
Fatih
Ia dan Rora sudah kenal, berteman dan dekat hampir di semua jumlah usia yang mereka lalui. Tak heran jika di setiap album foto keluarga, dimana ada ia, pasti ada Rora. Bahkan sejak mereka masih bayi.
"Perkenalkan nama saya Aurora, umur 10 tahun, hobi membaca, cita-cita ingin jadi 'Istrinya Fatih'."
Sontak seluruh kelas terbahak. Yah mereka masih duduk di kelas V sekolah dasar, disuruh memperkenalkan diri masing-masing di depan guru baru. Dan ia hanya bisa melongo kala itu mendengar cita-cita Rora yang anti-mainstream ditengah riuhnya siswa yang bersorak.
"Kenapa punya cita-cita seperti itu, gak ada cita-cita lain apa, guru kek, dokter kek, perawat, pengacara." Protesnya pada Rora saat mereka sudah pulang kerumah.
"Belum ada, yang kepikiran cuma itu. Memang kenapa? kamu kan mau jadi pilot, nah aku mau jadi istrinya pilot, ada yang aneh?"
"Iya ada, kamu yang aneh!" Ia melempar bantal kearah Rora yang langsung ditangkap gadis itu sambil tertawa.
Beranjak SMP, mereka masih disekolahkan ditempat yang sama. Walau tidak satu kelas, dan jarang bersua saat disekolah tapi mereka tetap bersama ketika kumpul keluarga.
"Kenapa lo?" Dori menoleh padanya yang tampak kesulitan memasukkan tas kedalam laci meja pagi itu.
Ia menggeleng sambil mengangkat bahu. Usut punya usut ternyata kado-kado dengan berbagai ukuran dan warna bertumpuk disana, di lacinya.
"Apaan nih?"
Dori menahan tawa, "Asyiknya yang punya banyak fans, eh cewek-cewek disekolah udah bikin club gitu, Fatih lovers hahaaaaa, itu semua dari mereka."
Ia hanya menghela nafas pelan lalu memasukkan semua kado kedalam kantong kresek.
"Wow, aku lagi gak ulang tahun. Kamu kan tau kapan aku ulang tahun, masih dua bulan lagi. Kok ngasih kado sebanyak ini." Mata Rora membelalak sempurna saat ia menyerahkan kado- kado itu.
"Dicicil dari sekarang, jadi pas kamu ulang tahun aku gak perlu kasih kado lagi." Ucapnya malas sambil fokus membaca buku.
__ADS_1
Detik berikutnya Rora sibuk berkutat membuka kado-kado itu.
"From Anesha to Fatih, from Witri to Fatih, from Fina to my love Fatih."
"Ah ini mah dari fans kamu!" Rora melempar sekotak coklat tepat ke kepalanya, ia yang tak sempat menghindar hanya meringis kesakitan kala itu.
Dan ada hal yang paling menghebohkan terjadi saat mereka menginjak kelas tiga SMP, waktu itu lagi classmeeting, ia dan teman kelas sedang bermain basket saat Anesha, cewek paling cantik di sekolah, itu menurut teman-teman cowoknya, tapi baginya Anesha biasa saja, datang menghampirinya.
"Gue suka sama lo Fatih, jadi pacar gue ya." Ia hanya terpaku saat Anesha mengucapkan itu tepat dihadapan semua orang yang ada disana.
Sudut matanya melihat teman-teman berteriak histeris, bersorak sambil bertepuk tangan.
Sungguh ia gelagapan tak siap menghadapi tindakan Anesha yang nekat, dan tepat saat itulah netranya menangkap sosok Rora menyembul diantara kerumunan. Dan ketika mata mereka bertemu, ia langsung cepat-cepat mengirimkan sinyal SOS pada gadis itu.
Rora sepertinya mengerti lalu mengangguk paham dan berjalan kearahnya dan Anesha.
"Apa-apaan nih, ngapain lo nembak cowok gue, Sha." Rora menarik lengannya mendekat. Sontak tindakan Rora membuat wajah Anesha merah padam.
Lepas dari itu, saat pulang sekolah. Baik ia dan Rora tak berhenti tertawa, ia ingat betul saat itu Rora sampai berguling-guling di karpet sambil memegang perut.
"Kamu lihat gak ekspresi nya Anesha kayak gimana tadi hahahaha..."
"Kayak orang salah potong rambut hahaaaaa...lucuuu!"
***
Bukan sekali itu saja Rora menolongnya dalam menghadapi situasi genting. Saat mereka menginjak kelas dua SMA, ia terpaksa mengirim pesan ke Rora untuk datang ke sebuah cafe dimana ia diajak kencan dadakan oleh kakak kelas.
Rora datang tergesa ke sana dan bertingkah seolah sedang memergoki pacar yang mencoba berselingkuh. Ia hampir terbahak melihat akting Rora, kalau saja tak ingat mereka masih berada di depan si kakak kelas.
__ADS_1
Dan mereka lebih dari itu. Di laci kamarnya bahkan masih tersimpan fotonya bersama Rora, saat merayakan ulang tahun Rora yang ke tujuh belas. Ia mencium pipi Rora, sebelum ia mendorong gadis itu hingga tercebur ke kolam. Ia masih ingat momen itu.
Sedikitpun tak ada kecurigaan Rora untuknya ketika ia mengajak gadis itu ke pinggir kolam, dan disana sudah ada kue ulang tahun. Ia yang cuek memang tak pernah melakukan hal semanis ini sebelumnya, jadi wajar saja jika kewaspadaan Rora sedikit berkurang.
Saat sedang lengah, ia mendorong Rora. Sementara Rora kesulitan mencari keseimbangan, ia malah tertawa terbahak-bahak.
Saat meneliti foto itu sebab tak sengaja membuka laci dua hari lalu, ia bisa melihat kalau saat itu ia bahagia. Bahkan, setelah ia berhasil mengeluarkan Rora dari kolam, meski dalam keadaan basah kuyup, ia masih merasa bahagia.
Sampai sekarang, ada satu perasaan yang terus bertahan dihatinya setiap kali bersama Rora. Gadis itu membuatnya nyaman.
Rora membuatnya bahagia.
***
Ia menghela nafas berat, kembali menatap amplop coklat berisi hasil cek darah Rora yang sekarang sudah berada diatas dashboard mobil. Disaat yang bersamaan, ponselnya bergetar, panggilan dari papa Galih.
"Lagi otw pulang pa." Jawabnya pelan saat papa Galih menanyakan keberadaannya.
Rora hamil....
Ia tahu persis ayah dari bayi yang dikandung Rora saat ini, ingatannya kembali pada peristiwa kecelakaan yang menimpa Abi. Dan barulah ia mengerti mengapa Rora begitu histeris saat itu. Matanya memanas, ia mencengkram setirnya kuat berharap sesak di dada akan berkurang.
Papa Galih dan papanya sendiri sudah menunggu di depan teras saat mobilnya memasuki pekarangan rumah. Dan detik itulah ia mengambil keputusan. Ia memejamkan mata perlahan sambil menarik nafas panjang sebelum benar-benar keluar dari mobil.
Dipegangnya erat amplop coklat itu, berjalan ke arah dua orang pria yang sangat menginginkan ada berita apa dibalik benda yang dibawanya.
Dan detik selanjutnya ia duduk berlutut didepan papanya dan papa Galih.
"Ma-afkan Fatih pa, Rora sedang mengandung anak Fatih."
__ADS_1
To be Continue
Happy reading yaaa....