
#Hai reader kesayangan othor.. Insha Allah cerita ini akan update 1/2 hari sekali ya. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.
Jangan lupa bagi bunga πΉatau kopi β nya biar semakin semangat buat nulis.. #
Selamat Membaca πππ
...***...
Masih tersisa 2 minggu menjelang keberangkatan Caca ke kota D. Caca memilih menghabiskan waktu dengan kedua orang tua, nenek dan kakaknya.
"Sayang, Mama temani kamu belanja kebutuhan yang kurang ya." kata Yesa.
"Iya Ma. Aku cuma kurang pakaian dalam aja." kata Caca.
"Kamu gak beli perlengkapan buat dikosan ?" tanya Yesa.
"Gak Ma. Nanti aja aku beli disana. Lagian untuk sementara aku tinggal di rumah Paman dulu kan." jawab Caca.
"Iya juga sih. Nanti kan Mama ikut nganter ke tempat Paman ya." kata Yesa.
"Iya Ma." kata Caca.
Caca segera menuju kamarnya untuk berganti baju dan mengambil tas. Kali ini Caca ke Mall mengajak sang nenek juga.
"Kita mau kemana dulu Ca ?" tanya Yesa.
"Langsung ke toko langganan aja Ma. Aku mau beli pakaian dalam." jawab Caca.
Yesa lalu mendorong kursi roda Ibunya menuju ke toko yang dimaksud.
"Ma, Aku beli baju tidurnya sekalian ya, Biar yang lama gak usah di bawa." kata Caca.
"Iya beli aja. Kamu pilih - pilih sendiri ya. Pilih yang celana panjang atau selutut. Ingat, disana ada sepupu laki - laki." Yesa mengingatkan.
"Siap Ma." Caca lalu melesat menuju ke tempat baju tidur.
"Sa, Mamih beliin daster dong. Daster Mamih banyak yang sudah sobek." kata Nenek Sari.
"Iya Mih. Nanti Yesa pilihin. Ini Yesa lagi cari c* buat Mamih." kata Yesa.
"Ma, aku udah selesai." Caca datang menghampiri dengan tas belanja berisi penuh pakaian.
"Bentar Ca. Mama masih milihin daster buat Nenek." kata Yesa.
"Caca bantuin ya." kata Caca.
Setelah mendapatkan semuanya, mereka menuju ke kasir untuk membayar.
"Totalnya semua 2.320.000." kata sang kasir.
"Gila.. Belanja segitu cuma daleman aja." gumam Caca.
"Kan Mama sekalian beli buat Nenek, Kak Wiwid dan Kak Rara, juga buat Bi Kokom." kata Yesa.
"Pantesan habis banyak." kata Caca.
"Kamu ajak Nenek keluar gih, biar gak pengap." kata Yesa.
"Iya Ma. Aku tunggu di luar ya." Caca langsung mendorong kursi roda sang Nenek keluar dari toko.
"Caca sayang.." panggil Sari.
"Iya Nek." Caca berjongkok mendekatkan wajahnya pada Sari.
"Nenek minta kamu bisa jaga diri saat di kota D. Gak bokeh ngerepotin Paman sama Tante. Bantu mereka sebisanya." nasihat Sari.
"Iya Nek. Caca akan berusaha mandiri." kata Caca.
__ADS_1
"Ingat. Disana jangan berlaku seperti di rumah. Patuh sama Paman dan Tante ya. Dan jangan terlibat pergaulan bebas, harus pintar - pintar pilih teman." Sari mengusap kepala Caca lembut.
"Iya Nek. Caca akan ingat nasehat Nenek." kata Caca sambil tersenyum pada sang Nenek.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
2 minggu kemudian Caca bersiap berangkat ke kota D ditemani sang mama.
"Ma, kenapa papa gak ikut nganter sih ?" tanya Caca.
"Kamu kayak gak tahu papa kamu aja. Papa tuh selalu sibuk sama kerjaannya." jawab Yesa.
"Kak Wiwid juga kenapa gak bisa nganter sih ?" keluh Caca lagi.
"Kan Kakak baru pindah kerjaan Ca. Jadi masih penyesuaian." kata Yesa.
"Iya juga ya." kata Caca.
"Udah gak usah dipikirin, kan ada mama sama Nenek yang nemenin." Yesa mengusap kepala Caca lembut.
Caca dan Yesa naik mobil pribadi dengan sopir.
"Mih, mamih kuat kan ?" tanya Yesa sebelum mereka berangkat.
"Kuat Sa. Kita Nanti Mama akan tidur sepanjang perjalanan." jawab Sari sambil tersenyum.
"Berangkat sekarang ya Pak." kata Yesa pada sopir. Caca duduk di bangku belakang bersama Bi Kokom. Sedangkan Yesa dan Sari duduk di bangku tengah.
Perjalanan menuju kota D menempuh waktu 5 jam. Mereka istirahat sekali di rest area sekalian mengisi bensin.
"Ca.. Bangun.. Udah sampai." Yesa mengguncang bahu si bungsu.
"Hoam... Akhirnya sampai juga." Caca merentangkan tangannya.
"Aw.. Non.." Bi Kokom terkena tangan Caca.
"Maaf Bi. Gak sengaja." Caca tersenyum lebar.
Caca lalu keluar dari mobil dan mengikuti Yesa masuk ke pekarangan rumah Paman.
"Assalamualaikum." Yesa memberi salam.
"Waalaikumsalam." Jawab Dian, tantenya, yang membukakan pintu.
"Yesa, Mamih.." Dian memeluk Yesa dan mencium tangan ibu mertuanya.
"Apa kabar Kak ?" tanya Yesa basa - basi.
"Alhamdulilah baik. Kalian cuma berempat ?" tanya Dian.
"Iya. Tambah pak sopir jadi berlima." jawab Yesa.
"Ayo masuk dulu. Aku panggilkan Surya." kata Dian.
Yesa masuk ke dalam rumah diikuti Caca dan Bi Kokom yang mendorong kursi roda nenek Sari.
"Mih, Sehat ?" Surya keluar dari dalam rumah.
"Alhamdulilah Ya. Kamu gimana ?" tanya Sari sambil memeluk anaknya.
"Alhamdulilah Mih. Yesa sama Caca gimana kabarnya ? Bi kokom juga ?" Surya balik bertanya.
"Kami semua sehat. Ada salam dari Kak Arman." jawab Yesa.
"Ya, Mamih mau ikut ke kamar mandi." kata Sari.
"Boleh Mih. Aku antar ya." kata Surya yang langsung membantu Sari berdiri.
__ADS_1
Surya dengan telaten memapah sang Ibu yang berjalan tertatih.
"Sa, minum dulu." Dian datang dengan membawa 5 cangkir minuman hangat.
"Makasih Kak." balas Yesa.
"Bi, minta tolong ini kasihkan pak sopir ya. Sekalian suruh duduk di teras." kata Dian.
"Iya Non." Bi Kokom langsung mengambil cangkir dan membawanya ke teras.
"Kalian mau langsung ke kamar ?" tanya Dian.
"Nanti dulu deh Kak. Kita rehat dulu bentar." kata Yesa.
"Iya deh." Dian lalu ikut duduk di samping Yesa. Setelah dari kamar mandi, Surya membawa sang Ibu ke kamar.
"Mih, Istirahat ke kamar ya." kata Surya.
"Iya Ya. Mamih capek." Sari menurut diajak ke kamar.
"Maaf ya Mih. Kamarnya sempit." kata Surya.
"Gak apa Ya. Ini Mamih bareng sama Yesa dan Caca ?" tanya Sari.
"Gak Mih. Ini kamar tamu. Yesa sama Caca tidur di kamar yang sudah Surya siapin buat Caca di dekat dapur." jawab Surya.
"Ooh.. Mamih istirahat dulu ya." kata Sari yang langsung berbaring di ranjang.
"Iya Mih. Nanti Surya panggilin Bi Kokom buat nemenin Mamih." Kata Surya lalu keluar dari kamar.
"Asik bener ngobrolnya." Surya tiba - tiba masuk ke ruang tamu mengagetkan Yesa dan Dian yang asyik ngobrol.
"Kakak.. Bikin kaget aja." protes Yesa.
"Loh.. Mamih mana ?" tanya Dian.
"Mamih langsung ke kamar, istirahat. Bi Kokom, temenin Mamih di kamar, yang deket ruang TV." kata Surya. Bi kokom mengangguk dan langsung membawa tas Sari dan tasnya ke kamar.
"Kita juga mau istirahat deh." kata Yesa.
"Kamar kalian di belakang, deket dapur ya. Nanti akan jadi kamar Caca juga." kata Surya.
"Ooh.. Oke." Yesa mengajak Caca menuju kamar.
Mereka menarik koper menuju ke kamar.
"Kamarnya kecil Ma." protes Caca.
"Sstt.. Jangan banyak protes. Nikmatin aja dulu. Kalo udah mulai kuliah, kamu bisa cari kost." Yesa coba menguatkan Caca.
"Buset.. Nih kamar udah kecil, deket dapur lagi. Tega banget sama anak aku." gerutu Yesa dalam hati.
...***...
Bagi vote atau Bunga πΉ atau secangkir kopiβ ππ
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kisah cinta Sissy dan Rio.
Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. "Geng Pelangi" juga seru loh, menceritakan kisah persahabatan 4 orang gadis. Kalian juga bisa buka di bio saya ya..
Like π Komen dan Vote ββ
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
Makasih πππ
Bersambung
__ADS_1