
#Hai reader kesayangan othor.. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.
Jangan lupa bagi bunga πΉatau kopi β nya biar semakin semangat buat nulis.. #
Selamat Membaca π
...****************...
Pagi ini kesibukan di tempat tinggal Hedi dan Wiwid berjalan seperti biasa. Mereka sedang sarapan bersama sebelum bernagkat beraktivitas seperti biasanya.
"Yah, jangan lupa nanti sore kita mau ke rumah Mama. Jangan lembur ya." Wiwid mengingatkan.
"Siap Sayang. Hari ini aku cuma praktek aja, gak ada operasi kok." balas Wiwid.
"Bun, Kakak nanti ikut kan ke rumah Oma ?" tanya Chika.
"Iya dong sayang. Kita semua pergi ke rumah Oma." jawab Wiwid.
"Kamu udah selesai sarapannya ? Ayo kita berangkat." ajak Hedi.
"Udah Yah. Susunya dimasukkan tumbler aja Bun, biar aku minum di jalan." kata Chika.
"Oke sayang. Sebentar ya." Wiwid mengambil gelas susu Chika dan memindahkannya ke tumbler.
"Ade au Nda.." Ifa mencoba merebut botol susu Chika.
"Eh.. Ini punya kakak sayang. Punya adek kan yang ini." Wiwid meletakkan gelas susu di depan Ifa.
"Au itu.." Ifa menunjuk ke tumbler milik Chika.
"Ooh.. Adek mau di tumbler juga. Bentar ya Bunda ambilin tumbler punya adek." kata Wiwid.
"Bun, Chika berangkat." pamit Chika sambil mencium tangan Wiwid.
Wiwid lalu mengantar mereka berdua sambil menggendong Ifa yang sudah memeluk tumblernya.
"Berangkat ya. Assalamualaikum." Hedi mencium kening Wiwid dan Ifa.
"Waalaikumsalam." balas Wiwid.
Setelah mobil Hedi sudah tak terlihat lagi, Wiwid masuk ke rumah.
π±π²
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Ada apa Ma ?"
"Kamu jadi kesini kan ?"
"Insha Allah Ma. Kita berangkat agak sore, nunggu Mas Hedi pulang kerja."
"Iya. Hati - hati di jalannya. Sekarang lagi musim hujan."
"Iya Ma. Nanti Wiwid ingatkan sama Mas Hedi."
"Ya udah. Mama tunggu ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Wiwid menyimpan ponselnya dan menghampiri Ifa yang sedang bermain di depan TV.
Sore harinya, Hedi, Wiwid dan kedua anaknya sudah bersiap untuk berangkat ke kota B.
__ADS_1
"Sudah siap ?" tanya Hedi.
"Sudah." jawab Wiwid.
"Sudah Yah." Chika ikut menjawab.
"Air dan Gas udah dimatiin kan Bun ?" tanya Hedi lagi.
"Udah Yah. Tapi biar Bunda cek sekali lagi." kata Wiwid.
"Ya udah. Ayah sama anak - anak tunggu di mobil ya." kata Hedi.
Wiwid lalu mengecek kembali ke dapur dan kamar mandi. Semuanya sudah dimatikan.
"Udah sayang ?" tanya Hedi ketika Wiwid keluar dari rumah.
"Udah. Lagian kenapa harus dicabut segala sih gas nya ? Kan kita cuma 2 hari di rumah Mama." kata Wiwid.
"Biar aman sayang. Kita kan gak tau ke depannya kayak gimana. Siapa tau kita akan lama kembali ke rumah ini." Hedi tersenyum dengan tenang.
"Iih.. Kamu mas, kalo ngomong jangan aneh - aneh." Wiwid tak suka mendengar ucapan suaminya.
"Ya udahlah. Kita berangkat yuk. Mumpung belum hujan." ajak Hedi. Wiwid mengangguk dan masuk ke mobil. Setelah mengunci pintu oagar, Hedi ikut masuk ke mobil dan mulai menjalankan mobilnya.
"Kakak, Adek, yang anteng ya di mobil." Wiwid mengingatkan.
"Iya Bun." jawab Chika.
Mobil pun melaju meninggalkan kota C menuju ke kota B.
Sepanjang jalan Chika terus mengajak Ifa bernyanyi. Suasana pun terasa hidup selama perjalanan. Hingga tiba - tiba saat memasuki tol, hujan turun dengan derasnya. Dilihatnya di bangku belakang kedua anaknya sudah tertidur.
"Yah, hati - hati nyetirnya. Hujannya deres." kata Wiwid.
"Apaan sih Mas. Kita memang akan selalu bersama." Wiwid menepuk - nepuk tangan suaminya. Hedi malah semakin mengelus - elus tangan Wiwid.
"Mas, fokus dong nyetirnya. Lihatnya ke depan bukan kesini." Wiwid mengingatkan.
"Aku kok gak mau pisah sama kamu ya. Gak mau melepas tangan kamu." Hedi menatap lekat istrinya.
"Iih.. Apaan sih kamu Mas. Nanti kan bisa pegangan lagi. Sekarang kamu fokus nyetir aja. Tangan di kemudi aja semua ya." Wiwid memindahkan tangan Hedi ke kemudi.
"Hehehe. Kamu mah gitu sayang. Kan aku masih kangen sama kamu." Hedi kembali memegang tangan Wiwid.
"Kangen ? Perasaan kita gak jauhan deh Mas. Cuma pisah pas kerja aja." protes Wiwid.
"Enrahlah. Makin lama aku makin gak mau pisah lama sama kamu." gombal Hedi.
"Idih.. Malu tuh sama anak - anak. Udah tua masih aja gombal." ledek Wiwid dengan muka sedikit memerah.
"Kan gombalnya sama istri sendiri." Hedi mencubit hidung Wiwid gemas.
"Mas..." Wiwid melotot tanpa bersuara. Takut anak - anak terbangun.
Tiba - tiba... Ada sebuah mobil yang memotong di depan mereka.
"Mas.. Awas.." teriak Wiwid. Hedi segera menginjam rem dan membanting setir ke kiri.
"Astagfirullah. Hampir aja sayang. Untung aku masih bisa kendaliin mobil ini." kata Hedi.
"Makanya fokus nyetir." Wiwid kembali mengingatkan.
"Iya sayang. Kamu lihat anak - anak. Gak apa - apa kan ?" titah Hedi.
__ADS_1
Wiwid lalu keluar dan mengecek anak - anak di bangku belakang.
"Kak, kamu gak apa - apa ?" Wiwid mengecek Chika.
"Kenapa sih Bun. Kening Kakak sakit nih." Chika mengusap kepalanya yang terbentur.
"Tadi ada mobil nyalip sayang. Maafin Ayah ya." kata Hedi.
"Adek gak apa ?" Wiwid langsung menggendong Ifa yang terlihat kebingungan.
"Ndak apa Nda.." jawab Ifa.
Wiwid lalu menggendong Ifa dan mengajak Chika keluar dari mobil. Hedi sedang mengecek kerusakan di mobilnya.
"Gimana Yah ?" tanya Wiwid.
"Gak ada yang parah sayang." jawab Hedi.
"Kita lanjut lagi ?" tanya Wiwid lagi.
"Iya dong. Let's go." Ajak Hedi.
"Nda.. Ade cama Nda.." rengek si kecil Ifa.
"Iya.. Adek di depan sama Bunda. Kakak gak apa sendirian di belakang ?" tanya Wiwid.
"Gak apa Bun. Tapi kakak udah lapar." jawab Chika.
"Ya nanti kita mampir di rest area." kata Hedi.
Mobil pun kembali melaju di jalan tol.
"Yeay.. Hampir sampai." Chika tampak girang saat melihat lampu rest area di depannya.
Saat hendak berbelok ke rest area, tiba - tiba mobil mereka di tabrak dengan sangat keras dari arah kiri. Hingga mobil terbalik dan terlempar ke sebrang jalan.
"Aaw.. Ayah..." teriak Wiwid sambil memeluk si kecil Ifa yang mulai menangis kencang.
"Mas.. Kamu gak apa ?" Wiwid mencoba mengguncang suaminya tapi tak ada jawaban.
"Chika.. Kamu gak apa ?" tanya Wiwid sambil mencoba menengok ke belakang.
Belum sempat menoleh ke belakang, pandangan Wiwid mulai kabur. Hanya terdengar suara tangis Ifa dan suara berisik orang - orang dari luar mobil.
Apa yang terjadi dengan Wiwid dan keluarganya ? Apakah mereka akan selamat ?
...****************...
Bagi vote atau Bunga πΉ atau secangkir kopiβ ππ
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kisah cinta Sissy dan Rio.
Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. "Geng Pelangi" juga seru loh, menceritakan kisah persahabatan 4 orang gadis. Kalian juga bisa buka di bio saya ya..
Semuanya sudah tamat ya !!
Like π Komen dan Vote ββ
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
Makasih πππ
Bersambung
__ADS_1