Tiga Dara

Tiga Dara
#28 Pertengkaran Hebat


__ADS_3

#Hai reader kesayangan othor.. Makasih ya udah mau baca tulisan ku yang masih jauh dari sempurna ini. Insha Allah cerita ini akan update 1/2 hari sekali ya. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.


Jangan lupa bagi bunga 🌹atau kopi β˜• nya biar semakin semangat buat nulis.. #


Selamat Membaca πŸ“–πŸ“–πŸ“–


...***...


Caca sedang disibukkan dengan kegiatan OSIS di sekolah jadi dia lebih sering pulang sore. Seperti hari ini, Caca ada rapat persiapan untuk acara lomba basket antar SMA yang diadakan di sekolahnya. Seperti biasa Caca pulang bersama Agung.


"Gak makan duku Yang ?" tanya Agung.


"Gak deh Mas. Ini udah mau magrib. Makan di rumah aja." jawab Caca.


"Oke deh." Agung melajukan sepeda motornya lebih cepat.


Tak lama mereka sampai di rumah Caca.


"Asyik.. Papa udah datang." gumam Caca dalam hati. Tapi yang terjadi diluar perkiraannya. Terdengar suara pertengkaran orangtuanya.


"Sampai kapan kamu mau seperti ini ? Kamu pikir aku gak akan tau ?" teriak Arman.


"Apa yang kamu tahu ? Kamu tuh cuma asal nuduh." balas Yesa.


"Tapi yang lihat kamu sama laki - laki yang katany bos kamu itu banyak. Makanya aku juga tahu." Arman kembali meneriaki istrinya.


"Budi itu sudah punya istri. Aku sering keluar sama dia ya karena kami adalah rekan kerja." Yesa menyampaikan pembelaan dirinya.


"Tapi aku dapat laporan dari temenku Sa. Aku malu." kata Arman.


"Sejak kapan kamu peduli sama aku ? Bukannya yang kamu pedulikan itu cuma pekerjaan ?" Yesa coba menyudutkan suaminya.


"Gak usah mengalihkan masalah deh. Kalian terpergok sering jalan berdua aja." Teriak Arman.


"Aku gak ada hubungan apa - apa dengan Budi. Kita memang makan berdua, tapi hanya sebatas teman dan rekan kerja. Puas kamu ??" Balas Yesa dengan ketus.


Caca hanya mematung mendengar pertengkaran kedua orangtuanya.


"Ca, Kamu gak masuk ?" tanya Agung yang melihat Caca hanya terpaku di balik pagar.


"Mas, bisa temenin aku makan dulu." pinta Caca.


"Iya. Yuk kita makan dulu." Agung sebenarnya mendengar juga pertengkaran orangtua Caca. Tapi dia memilih untuk tidak membahas hal itu.


Agung segera membawa Caca ke sebuah kafe dengan suasana outdoor.


"Kamu cerita aja sama aku. Ada apa ?" kata Agung yang melihat Caca hanya diam termenung.


"Gak tau Mas. Aku bingung mau ceritanya." Caca menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Apapun yang terjadi, kamu harus sabar dan kuat ya." Agung mengusap kepala Caca dengan lembut.


"Aku merasa gak kuat dengan semua ini. Papa dan Mama selalu aja bertengkar, meski biasanya tak sehebat yang tadi." Caca mulai terisak.


"Kamu pasti kuat. Aku akan selalu ada buat kamu." kata Agung.


"Ini juga kenapa Kak Rara memilih kuliah di luar kota. Mungkin akupun begitu." kata Caca sambil menghapus airmatanya.


"Apapun yang terbaik buat kamu, aku pasti dukung." Agung coba menguatkan.


"Makasih Mas." Caca sudah mulai bisa tersenyum lagi.


"Sekarang kamu kabarin Mama, bilang kali masih ada keperluan. Jangan sampai Mama khawatir." kata Agung.


"Biarin aja. Mama dan Papa juga gak pernah mikirin perasaan anak - anaknya." Caca masih kesal.


"Gak boleh gitu Sayang. Mereka mencoba melakukan yang terbaik buat anak - anaknya. Kamu gak boleh bilang gitu ya. Harus tetap jadi anak baik." Nasehat Agung.


Akhirnya Caca mengikuti saran Agung dengan mengirim pesan pada Yesa.


"Udah ? Sekarang kita makan ya. Kamu kalo lapar makin rese." canda Agung.


"Apaan sih Mas ? Garing tau." Caca mencubit lengan Agung sambil tersenyum.


Caca menikmati makanan sambil menenangkan diri juga. Agung dengan setia menemani kekasihnya itu.


"Iya Pa. Tadi ada rapat OSIS dulu trus pulangnya cari makan dulu." jawab Caca sedikit berbohong.


"Kan di rumah ada makanan. Jangan dibiasakan makan malam di luar." tegur Arman.


"Iya Pa. Tadi sudah keburu lapar soalnya." Caca terpaksa berbohong agar sang Papa tidak meneruskan ucapannya.


"Baru pulang sayang ? Udah makan ?" tanya Yesa yang baru keluar dari kamar. Terlihat jelas gurat sisa air mata di wajah Yesa.


"Udah Ma. Aku ke kamar dulu ya Ma, Pa." pamit Caca.


"Iya. Mandi dulu sana." titah Yesa. Sementara Arman hanya melirik saja pada Anak dan istrinya.


Caca baru selesai mandi ketika Wiwid masuk ke kamarnya.


"Dek, untung kamu baru pulang jam segini." kata Wiwid.


"Emang kenapa Kak ?" Caca pura - pura gak tahu.


"Gak apa sih." Wiwid urung menceritakan perengkaran orang tuanya tadi.


"Aku tahu kok kak." kata Caca lirih, mengurungkan niat Wiwid untuk keluar dari kamar Caca.


"Tau apa ?" Tanya Wiwid.

__ADS_1


"Aku denger pertengkaran Mama dan Papa tadi sore." jawab Caca sambil menatap sendu pada Kakaknya.


"Kok bisa ?" Wiwid penasaran.


"Sebenarnya tadi aku udah pulang. Tapi aku mendengar teriakan Papa dan Mama dari luar. Akhirnya aku pergi lagi." tangis Caca mulai pecah.


"Sabar dek. Kira harus kuat ya." Wiwid memluk adik bungsunya itu.


"Aku malu sama Agung Kak. Dia dengar juga pertengkaran Mama Papa." kata Caca.


"Kamu gak usah mikirin itu. Kalo Agung tulus sayang sama kamu, dia pasti gak masalah." Wiwid mengusap punggung Caca lembut.


"Aku takut Kak. Aku takut mereka akan bercerai." kata Caca.


"Kamu jangan mikir jauh kesana. Pokoknya kita harus mencari ketenangan dengan keluar dari rumah ini. Kamu harus kuliah diluar kota. Kakak juga akan cari kerja di kota C." Wiwid mencoba memberikan solusi untuk mereka.


"Iya Kak. Tapi Caca mohon jangan tinggalin Caca ya." kata Caca.


"Iya sayang. Kakak gak akan biarin kamu sendirian disini." Wiwid menghapus airmata Caca.


"Caca sayang sama Kakak." Caca memeluk erat sang kakak.


"Kakak juga Dek. Kakak sayang sama kedua adik Kakak. Juga sama Mama dan Papa." balas Wiwid.


"Semoga Mama Papa bisa baikan ya Kak." kata Caca.


"Kita harus persatukan mereka lagi Dek." kata Wiwid.


"Giman caranya Kak ?" tanya Caca.


"Nantilah kita pikirkan caranya. Yang penting sekarang kita tidak boleh larut dengan masalah kedua orangtua kita. Kita harus tetap bahagia." Wiwid memandang wajah Caca lekat.


Kedua kembali berpelukan dan saling menguatkan. Berharap keluarga mereka akan tetap utuh selamanya.


...***...


Bagi vote atau Bunga 🌹 atau secangkir kopiβ˜• 😁😁


Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kisah cinta Sissy dan Rio.


Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. "Geng Pelangi" juga seru loh, menceritakan kisah persahabatan 4 orang gadis. Kalian juga bisa buka di bio saya ya..


Like πŸ‘ Komen dan Vote ✌✌


ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..


Makasih πŸ™πŸ™πŸ™


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2