
#Hai reader kesayangan othor.. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.
Jangan lupa bagi bunga πΉatau kopi β nya biar semakin semangat buat nulis.. #
Selamat Membaca π
...****************...
Hedi, Chika dan Wiwid bergandengan tangan menuju kamar hotel mereka. Ya kamar mereka. Untuk malam ini mereka akan tidur bertiga, karena menurut Nenek Sari, kalo rangkaian acara, termasuk resepsi belum dilaksanakan, pamali untuk 'belah duren'. Apalagi Wiwid tau betul suaminya sudah lama menduda. Pasti na*** nya akan mudah terpancing saat berduaan dengan kekasih halalnya.
"Yah.. Kamarnya besar sekali. Chika suka.." Chika langsung berlarian keliling kamar.
"Iya Sayang. Ayah sengaja pilih kamar yang luas dan nyaman biar kamu senang." kata Hedi.
"Chika senang banget kayaknya." Wiwid tersenyum memperhatikan anak sambungnya yang masih berlarian.
"Iya. Biarin aja." Hedi tiba - tiba memeluk Wiwid dari belakang.
"Mas..." Wiwid memukul lengan Hedi yang melingkar di perutnya.
"Kita akan disini sampai lusa sebelum kita berangkat bulan madu." Hedi berbisik lembut di telinga Wiwid.
"Hhmm.. Iya. Lepasin dong Mas. Kan malu kalo dilihat Chika." kata Wiwid.
"Kenapa harus malu. Kita kan sudah resmi suami istri. Lagian anaknya juga lagi asyik sendiri. Wiwid mengarahkan pandangannya pada Chika yang sedang lompat - lompat diatas ranjang.
"Ayah... Bunda... Ayo sini." panggil Chika.
"Sayang.. Jangan tinggi - tinggi lompatnya, nanti jatuh loh." Hedi mengingatkan.
"Gak kok Yah." Chika tidak menhentikan lompatannya.
"Udah yuk sayang. Kita kan mau makan dulu." Wiwid mendekati Chika.
"Iya Bun. Aku udah laper banget." Chika turun dari ranjang dan berjalan menuju Wiwid.
"Mau makan di kamar atau ke bawah ?" tanya Hedi.
"Di kamar aja Yah. Aku seneng disini." jawab Chika.
"Mau makan apa Sayang ?" tanya Hedi lagi.
"Mas, pesenin sop buntut aja buat Chika. Kalo aku, mau sate ayam." Wiwid yang menjawab.
"Siap Nyonya. Sekalian aku oesenin camilannya juga." kata Hedi yang dibalas anggukan oleh Wiwid.
Sambil menunggu makanan datang, Wiwid membantu Chika berganti pakaian. Tak lupa dirinya juga. Setelah itu mereka bersantai di sofa menonton tv. Tepatnya Chika yang nonton tv, sedangkan sepasang pengantin baru itu saling berpelukan manja.
"Yang.. Gak nyangka deh akhirnya aku bisa menikahi kamu." kata Hedi.
"Iya Mas. Aku juga gak nyangka kita bisa secepat ini menuju ke pernikahan. Waktinya itu singkat banget, cuma beberapa bulan kenal langsung minta ke orangtuaku, lalu lamaran akhirnya nikah deh." Wiwid menatap lekat sang suami.
"Hhmmm.. Niat baik itu pasti akan dimudahkan." Heri mengecup sekilas pipi Wiwid.
"Mas.. Ada Chika." bisik Wiwid.
"Gak apa. Dia juga lagi fokus lihat tv." Hedi tersenyum genit sambil tangannya mulai mengusap lengan Wiwid.
Wiwid yang mendapat sentuhan Hedi pun hanya bisa menikmati. Mereka masih mengobrol ringan sambil saling memeluk. Wiwid bersandar di bahu Hedi yang sesekali menciumi rambut indah Wiwid yang hitam terurai. Seakan dunia hanya milik berdua.
__ADS_1
*ting.. tong..* Suara bel kamar membuyarkan keintiman sepasang oengantin baru itu.
"Makanan datang Mas." kata Wiwid sambil menegakkan tubuhnya.
"Bentar aku bukain dulu pintunya." Hedi bangkit menuju pintu.
"Asyik... Makanan datang.." Chika berteriak riang.
"Mas.. Banyak banget pesen makanannya ? Siapa yang bakal habisin ?" Wiwid kaget melihat banyaknya makanan yang dipesan Hedi.
"Ya kita lah. Kan bisa disimpan buat nanti juga." kata Hedi.
"Okelah." balas Wiwid.
Mereka bertiga makan dengan lahap. Tak terasa semua makanan hampir habis, hanya menyisakan sepiring kentang goreng dan lumpia semarang.
"Ini buat camilan nanti malam atau buat besok aja ya. Udah penuh banget perut Bunda." kata Wiwid.
"Iya Bun. Chika juga udah kenyang." timpal Chika.
"Oke deh. Biar Ayah simpan di microwave ya." kata Hedi.
"Biar sama aku aja Mas." Wiwid henfak mengambil piring itu.
"Gak usah. Kamu temani Chika istirahat aja." Hedi bergegas mengambil piring menuju ke microwave. Wiwid tersenyum bahagia mendapat perlakuan istimewa dari kekasih halalnya.
Pagi harinya Hedi, Wiwid dan Chika bersiap untuk sarapan di resto hotel.
"Wah.. Pengantin baru udah seger aja." goda Herfan yang juga sedang sarapan. Keluarga Hedi memang sengaja menginap di hotel yang sama agar memudahkan untuk acara resepsi hari ini.
"Iyalah. Kan harus isi bensin dulu buat resepsi nanti sore." jawab Hedi.
"Belum bos. Kan ada tuan putri." jawab Hedi.
"Oh iya. Lupa gue." balas Herfan.
Wiwid sudah kembali ke meja mereka dengan membawa 2 piring bersama Chika.
"Mas, mau aku ambilin apa ?" tanya Wiwid.
"Udah biar aku ambil sendiri. Kamu makan aja sama Chika." Hedi langsung bangkit menuju stand makanan.
Sore hari, Wiwid dan Hedi sudah bersiap masuk ke tempat resepsi. Mereka berbaris rapi siap memasuki ruang resepsi bersama keluarga inti. Wiwid dan Hedi di barisan paling depan bersama Chika di tengah - tengah mereka. Berturut - turut di belakang mereka berbaris Marini dan Yesa. Sandi dan Arman berdiri di belakang para ibu itu. Lalu disusul oleh Herfan dengan istrinya dan barisan terakhir ada Rara dan Caca.
Hedi dan Wiwid langsung menempati kursi pelaminan diikuti para orang tua di tempat masing - masing.
(Source ~ google)
Keduanya tersenyum bahagia saat menerima ucapan selamat dari para tamu undangan.
"Selamat Widya, Pak dokter." Bu Elly, pemilik yayasan tempat Widya bekerja turut hadir untuk mengucapkan selamat.
"Makasih Bu. Ini semua berkat ibu loh.. Kalo ibu gak menunjuk Widya untuk menangani Chika, mungkin kami tidak menikah." kata Hedi.
"Ah.. Pak dokter bisa aja. Itu karena kalian memang berjodoh. Saya hanya perantara saja." Bu Elly tersenyum.
"Makasih ya Bu." Widya memeluk atasannya itu.
__ADS_1
"Semoga Sakinah Mawardah Warohmah dan cepat diberikan momongan." Bu Elly mendoakan dengan tulus.
"Aamiin." Hedi dan Wiwid kompak mengaminkan.
Hingga dua jam kedepan keduanya masih menerima ucalan selamat dari tamu.
"Capek Yang ?" tanya Hedi saat sudah tak ada tamu yang menghampiri mereka. Semua tamu sedang menikmati makanan sambil bercengkrama.
"Pegel banget Mas." Wiwid memijat betisnya pelan.
"Sabar ya bentar lagi juga selesai. Kita makan dulu aja yuk." Hedi menuntun Wiwid untuk turun dari pelaminan menuju ke tempat makan khusus yang disediakan untuk mereka.
"Ma, Pa, Ibu, Om.. Ayo makan dulu." ajak Wiwid kepada orangtua dna mertuanya.
Keempat orang itu mengikuti kedua mempelai turun dari pelaminan.
"Kamu mau makan apa ?" tanya Hedi.
"Makan yang ringan aja, Jangan nasi." jawab Wiwid. Hedi lalu memanggil salah satu saudaranya untuk diambil siomay dan zupa soup. Tak lama makanan yang mereka minta pun tiba. Hedi dan Wiwid menyantapnya dengan lahap.
Sesekali Hedi dan Wiwid mentambut tamu undangan yang datang terlambat.
Hingga akhirnya tamu benar - benar habis. Hanya menyisakan keluarga besar.
"Mas, Chika mana ? kok gak kelihatan ?" tanya Wiwid.
"Tadi Chika udah balik ke kamar sama Mbak Fitri." jawab Hedi.
"Ooh.. Gak tidur bareng kita lagi ?" tanya Wiwid dengan polosnya.
"Ya enggaklah. Kan Ayah mau berduaan sama Bunda." goda Hedi.
"Iih.. Mas.." Wiwid mencubit lengan Hedi.
"Auw.. Sakit Yang." protes Hedi.
"Abisnya Mas nakal." balas Wiwid.
"Awas ya, Abis ini kamu gak aku kasih ampun." bisik Hedi di telinga Wiwid. Wiwid yang mendengarnya hanya bisa menelan ludah.
Apa kira - kira yang bakal dilakuin Hedi ??
...****************...
Bagi vote atau Bunga πΉ atau secangkir kopiβ ππ
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kisah cinta Sissy dan Rio.
Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. "Geng Pelangi" juga seru loh, menceritakan kisah persahabatan 4 orang gadis. Kalian juga bisa buka di bio saya ya..
Semuanya sudah tamat ya !!
Like π Komen dan Vote ββ
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
Makasih πππ
Bersambung
__ADS_1