Tiga Dara

Tiga Dara
#72 Malaikat kecilku


__ADS_3

#Hai reader kesayangan othor.. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.


Jangan lupa bagi bunga 🌹atau kopi β˜• nya biar semakin semangat buat nulis.. #


Selamat Membaca πŸ“–


...****************...


Suasana di rumah Hedi dan Wiwid cukup ramai. Sejak pagi Wiwid sudah merasakan kontraksi pada perutnya. Hedi juga mengambil cuti agar bisa siaga menemani istrinya melahirkan.


"Sayang, sakit lagi ?" tanya Hedi.


"Iya Mas." jawab Wiwid sambil menggigit bibirnya.


"Apa kita ke rumah sakit sekarang aja ?" usul Hedi.


"Bentar Mas. Aku gak kuat jalan." Wiwid berpegangan erat pada tepi sofa.


"Bu, ini Wiwid kontraksinya sudah mulai sering. Apa kita ke rumah sakit sekarang ?" tanya Hedi pada Marini.


"Iya Nak. Kita ke rumah sakit sekarang aja, takutnya lahiran di rumah lagi." jawab Marini.


Hedi segera membantu Wiwid untuk masuk ke mobil. Marini mengikuti di belakangnya dengan membawa tas berisi pakaian Wiwid dan baju mereka yang sudah disiapkan sebelumnya.


"Biar aku yang nyupir Di." kata Herfan yang mengantarkan Chika setelah menjemputnya di sekolah.


"Iya Mas. Makasih." balas Hedi.


"Bunda mau melahirkan ya Om ?" tanya Chika.


"Iya Sayang. Chika tunggu di rumah aja ya sama Tante Fitri dan Kak Fanny." Fitri yang menjawab. Chika hanya mengangguk.


Tak butuh waktu lama, mereka sampai di rumah sakit. Hedi bergegas membantu sang istri turin dari mobil.


"Tolong sus.. Istri saya mau melahirkan." kata Hedi pada perawat.


"Silahkan dojter urus dulu pendaftarannya. Biar saya bantu istrinya." kata Perawat itu.


Hedi langsung menuju tempat pendaftaran. Sedangkan Wiwid sudah duduk menunggu di kursi roda yang dibawa oleh perawat tadi.


"Udah Nak ?" tanya Marini.


"Sudah Bu. Kita langsung ke kamar." jawab Hedi.


"Kamu jangan lupa kabari Mas mu, biar nyusul ke kamar." Marini mengingatkan.


"Iya Bu." balas Hedi.


Selain menghubungi Herfan, Hedi juga menghubungi Ibu mertuanya.


"Hedi, Gimana Wiwid ?" tanya Yesa yang baru tiba di rumah sakit. Hedi menjemput kedua mertuanya di lobi rumah sakit. Mereka langsung menuju ke kamar persalinan.


"Masih nunggu pembukaan lengkap Ma. Tadi masih bukaan 7." jawab Hedi.


"Oh.. Syukurlah Mama tidak ketinggalan." kata Yesa.

__ADS_1


"Ketinggalan... Kayak mau naik pesawat aja." ledek Arman.


"Iih.. Papa... Komen aja deh." protes Yesa. Arman hanya terkekeh melihatnya. Hubungan Arman dan Yesa memang sudah mulai membaik. Yesa pun sudah berhenti dari pekerjaannya dan lebih sering mendampingi Arman ke luar kota.


"Kakak... Gimana kondisi kamu Sayang ?" Yesa langsung memeluk putri sulungnya.


"Lumayan Ma. Kalo pas kontraksi sakit banget." keluh Wiwid.


"Sabar ya Kak. Pasti nanti sakitnya hilang saat bayinya sudah lahir." Yesa mengelap keringat di dahi Wiwid.


*Pyur.. * terdengar suara air mengalir dari kaki Wiwid.


"Ma.. Ini apa ?" tanya Wiwid panik.


"Ketuban kamu pecah sayang. Hedi, tolong panggilkan dokter." kata Yesa. Marini pun ikut menenangkan Wiwid yang mulai merasakan sakit lagi.


"Tolong tenang dulu ya Bu. Saya periksa lagi." kata Nina, dokter kandungan.


"Ini pembukaannya udah lengkap. Mari kita mulai prosesnya. Tolong suami nya saja yang mendampingi." kata dokter Nina.


Yesa dan Marini segera keluar dari ruang bersalin. Keduanya menunggu dengan cemas sambil berpegangan tangan.


Arman hanya ikut mengusap lengan sang istri.


"Oek.. Oek..." terdengar suara tangisan kencang dari dalam ruang bersalin.


"Alhamdulilah cucu kita sudah lahir jeng." Marini memeluk Yesa.


"Alhamdulilah. Akhirnya saya jadi Oma juga." kata Yesa.


Pintu ruang bersalin terbuka, Hedi keluar dari ruangan dengan mata merah dan sembab.


"Alhamdulilah anak kami sudah lahir, perempuan." Hedi menginfokan.


"Selamat ya Nak. Akhirnya kamu jadi Ayah lagi." Marini memeluk putra bungsunya.


"Selamat ya Hedi. Anak dan Cucu Papa sehat kan ?" tanya Arman.


"Alhamdulilah sehat Pa. Wiwid masih dibersihkan. Begitu juga bayinya." jawab Hedi.


"Selamat ya Hedi." Yesa gantian memeluk menantunya.


"dokter Hedi, silahkan bayinya di adzani dulu." kata perawat.


Hedi masuk ke dalam untuk mengadzani anaknya. Diangkatnya bayi mungil itu perlahan lalu Hedi mengumandangkan adzan di telinga kanannya dan iqomah di telinga kirinya.


"Selamat datang Cantik. Kamu harus menjadi kebanggaan Ayah, Bunda dan Kak Chika." Hedi berbicara lirih pada bayinya.


Setengah jam kemudian Wiwid sudah dipindahkan ke ruang perawatan.


"Selamat ya Sayang. Kamu sudah menjafi Ibu sekarang." Yesa mencium kening Wiwid.


"Kan Wiwid emang idah jadi Ibu. Ada Kakak Chika." balas Wiwid.


"Iya. Berarti kedua kalinya jadi Ibu." ralat Yesa yang ditanggapi dengan senyuman oleh Wiwid.

__ADS_1


"Gimana rasanya Nak ?" tanya Marini.


"Masih gak percaya Bu, Wiwid sudah melahirkan anak yang sehat dan lengkap." jawab Wiwid.


"Makasih Ya Ma udah lahirin dan besarkan aku. Makasih juga buat Ibu sudah melahirkan dan membesarkan Mas Hedi. Wiwid jadi tahu perjuangan yang kalian lakukan." Wiwid menatap Ibu dan mertuanya bergantian. Saat ini Arman sedang menemani Hedi ke kantin.


"Sama - sama Sayang. Yang sabar ya menghadapi anak - anak kamu." Yesa membelai lembut rambut Wiwid.


"Iya Nak. Selamat menikmati menjadi seorang ibu." Marini tak mau kalah mencium kening menantunya.


"Alhamdulilah. Ini kamu lahiran normal jadi akan lebih cepat pemulihannya." kata Marini.


"Iya Sayang. Biasanya sehari udah bisa pulang." Yesa menambahkan.


"Assalamualaikum." perawat masuk sambil mendorong troley bayi.


"Waalaikumsalam. Masya Allah. Cantiknya cucu Nenek." Marini menyambut Cucu ketiganya.


"Wah.. Cantik banget bayi kamu Kak." puji Yesa.


"Ibu.. Silahkan disusui dulu bayinya." perawat meletakkan bayi di gendongan Wiwid.


"Makasih Sus." balas Wiwid.


"Sini Mama Bantuin. Pelan - pelan aja." Yesa membantu membuka baju Wiwid dan menempatkan sang bayi di dada Wiwid. Sang Bayi pun berusaha mencari sendiri sumber makanannya. Tak butuh waktu lama, dia berhasil menemukan dan menghisapnya.


"Auw.. Sakit Ma. " keluh Wiwid.


"Iya sayang. Lama - lama juga biasa kok." kata Yesa.


"Ibu cuma pesan, susui anak kamu minimal 6 bulan. Syukur - syukur kalo bisa sampai 2 tahun." kata Marini.


"Insha Allah Bu." jawab Wiwid.


Wiwid terus memandangi mahluk mungil yang sedang menyusu padanya sambil sesekali meringis menahan sakit.


"Aku masih gak nyangka bisa memiliki kamu sayang. Alhamdulilah." Wiwid mengusap pipi bayi nya dengan lembut.


...****************...


Bagi vote atau Bunga 🌹 atau secangkir kopiβ˜• 😁😁


Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kisah cinta Sissy dan Rio.


Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. "Geng Pelangi" juga seru loh, menceritakan kisah persahabatan 4 orang gadis. Kalian juga bisa buka di bio saya ya..


Semuanya sudah tamat ya !!


Like πŸ‘ Komen dan Vote ✌✌


ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..


Makasih πŸ™πŸ™πŸ™


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2