Tiga Dara

Tiga Dara
#119 Pertemuan


__ADS_3

#Hai reader kesayangan othor.. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.


Jangan lupa bagi bunga 🌹atau kopi β˜• nya biar semakin semangat buat nulis.. #


Selamat Membaca πŸ“–


...****************...


"Akhirnya sampai juga." Caca turun dari bis dan merenggangkan kedua tangannya.


Caca bergegas menaiki taksi yang ada di depan pool bis itu menuju ke rumah orangtuanya.


"Assalamualaikum." Caca memberi salam.


Tak ada jawaban dan rumah terlihat sepi.


"Loh Nak Caca.. Nyari Mama nya ya ?" sapa tetangga depan rumah.


"Iya Bu. Kok kayak sepi ya. Mama sama Papa gak ada ya Bu ?" tanya Caca.


"Tadi keluar joging kayaknya. Mungkin bentar lagi pulang. Mau nunggu di rumah Ibu ?" Tetangga yang biasa dipanggil Bu Ari itu menawarkan.


"Gak usah Bu. Makasih. Saya tunggu disini aja." balas Caca dengan sopan.


"Nak Caca ini katanya kerja di Jepang ?" tanya Bu Ari mulai kepo.


"Iya Bu. Ini baru pulang. Kemungkinan kan kembali menetap di Indonesia aja." jawab Caca.


"Syukurlah kalo gitu. Kasihan Mamanya kalo udah cerita tentang Nak Caca suka sambil nangis." kata Bu Ari.


"Oh gitu Bu. Mungkin kangen." balas Caca.


"Iya Nak. Kan lama dan jauh perginya." lanjut Bu Ari.


"Ya namanya juga bekerja Bu. Mumpung ada kesempatan. Tapi sekarang juga kan udah pulang." Kata Caca lagi. Caca sebenarnya malas berbasa - basi seperti ini. Tapi kalo tak ditanggapi juga gak sopan. Caca akhirnya membuka koper berisi oleh - oleh dan mengeluarkan sepaket buat diberikan ke tetangga nya yang super kepo itu.


"Bu, ini ada sedikit oleh - oleh dari Jepang." Caca menyodorkan kanting berisi makanan dan cindera mata dari jepang.


"Wah.. Makasih ya Nak. Repot - repot segala." Bu Ari menerima oleh - oleh itu dengan sumringah.


"Cuma sedikit Bu." balas Caca.


"Nak Caca, Ibu tinggal ke dalam dulu ya. Mau bikinin Bapak kopi dulu." pamit Bu Ari.


"Iya Bu." balas Caca singkat.


Akhirnya Caca bisa bernafas lega selepas Bu Ari pergi.


"Giliran udah dikasih oleh - oleh aja langsung balik. Kenapa gak dari tadi aja sih !" gerutu Caca lirih.


Caca menunggu Yesa dan Arman yang belum kembali dengan menyandarkan tubuhnya di sofa teras. Rasa kantuk akibat jetlag mulai menyerangnya hingga akhirnya terdengar suara pagar dibuka.


"Caca...Ini kamu Nak ?" teriak Yesa sambil berlari menghampiri anaknya.


"Mama... Papa... Surprise.." Caca merentangkan kedua tangannya memeluk Mama dan Papa nya.


"Kamu kok gak bilang kalo mau pulang ? Kamu sehat dek ?" Yesa menciumi wajah anak bungsunya.

__ADS_1


"Alhamdulilah sehat Ma. Namanya juga kejutan, masa harus bilang dulu." Caca balas memeluk sang Mama.


"Kamu lagi libur ?" tanya Yesa.


"Gak Ma. Caca akan kembali tinggal di Indonesia." jawab Caca.


"Alhamdulilah kalo kamu memutuskan begitu. Berarti permintaan Mama juga dipenuhi ?" tanya Yesa lagi.


"Hhmm.. Gimana ya." Caca tampak berpikir.


"Udah.. Udah.. Mau sampai kapan di luar kayak gini. Kasihan Caca masih capek Ma." Arman berkata.


"Oh iya. Mama sampai lupa. Yuk, kita masuk. Lanjutin ngobrol di dalam." Yesa membuka pintu rumah.


Caca mengikuti masuk ke dalam rumah. Arman ikut membantu membawakan koper Caca.


"Jadi gimana dek ?" tanya Yesa begitu mereka sampai di dalam.


"Ma, Boleh gak aku istirahat dulu. Masih jetlag nih." pinta Caca.


"Tapi Mama penasaran pengin tau keputusan kamu." kata Yesa.


"Oke deh Caca jawab. Caca akan menerima perjodohan ini." jawaban Caca membuat Yesa tersenyum.


"Alhamdulilah. Mama atur pertemuan kamu dengan anak tante Indah ya." Kata Yesa dengan antusias.


"Ma, Caca beneran capek ini. Bisa gak kita bahasnya nanti lagi." Caca melirik pada sang Papa untuk meminta bantuan.


"Ma.. Udah biarin Caca istirahat dulu. Kan masih banyak waktu." Arman mengingatkan.


"Iya deh.. Kamu istirahat aja. Kamar kamu juga selalu mama bersihkan kok." Yesa akhirnya mengalah.


"Huft.. Akhirnya bisa meluruskan tubuh lagi. Capeknya." Caca berkata lirih. Tak butuh waktu lama, Caca sudah mengarungi alam mimpi.


Seminggu kemudian, tibalah waktunya Caca dipertemukan dengan tante Indah dan anaknya yang bernama Bima. Yesa sempat memperlihatkan foto Bima yang terlihat cool dengan kacamatanya. Meski penampilannya modis, tapi terlihat sekali kalau Bima seorang kutu buku.


Yesa dan Caca sudah datang ke kafe tempat pertemuan sejak setengah jam yang lalu. Tapi Indah dan Bima belum datang juga.


"Ma, kok mereka lama banget sih ?" tanya Caca.


"Sepertinya masih di jalan sayang. Mungkin terjebak macet. Kamu sabar ya." Yesa memgusap lembut lengan putri bungsunya itu.


Sejam berlalu, bahkan Caca sudah memesan minuman lagi ditambah kentang goreng sebagai pengganjal perutnya. Caca berselancar di media sosial untuk menghabiskan waktunya. Hingga tiba - tiba sang Mama berseru sambil berdiri.


"Nah.. Itu mereka datang." kata Yesa.


Caca mendongak menatap ke arah pintu masuk kafe. Terlihat seorang wanita paruh baya dengan dandanan necis dan seorang lelaki gagah dengan kemeja rapih dan kacamatanya.


"Maaf ya Jeng kami telat. Jadi lama nungguinnya." Sapa Indah.


"Gak apa Jeng. Kami juga gak ada acara lain kok." balas Yesa yang langsing cipika cipiki dengan sahabatnya itu. Tak lupa Bima juga mencium tangan Yesa.


"Hai Caca. Kamu cantik banget." Indah menyapa Caca.


"Makasih Tante. Tante juga cantik." balas Caca sambil mencium punggung tangan calon mertuanya itu. Cie.. Caca udah nganggap Indah calon mertuanya. Entah bagaimana dengan si kutu buku Bima.


"Kenalin ini Bima anak tante." Indah menatap pada Bima yang berdiri di sebelahnya.

__ADS_1


"Halo.. Saya Bima. Salam kenal." kata pemilik suara bariton itu.


"Hai. Aku Caca." balas Caca singkat.


"Ayo duduk. Kita pesen makanan dulu." ajak Yesa.


Indah duduk di sebelah Yesa dan Bima duduk di sebelah Caca. Bima terlihat kaku dan lebih banyak diam. Selama makan siang, hanya terdengar obrolan seru dari Yesa dan Indah. Sedangkan Caca dan Bima kompak sibuk dengan ponselnya. Sesekali Caca mencuri pandang pada Bima. Meski pakai kemeja besar, celana kain dan memakai kacamata tapi Bima terlihat cukup ganteng.


"Sayang, kalian kok malah sibuk main ponsel sih ? Ngobrol dong." kata Yesa.


Caca hanya menatap sang Mama tanpa membalas perkataannya. Dia menyimpan ponselnya dan lanjut menikmati makanannya.


"Kamu suka spaghetti ya ?" tanya Bima.


"Lumayan. Aku gak terlalu pilih - pilih makanan." jawab Caca.


"Mau gak saya ajak makan di steak house ?" tanya Bima lagi.


"Boleh. Kapan ?" Caca balik bertanya.


"Kalo besok bisa ? Soalnya saya cuma 5 hari disini." jawab Caca..


"Bisa. Aku kan pengangguran, jadi bebas. Gimana kalo aku ajak makan makanan khas sini ?" tanya Caca lagi.


"Boleh deh. Saya mau. Besok saya jemput di rumah ya." kata Bima.


"Emang kamu tau rumahku ?" Caca kembali bertanya.


"Tau. Kan waktu itu kami main ke rumah kamu, tapi saya sedikit lupa jalannya. Boleh minta nomer ponsel kamu ?" Pinta Bima.


Caca mengambil pinsel Bima dan menuliskan nomer ponselnya. Tak lupa Caca menghubungi ponselnya sendiri dari ponsel Bima.


"Nanti saya kirim sharelock pas di rumah." Caca mengembalikan ponsep Bima.


"Oke." balas Bima.


Tanpa mereka sadari ada dua oasang mata yang tersenyum melihat interaksi keduanya.


"Jeng, sepertinya kita jadi besanan." bisik Indah.


"Iya Jeng. Akhirnya ya.." Yesa balas berbisik.


...****************...


Bagi vote atau Bunga 🌹 atau secangkir kopiβ˜• 😁😁


Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kisah cinta Sissy dan Rio.


Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. "Geng Pelangi" juga seru loh, menceritakan kisah persahabatan 4 orang gadis. Kalian juga bisa buka di bio saya ya..


Semuanya sudah tamat ya !!


Like πŸ‘ Komen dan Vote ✌✌


ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..


Makasih πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2