
#Hai reader kesayangan othor.. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.
Jangan lupa bagi bunga πΉatau kopi β nya biar semakin semangat buat nulis.. #
Selamat Membaca π
...****************...
"Hoek.. hoek..." terdengar suara orang muntah di kamar mandi.
"Yang... Kamu kenapa ?" tanya Hedi menghampiri istrinya di kamar mandi.
"Mual banget Mas." jawab Wiwid dengan lemah.
"Pusing juga ?" tanya Hedi menyelidik.
"Iya. Lemas juga." jawab Wiwid.
"Sepertinya kamu hamil sayang." kata Hedi. Sebagai seorang dokter tentu Hedi paham dengan gejala awal kehamilan. Meski dia bukan dokter kandungan.
"Ah.. Masa Mas ?" Wiwid tak percaya.
"Kan gejalanya gitu Yang. Aku rasa kamu juga belum haid bulan ini. Bentar aku beliin tespek dulu ya." Hedi bergegas keluar kamar setelah membantu Wiwid duduk di tepi ranjang.
"Apa iya aku hamil ?" gumam Wiwid dalam hati. Apa setelah 5 bulan pernikahannya dia beneran hamil ?
Tak lama Hedi kembali dengan membawa beberapa tespek dan bubur ayam.
"Nih Yang. Kamu pakai dulu. Bisa kan makainya ?" Hedi memberikan sebuah alat tes kehamilan pada Wiwid.
"Ya aku baca dulu lah petunjuknya. Aku bawa dua ya, biar lebih yakin." Wiwid segera melangkah ke kamar mandi. Hedi menjelaskan secara singkat cara pakainya.
Sambil menunggu, Hedi memindahkan bubur ayam ke mangkok.
Sementara itu di dalam kamar mandi, Wiwid nampak takjub dan terharu melihat hasil tes nya. Terdapat 2 garis disana. Dicobanya alat kedua, hasilnya juga sama. Tangan Wiwid sedikit bergetar saat memegang alat tes kehamilan miliknya itu.
"Mas... Mas.. Lihat..." Wiwid keluar kamar mandi memanggil suaminya.
Hedi langsung menghampiri dan melihat hasilnya.
"Alhamdulilah kamu positif Yang. Abis ini kita periksa ke dokter ya." Hedi memeluk dan mencium kening Wiwid.
"Alhamdulilah Mas. Anak kamu sudah hadir disini." Wiwid mengusap perutnya yang masih rata.
"Anak kita." Ralat Hedi.
"Kamu bawa apa itu Mas. Kok wangi banget ?" tanya Wiwid.
__ADS_1
"Bubur ayam. Kamu makan ya ?" Hedi menyodorkan semangkuk bubur ayam.
"Tau aja kalo aku laper." Wiwid langsung menyantap bubur ayam yang disodorkan suaminya.
"Pelan - pelan makannya. Gak ada yang minta kok." Hedi menggusak rambut Wiwid dengan gemas.
"Kamu gak makan Mas ?" tanya Wiwid.
"Aku udah beli nasi kuning buat aku sama Chika." jawab Hedi.
"Nasi kuning ? Kayaknya enak tuh." Wiwid langsung berbinar bahagia.
"Sayang belum kenyang ? Mau nasi kuning juga ?" Hedi bertanya dengan lembut.
"Udah kenyang. Tapi pengen nyicip juga." jawab Wiwid.
"Ya udah. Kita sarapan yuk." ajak Hedi.
"Mandi dulu lah Mas. Katanya mau ke dokter kandungan." kata Wiwid.
"Ya udah mandi dulu. Mau bareng atau gimana ?" Hedi menaik turunkan alisnya.
"Gak. Kamu mandi duluan aja. Aku mau lihat Chika dulu."Wiwid bergegas keluar kamar sebelum suaminya memaksa untyk mandi bareng. Hedi tertawa melihat tingkah Wiwid yang malu - malu seperti itu.
"Wah.. Anak Bunda pinter sekali. Udah selesai mandi ya ?" Wiwid melihat Chika sedang merapikan seragam sekolahnya.
"Sini Bunda bantuin ikat rambutnya." Wiwid mulai mengikat rambut Chika yang panjang.
"Makasih Bunda." Chika memeluk Wiwid dengan erat.
"Yang.. Ayo mandi dulu. Katanya mau nganter Chika ke sekolah." teriak Hedi dari luar kamar.
"Kamu sarapan dulu sama Ayah ya. Bunda mandi dulu." kata Wiwid.
Chika lalu duduk di meja makan bersama Hedi.
"Udah siap semua bukunya ? Gak ada PR ?" tanya Hedi. Setiap pagi Hedi terbiasa menanyakan hal itu pada Chika. Meski sekarang sudah ada Wiwid sebagai ibunya tapi Hedi tak melupakan kebiasaannya itu.
"Sudah Yah. Wah.. Ada nasi kuning nih. Tumben beli nasi kuning, biasanya Bunda yang masak." tanya Chika.
"Iya. Bunda gak masak tadi." jawab Hedi.
"Bunda sakit Yah ? Kok tumben gak masak ?" tanya Chika lagi. Biasanya memang Wiwid selalu memasak untuk mereka kecuali jika sedang sakit.
"Gak. Bunda baik - baik aja." kata Hedi.
Tak lama Wiwid muncul dengan dress selututnya.
__ADS_1
"Bunda cantik banget. Mau kemana ?" tanya Chika.
"Kan mau nganter Chika. Sekalian Bunda mau periksa ke dokter." jawab Wiwid yang sudah duduk di sebelah Hedi.
"Kata Ayah Bunda gak sakit. Kok periksa ke dokter ?" Chika yang sudah kelas 3 memang lebih cerewet sekarang.
"Bukan sakit sayabg. Cuma periksa aja." Hedi yang menjawab.
"Aneh. Chika bingung ah." Chika memilih untuk tidak bertanya lagi. Wiwid dan Hedi pun hanya tersenyum sambil saling tatap. Lalu Chika dan Hedi meneruskan sarapannya. Wiwid hanya melihat sambil.menikmati secangkir kopi susu.
"Mas, Aku mau." kata Wiwid yang melihat Hedi sedang menyantap nasi kuning.
"Kok gak bilang dari tadi. Ini udah hampir habis." kata Hedi.
"Ya pengennya sekarang." balas Wiwid.
Hedi pun dengan telaten menyuapi Wiwid.
"Iih.. Bunda kayak anak kecil deh, makannya di suapin. Chika aja udah bisa makan sendiri." ledek Chika.
"Biarin aja. Bunda emang lagi manja." Hedi yang menjawab.
Wiwid tak memperdulikan ocehan anak sambung dan suaminya itu. Dia asyik menikmati nasi kuning yang disuapkan oleh suaminya.
"Udah kenyang ? atau mau nambah lagi ?" tanya Hedi ketika piring sudah bersih.
"Udah. Nanti aja beli kalo udah selesai periksa." jawab Wiwid.
"Siap Nyonya. Kita berangkat sekarang ?" Tanya Hedi.
"Let's go." jawab Wiwid dan Chika serempak.
...****************...
Bagi vote atau Bunga πΉ atau secangkir kopiβ ππ
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kisah cinta Sissy dan Rio.
Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. "Geng Pelangi" juga seru loh, menceritakan kisah persahabatan 4 orang gadis. Kalian juga bisa buka di bio saya ya..
Semuanya sudah tamat ya !!
Like π Komen dan Vote ββ
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
Makasih πππ
__ADS_1
Bersambung