
#Hai reader kesayangan othor.. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.
Jangan lupa bagi bunga πΉatau kopi β nya biar semakin semangat buat nulis.. #
Selamat Membaca π
...****************...
"Kak, lihat, ponakan kamu mau lahir. Ayo bangun. Katanya mau bantuin rawat dia." kata Rara pada Wiwid yang masih memejamkan matanya. Air mata menetes dari sudut mata Wiwid. Rara mengusapnya bergantian dengan airmatanya yang ikut turun juga. Yesa yang menatap dari luar ruang rawat juga ikut menitikkan airmata haru.
"Ayo kak. Aku sama baby akan tunggu kakak." bisik Rara lagi.
"Yang, kayaknya udah mau lahir ini. Yuk balik ke ruang bersalin." ajak Rara.
"Ayo. Jalan pelan - pelan aja." Fahmi menuntun Rara dengan perlahan.
"Kami periksa lagi ya Bu." kata Bidan.
Rara hanya mengangguk.
"Wah.. Ini udah bukaan lengkap. Kita mulai ya Bu lahirannya." kata Bidan.
"Ayo Sayang. Kamu pasti kuat." Fahmi memberikan semangat saat Rara mulai mengejan.
"Ayo Bu.. Sedikit lagi. Dorong yang kuat.." Bidan memberikan aba - aba.
Rara terus mengejan hingga akhirnya terdengar suara...
*Oek...Oek...*
"Alhamdulilah anaknya perempuan Bu." kata Bidan samnil mendekatkan sang bayi pada Ibunya.
"Cantik sekali sayang. Kayak kamu." Fahmi mengecup kening sang istri.
"Kami bersihkan dulu bayinya. Setelah ini Bapak busa mengadzani." kata Suster.
"Ibu nya juga akan dibeesihkan dulu Pak. Setelah itu langsung bisa pindah ke ruangan." kata suster lainnya.
"Sayang, aku tunggu di luar dulu ya." pamit Fahmi.
Sampai di luar ruang bersalin Fahmi tak melihat Mama mertuanya maupun Papa mertuanya.
"Pada kemana nih ? Kok sepi ?" gumam Fahmi. Fahmi kembali masuk ke ruangan bayi untuk mengadzani putri kecilnya.
"Gimana Nak ? Anak kamu udah lahir ?" tanya Yesa ketika Fahmi keluar dari ruangan bayi.
"Alhamdulilah Ma. Bayi nya perempuan." jawab Fahmi.
"Wah.. Mama gak sabar pengen lihat." kata Yesa.
"Mama darimana ? Kok tadi Fahmi keluar gak ada ?" tanya Fahmi.
"Oohh.. Itu. Ada berita bahagia. Kak Wiwid udah siuman." jawab Yesa.
__ADS_1
"Alhamdulilah Ma. Kalo Mas Hedi gimana ?" tanya Fahmi lagi.
"Mas Hedi belum sadar. Tapi keadaannya juga stabil." jawab Yesa.
"Semoga Mas Hedi cepat sadar juga ya Ma." kata Fahmi.
"Aamiin. Ya udah, sekarang antar Mama lihat cucu Mama." kata Yesa.
"Ayo Ma." kata Fahmi.
Hari ini Rara dan bayinya sudah diperbolehkan pulang. Sebelum pulang Rara membawa bayinya menemui Wiwid di kamar inapnya.
"Assalamualaikum Ate.." sapa Rara.
"Waalaikumsalam. Hai cantik." Wiwud menyambut keponakannya dengan antusias.
"Nih.. Tante kamu, kakaknya Mama." Rara memperkenalkan Wiwid pada bayinya.
"Uluh.. Anak cantik kau kemana ?" tanya Wiwid pada bayi dalam gendongannya.
"Mau pulang Ate." jawab Rara dengan suara anak kecil.
"Gak mau nemenin Ate disini ? Om Hedi nya belum bisa pulang." kata Wiwid.
Hedi juga sudah sadar sehari setelah Wiwid. Tapi kondisinya masih sangat parah, banyak tulamg yang patah.
"Sekarang kemana Mas Hedi nya ?" tanya Rara.
"Kapan - kapan kita tengokin lagi Kak. Kasihan anak bayi kalo kelamaan di rumah sakit." kata Rara.
"Iya deh. Kalian pulang sana. Kakak masih nungguin Mas Hedi dulu." kata Wiwid.
"Ini siapa sih namanya ? Dari tadi Ate panggil anak bayi mulu." Wiwid menjawili pipi bayi yang masih merah itu.
"Panggil aja Dara." kata Rara.
"Hai Dara. Cepet besar ya. Nanti main sama Kakak Ifa." Wiwid menciumi pipi bayi Dara.
"Sayang, aku udah selesai." Fahmi datang menghampiri mereka.
"Iya Ate. Udah ya Kak. Kami pamit dulu." Rara mengambil bayinya dan mencium pipi kakaknya.
"Iya." kata Wiwid.
"Kakak cepet sembuh ya. Salam buat Mas Hedi." Fahmi mencium tangan Wiwid untuk pamit pulang. Wiiwd hanya mengangguk.
Sepuluh hari kemudian diadakan aqiqah untuk bayi Dara sekalian syukuran kesembuhan Wiwid dan Hedi.
Acara hanya kumpul - kumpul keluarga inti ditambah besan. Selebihnya daging kambing hasil Aqiqah dibagikan di panti asuhan.
"Hari ini kita sudah selesai melaksanakan aqiqah putri pertama kami Oryza Adarafa Putri Kurniawan. Bisa dipanggil Dara." lanjut Fahmi.
"Semoga Dafa menjadi anak yang sehat, Sholeha, pintar, baik dan berbakti pada kedua orangtuanya." lanjut Fahmi.
__ADS_1
"Aamiin." balas yang lain.
"Semoga menjadi anak yang membanggakan kedua orangtua dan keluarga besarnya." Rara ikut menambahkan.
"Alhamdulilah semua bisa berkumpul." kata Arman.
"Iya dong Pa. Momen langka ini. Apalagi ada yang jauh." sindir Rara.
"Udah dibelain datang amsih aja disindir - sindir." gerutu Caca.
"Iya dek. Maaksih ya udah datang. Tapi kok gak sama pacarnya ?" Rara kembali meledek Caca.
"Pacar darimana ? Masih belum ada." balas Caca ketus.
"Mas Jojo ? Udah putus ya ?" Fahmi ikut meledek.
"Apaan sih ? Siapa juga yang oacaran sama dia. Enggak. Orangnya udha mau nikah." kata Caca.
"Wah.. Patah hati nih ceritanya." Wiwid tak mau kalah ikut meledek adik bungsunya.
"Kalian tuh ya senengnya ledekin aku. Mama jangan heran ya kalo lain kali aku gak akan datang ke acara keluarga gara - gara kayak gini." ancam Caca.
"Eh.. Mas Hedi gak ikutan loh ya." Hedi coba membela diri.
"Iih.. Ambekan." ledek Rara.
"Jangan gitu dong sayang. Kakak - kakak kamu tuh cuma ingin kamu segera menikah juga. Udah cukup umur kan ?" Yesa coba menengahi.
"Gak. Caca masih kecil." Arman menyela.
"Tuh.. Dengerin Papa aku. Masih kecil, belum waktunya menikah." Caca langsung memeluk Arman.
"Udah segede gitu masih dibilang kecil Pa ? Badannya aja paling besar dibanding kita." sindir Rara.
"Udah.. Udah.. Kita lagi kumpul bahagia loh. Jangan berantem ah.. " Yesa kembali melerai kedua putrinya.
...****************...
Bagi vote atau Bunga πΉ atau secangkir kopiβ ππ
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kisah cinta Sissy dan Rio.
Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. "Geng Pelangi" juga seru loh, menceritakan kisah persahabatan 4 orang gadis. Kalian juga bisa buka di bio saya ya..
Semuanya sudah tamat ya !!
Like π Komen dan Vote ββ
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
Makasih πππ
Bersambung
__ADS_1