
#Hai reader kesayangan othor.. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.
Jangan lupa bagi bunga πΉatau kopi β nya biar semakin semangat buat nulis.. #
Selamat Membaca π
...****************...
Sudah sebulan berlalu sejak pertemuan pertama Wiwid dengan dokter Hedi dan Chika. Sejak saat itu mereka semakin akrab.
Bahkan kondisi Chika pun berangsur normal. Dia mulai terbuka dengan orang lain. Hedi pun sering menjadikan Chika alasan agar bisa ketemu bahkan jalan dengan Wiwid. Seperti siang ini, Hedi mengajak Wiwid untuk menjemput Chika sekaligus makan siang bersama.
"Maaf ya ganggu waktu kamu lagi Wid." kata Hedi saat Wiwid masuk ke mobilnya.
"Gak apa Mas. Kita langsung ke sekolah Chika ya." balas Wiwid.
"Siap." Hedi langsung melajukan mobilnya ke sekolah Chika.
Wiwid dan Hedi menunggu Chika dari dalam mobil.
"Wid.. Kamu terganggu gak kalo saya ajak jemput Chika kayak gini ?" tanya Hedi.
"Gak kok Mas. Selama ada waktu, aku gak masalah. Aku juga suka dengan Chika." jawab Wiwid sambil melihat sekilas pada Hedi. Wiwid tak berani menatap langsung pada Hedi karena jantungnya berdebar dengan kencang.
"Kalo sama Ayahnya Chika suka gak ?" tanya Hedi hingga membuat Wiwid terkejut mendengarnya.
"Apaan sih Mas pertanyaan nya itu." Wiwid salah tingkah dengan ucapan Hedi.
"Serius Wid. Kamu suka gak sama aku ?" tanya Hedi lagi.
"Hhmm..."Belum sempat Wiwid menjawab Chika sudah menghampiri.
"Ayah.. Tante.." sapa Chika lalu masuk ke bangku belakang mobil.
"Hai cantik.. Gimana sekolahnya hari ini ?" tanya Wiwid lembut.
"Baik Tante. Tadi Chika bikin prakarya dari batang es krim." cerita Chika.
"Oh ya ? Chika bikin apa ?" Wiwid bertanya lagi.
__ADS_1
"Kelompok Chika bikin rumah - rumah beserta halamannya." jawab Chika sambil memeluk Wiwid dari belakang.
"Ooh.. tugasnya berkelompok ? Chika udah punya banyak teman dong sekarang ?" Wiwid mengusap pipi Chika dengan lembut.
"Iya Tante. Chika udah punya teman sekarang." jawab Chika sambil mengeratkan pelukannya.
"Duduk yang bener sayang. Nanti kamu jatuh." Hedi mengingatkan Chika.
"Iih.. Ayah sirik ya lihat Chika peluk - peluk Tante Widya." protes Chika.
Hedi hanya diam saja tak menanggapi ucapan Chika. Sedangkan Wiwid memalingkan mukanya ke jendela untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Suasana hening untuk beberapa saat hingga mereka tiba di sebuah restoran.
"Sudah sampai." kata Hedi.
"Chika ganti sandal dulu aja ya." Wiwid membantu Chika untuk membuka sepatu dan menggantinya dengan sandal.
Wiwid langsung menggandeng tangan Chika menyusul Hedi yang sudah masuk ke restoran lebih dulu.
Mereka duduk di sebuah saung dengan pemandangan sawah yang asri.
Chika bersikap sangat manja pada Wiwid.
Setelah makan, Hedi mengantar Wiwid terlebih dulu kembali ke yayasan.
"Kamu pulang jam berapa ?" tanya Hedi.
"Mungkin selepas magrib Mas. Nanti ada janji dengan klien jam 5." jawab Wiwid.
"Aku jemput ya." lanjut Hedi.
"Kok tumben mau jemput segala. Kasian Chika kalo diajak keluar rumah malam - malam." balas Wiwid.
"Aku jemput sendiri, gak sama Chika. Chika biar aku titipin ke neneknya." kata Hedi.
"Tapi Mas.. Aku gak mau ngerepotin kamu." Wiwid coba menolak.
"Gak ngerepotin kok. Sekalian aku mau ngajak kamu nonton. Mau ya ?" bujuk Hedi.
__ADS_1
Sebenarnya Wiwid ingin sekali jalan hanya berdua dengan Mas dokter kesayangannya itu. Tapi dia juga takut terlihat terlalu agresif di mata Hedi. Jadi untuk sementara Wiwid harus cukup bahagia bisa jalan bertiga.
"Gimana Wid ?" tanya Hedi lagi.
"Boleh deh Mas." jawab Wiwid singkat.
"Oke deh. Sampai ketemu nanti malam ya." kata Hedi saat mereka sudah sampai di yayasan.
"Iya Mas. Bye.." Wiwid turun dari mobil dan masuk ke dalam yayasan.
"Hhmm.. Si Duren mulai ngajakin jalan nih ? Apa dia juga suka sama aku ya ?" Wiwid terdiam di ruangannya dan mulai mengingat semua tentang kedekatannya dengan Hedi.
"Ehem.. Lagi ngelamun nih ??" Teti yang lewat ruangan Wiwid langsung meledeknya.
"Apaan sih Ti. Bikin kaget aja !" protes Wiwid.
"Cie.. yang makin deket sama duren. Gak mau cerita - cerita nih sama temennya." goda Teti.
"Gak ada yang perlu diceritain Ti." kata Wiwid.
"Yaelah.. Harusnya tuh duren jadi klien gue. Tapi gue baik hati kasih ke elo." kata Teti.
"Itu namanya rejeki gue dong. Makasih ya say." Wiwid memeluk rekannya itu.
"Pokoknya gue ikut bahagia kalo loe bahagia." Teti membalas pelukan Wiwid.
...****************...
Bagi vote atau Bunga πΉ atau secangkir kopiβ ππ
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kisah cinta Sissy dan Rio.
Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. "Geng Pelangi" juga seru loh, menceritakan kisah persahabatan 4 orang gadis. Kalian juga bisa buka di bio saya ya..
Semuanya sudah tamat ya !!
Like π Komen dan Vote ββ
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
__ADS_1
Makasih πππ
Bersambung