
#Hai reader kesayangan othor.. Insha Allah cerita ini akan update 1/2 hari sekali ya. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.
Jangan lupa bagi bunga πΉatau kopi β nya biar semakin semangat buat nulis.. #
Selamat Membaca π π π
...***...
Hari terakhir di Kota F, Wiwid, kedua adiknya dan kekasih mereka berbelanja oleh - oleh sambil menikmati kuliner khas kota itu.
"Kak, Aku mau beli kaos ini ah buat temen aku." kata Caca.
"Ya beli aja. Kan punya uang." kata Rara.
"Ini bagus gak Kak ?" tanya Caca.
"Bagus dek. Yang warna maroon coba." jawab Rara.
"Iya. Aku mau beli kembaran ah. Maroon buat dia, dongker buat aku." kata Caca.
"Pilihin dress buat Mama." kata Wiwid.
"Kakak aja yang pilihin. Atau kak Rara." kata Caca lalu menuju ke bagian kaos.
"Kamu mau beli apa lagi Ca ?" tanya Agung yang mengikuti Caca.
"Beli gantungan kunci buat temen - temen." jawab Caca.
"Bantuin pilih daster buat Ibu aku yuk." pinta Agung.
"Oke. Aku juga mau beliin Nenek daster." Caca menggandeng tangan Agung menuju tempat daster.
Setelah satu jam berbelanja, mereka menuju kasir untuk membayar belanjaan.
"Aku aja yang bayar ini Yang." kata Indra.
"Dengan senang hati Sayang." kata Wiwid sambil bergeser sedikit ke samping.
"Mas bayarin belanjaan aku juga gak ?" tanya Caca.
"Waduh.. Belanjaan kamu banyak banget gitu. Uang aku gak cukup." jawab Agung.
"Syukurin.." ledek Wiwid melihat Caca cemberut.
"Sebagian aku bayarin deh. Secukupnya uang aku ya." Agung coba membujuk kekasihnya itu.
"Makasih Mas." Caca tersenyum pada Agung.
Selesai membayar, mereka langsung menuju mobil untuk pulang kembali ke kota B. Rara dan Fahmi langsung kembali ke kosan mereka berboncengan naik motor.
Agung mengemudi mobil dengan Indra di sebelahnya. Sedangkan para gadis duduk di belakang.
"Mas, mampir minimarket ya." kata Caca.
"Mau ngapain ?" tanya Wiwid.
"Mau beli camilan sama minuman Kak. Pasti laper di jalan." jawab Caca.
"Boleh deh. Kakak juga mau beli camilan." kata Wiwid.
"Yang, nanti nitip beliin kopi ya. Buat Agung juga." Indra memberikan selembar uang seratusan pada Wiwid.
"Oke siap Yang. Sisanya buat aku ya." kata Wiwid yang dijawab anggukan oleh Indra.
Setelah membeli minuman dan camilan, mereka melanjutkan perjalanan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Akhirnya sampai rumah juga." Wiwid keluar mobil dan meregangkan tubuhnya.
"Ca, numpang ke kamar mandi ya." kata Agung.
__ADS_1
"Ayo masuk dulu Mas. Aku bikinin minuman segar dulu." ajak Caca pada Agung dan Indra.
"Mama.. Papa.." Caca memanggil kedua orangtuanya.
"Kalian sudah sampai. Gimana liburannya Sayang ?" Yesa memeluk dan mengusap kepala anak bungsunya.
"Menyenangkan Ma. Aku juga beliin oleh - oleh buat Mama dan Papa." Caca membalasa pelukan Mamanya.
"Aku yang beliin Ma. Bukan dia." protes Wiwid lalu memeluk mamanya.
"Papa mana Ma ?" tanya Caca.
"Ada di kamar." jawab Yesa.
"Tante, boleh numpang ke kamar mandi ?" tanya Agung.
"Boleh dong Gung. Silahkan." jawab Yesa.
"Oh iya Mas. Aku sampai lupa." kata Caca.
"Untung belum ngompol." gerutu Agung.
"Hahaha. Maaf Mas." kata Caca.
Caca meninggalkan Agung dan kembali ke ruang tengah menghampiri orangtuanya.
"Kamu sudah pulang sayang ?" Arman memluk anak bungsu kesayangannya.
"Udah Pa. Papa sehat kan ?" tanya Caca. Arman tampak mengangguk. Dari ketiga anaknya, Caca memang yang paling dekat dan disayang.
"Nanti kita makan malam bareng dulu ya. Ajak Indra juga." kata Yesa pada Agung yang baru keluar dari kamar mandi.
"Iya Tante." jawab Agung lalu kembali ke ruang tamu.
"Bro, nanti disuruh makan malam disini sama Tante." kata Agung.
"Siap." jawab Indra sambil menyenderkan badannya ke kursi.
"Mas, Bang, minum dulu ya biar segar." Caca meletakkan dua gelas sirup jeruk.
Caca lalu duduk di sebelah Agung.
"Aku ijin ke kamar mandi ya." kata Indra. Caca mengangguk.
"Sisa liburan mau kemana ?" tanya Agung sambil memegang tangan Caca.
"Besok mau tidur seharian. Entah kalo lusa." jawab Caca.
"Jalan - jalan lah sama aku." kata Agung.
"Lihat nanti lah Mas. Kan masih capek." kata Caca.
"Iya nanti kalo udah gak capek. Kita nonton." ajak Agung.
"Oke." jawab Caca singkat.
Agung menarik tangan Caca hingga masuk ke dalam pelukannya. Caca pun merebahkan kepalanya di dada Agung.
"Ehem.." Indra berjalan melewati mereka.
"Kok cepet sih Bang ?" protes Agung saat Caca melepaskan pelukan Agung.
"Lah emang mau ngapain di kamar mandi ?" gerutu Indra.
"Ya ngapain kek. Biar bisa mesra - mesraan dulu kita. Hehehe." kata Agung.
"Gak inget di dalam ada Om sama Tante ?" Indra mengingatkan.
"Oh iya ya. Lupa." jawab Agung sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Mereka bertiga mengobrol santai sambil sedikit bercanda.
__ADS_1
"Wiwid kemana sih ?" tanya Indra.
"Palingan Kakak lagi bantuin Mama di dapur." jawab Caca santai.
"Kamu gak ikut bantuin ?" tanya Agung.
"Gak. Biasanya suka diusir sama Kak Wiwid. Males jadinya." jawab Caca.
"Makanya yang bener kalo bantuin jadi gak diusir." kata Indra.
"Kan kalo gak tau harus nanya daripada salah. Tapi banyak nanya malah marah Kak Wiwidnya." kata Caca dengan suara sedih.
"Ya gak taulah kalo gitu." Indra bingung harus komentar apa.
"Gak bakat di dapur aku tuh." keluh Caca pada Agung.
"Bukan gak bakat tapi belum aja. Nanti juga pasti bisa kok." Agung menenangkan Caca.
"Hei.. Makan malam udah siap." kata Wiwid.
"Makan sama Papa kamu juga ?" bisik Indra.
"Iyalah. Kenapa ?" Wiwid balik berbisik.
"Takut sama Papa kamu." balas Indra.
"Tenang. Papa gak akan galak kalo kamu sopan." kata Wiwid.
Mereka pun duduk di meja makan. Arman sudah siap di tempat duudknya di kursi paling ujung. Caca duduk di sebelah Yesa dengan Agung di sebelahnya. Wiwid duduk di seberang mereka berdampingan dengan Indra. Yesa mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya.
"Ayo ambil sendiri makanannya." kata Yesa.
Indra dan Agung bergantian mengambil makanan.
"Gimana liburan kalian ?" tanya Arman.
"Seru Pa. Seneng banget." jawab Caca.
"Kuliah kalian gimana ? Indra ? Agung ?" tanya Arman lagi.
"Baik Om. Saya sedang skripsi." jawab Indra.
"Ooh.. Gak bareng sama Wiwid ya ?" tanya Arman lagi.
"Enggak Om. Saya baru mau mengumpulkan skripsi, tinggal tunggu sidang." jawab Indra dengan suara gemetar. Indra tampak gugup di tanya - tanya oleh Ayah dari kekasihnya itu.
"Kalo kamu Gung ?" Arman menatap Agung yang langsung gugup seketika.
"Alhamdulilah baik Om. Sekarang naik tingkat 2." jawab Agung.
"Oh iya. Kamu seangkatan sama Rara kan ?" tanya Arman.
"Iya Om. Kami seangkatan." jawab Agung sambil menatap sekilas pada Arman.
"Udah ngobrolnya. Ayo lanjutin makannya." Yesa menyela mereka.
"Iya. Silahkan dilanjutkan makannya." kata Arman.
Caca dan Wiwid saling bertukar senyuman melihat reaksi sang papa pada pacar mereka.
...***...
Bagi vote atau Bunga πΉ atau secangkir kopiβ ππ
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kisah cinta Sissy dan Rio.
Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. "Geng Pelangi" juga seru loh, menceritakan kisah persahabatan 4 orang gadis. Kalian juga bisa buka di bio saya ya..
Like π Komen dan Vote ββ
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
__ADS_1
Makasih πππ
Bersambung