupu sendiri?" Godanya saat pelukan mereka telah telerai.
"Abaaaaang?!"
"Kita mulai dari awal ya...aku ingin kita melewati masa- masa pacaran, kencan dan banyak hal yang telah kita lewatkan dan kita buang sia- sia selama ini."
Dan Rora setuju, gadis itu mengangguk cepat dipangkuannya. Kemudian tertawa bersama.
Perjalanan hidup itu sebuah misteri besar. Ia tak pernah menyangka pada akhirnya mereka bisa bersama seperti ini, sahabat, sepupu atau apalah, yang jelas gadis bernama Aurora ini adalah istrinya, cintanya, kekasihnya... Dan ia takkan membuang waktu selama bertahun- tahun lagi seperti yang pernah ia lakukan.
.
.
.
Aurora
Dan mereka akhirnya berakhir di sofa, bercinta entah untuk keberapa kali, sampai ia khawatir terhadap kandungannya yang telah menginjak bulan kelima itu.
Tepat saat ia ingin meraih kemeja Fatih yang ia pakai sejak semalam dari atas meja, sebab dilempar pria itu sembarang tadi. Ponsel suaminya berbunyi dari arah kamar.
Ia hanya duduk menunggu ketika Fatih beranjak mengambil ponsel dan keluar lagi dari kamar.
"Siapa?"
"Papa.." Fatih sedikit menjauhkan ponsel dari telinga.
Degh...
Jantungnya kembali berpacu kencang. Jujur saja, ia belum siap bertatap muka dengan kedua orang tua Fatih dan tentu juga kedua orangtuanya sendiri.
Tobe Continue
__ADS_1
happy reading